
...***...
Dinar yang tak sengaja lewat di depan kamar adiknya, mendengar suara seperti sedang menyanyi, penasaran Dinar mendekat dan mengintip apa yang di lakukan sang adik.
Ia mengulas senyum kala melihat Jingga menari di depan cermin sambil mencoba salah satu baju yang beberapa hari lalu Bunda Alya belikan.
Dengan bersenandung kecil, Dinar bisa melihat wajah berseri dari Jingga, ia merasa adiknya bahagia lantaran besok adalah hari di mana Ayahnya akan bebas.
Dan rencananya Jingga akan ikut menjemput bersama dirinya.
Tok! Tok! Tok!
Dinar mengetuk pintu yang membuat Jingga menoleh. "Eh_ Kak Dinar?"
"Lagi apa? Kakak ganggu nggak?" Jingga menggeleng sembari menaruh baju berwarna pink tersebut kedalam lemari.
"Nggak kok Kak," jawabnya dan mengajak Dinar untuk duduk di tepi kasur.
"Kayaknya ada yang senang banget." goda Dinar.
"Hehe_ iya dong Kak, besok kan kita mau jemput Ayah, aku nggak sabar besok." ucap Jingga penuh binar.
"Sama Kakak juga nggak sabar," saut Dinar seraya menaruh anak rambut Jingga ke belakang telinga.
"Kak, ngomong-ngomong Bunda baik ya. Mau bebasin Ayah, walaupun aku nggak tau jelasnya masalah Bunda sama Ayah tapi aku tau, Bunda marah banget sama Ayah."
"Iya benar, Bunda terlalu baik menurut Kakak. Dari awal sampai sekarang Bunda selalu baik sama kita, meskipun waktu itu Bunda pernah benci sama Kakak, tapi itu nggak berlangsung lama." menghela napas sejenak Dinar menerawang mengingat semua yang sudah mertuanya lakukan.
Sambil mengusap-usap perutnya Dinar tersenyum simpul. "Nggak Bunda aja, tapi semua di keluarga ini baik, Kakak bersyukur banget kenal dan bisa menikah dengan Kak Alvaro, karena dia kamu bisa sembuh."
"Tapi Kak, aku pengin deh Bunda izinin aku untuk tinggal sama Ayah, seandainya Ayah mau tinggal di rumah Kakak itu,"
"Aku sudah pernah bilang ke Bunda?"
"Dulu pernah, tapi Bunda belum ngasih jawaban. Bunda justru diam terus mengalihkan obrolan." jawab Jingga jujur.
"Kalau gitu, kamu minta izin sekarang. Siapa tau Bunda ngasih izin jadi besok kamu bisa tinggal sama Ayah." ucap Dinar memberi usul.
"Gitu ya? tapi kok aku takut, nanti Bunda marah gimana, aku kan juga sudah sayang sama Bunda. Aku nggak mau Bunda marah," wajah Jingga cemberut kepalanya menunduk.
"Kan belum di coba, kita nggak akan tau kalau nggak di coba lagi,"
"Jadi aku harus ketemu Bunda terus ngomong?" Dinar mengangguk kuat.
"Jangan takut, Bunda nggak akan marah. Kalau pun Bunda marah, Kakak yakin itu bukan karena kamu. Oke!" perlahan senyum gadis SMP tersebut muncul kembali, ia mengangguk yakin memberi jempol pada sang Kakak.
"Sekarang Bunda di mana?"
"Tadi Bunda ada di ruang tengah, gih kesana, mumpung ada Ayah juga." menarik napas panjang lalu di buangnya secara pelan.
Memberi kepalan tangan, Jingga bersemangat meminta izin pada Bunda Alya.
"Semangat! adiknya Kak Dinar pasti bisa," ujar Dinar memberi semangat kepada adiknya itu.
Berdiri dari samping Dinar, Jingga mulai melangkah keluar, satu persatu gadis itu menuruni anak tangga.
Berhenti ujung anak tangga, Jingga diam sejenak. Ia bahkan duduk di anak tangga paling akhir, ia sudah bisa melihat keberadaan Bundanya.
Dan suara itu berasal dari arah ruang tengah, berdiri lagi Jingga mengatur napasnya terlebih dahulu, lalu kembali berjalan ke ruang tengah.
...***...
Dua orang yang sedang bercanda di sofa menoleh. "Eh_ Jingga. Kenapa sayang? sini," mengayunkan tangannya Bunda menyuruh Jingga duduk di tengah antara Ayah Angga dan Bunda Alya.
"Belum tidur? kenapa nak, kamu nggak apa-apa kan?"
Jingga menggeleng, ia menatap Bunda Alya lekat. Jingga termenung melihat kebaikan dan ucapan lembut yang selalu Bunda Alya lakukan.
Selama tinggal bersama Ayah Angga dan Bunda Alya, ia sama sekali tidak pernah di marahin atau pun sampai di bentak.
Yang ada ia di perlakukan seperti anak sendiri, Bunda tidak pernah membeda-bedakan dirinya dengan Rani dan Qilla.
"Bunda, Ayah." panggil Jingga menoleh ke kiri dan kanan.
"Kenapa Nak? ada yang mau di omongin?" tentu Jingga mengangguk.
"Mau ngomong apa?" tanya Bunda lembut, mengusap puncak kepala Jingga.
"Aku mau izin sama Bunda dan Ayah, besok kan Ayah Hendra sudah bebas. Aku berharap Ayah mau tinggal di rumah yang Ayah Angga belikan untuk Kak Dinar, aku mau izin tinggal bareng Ayah." ujarnya sedikit terbata-bata sangking gugupnya.
Angga dan Alya sempat saling pandang, Alya sempat tersentak saat tiba-tiba Jingga memeluk dirinya.
"Bunda, sebenarnya aku sayang sama Bunda dan Ayah, kalian baik banget sama aku. Aku juga sudah anggap kalian orang tua aku, tapi aku juga pengin tinggal bareng Ayah Hendra. Dari dulu aku pengin dekat sama Ayah Hendra, tapi Ayah nggak pernah mau. Yang ada Ayah selalu bentak dan marah-marah." cerita Jingga masih di pelukan Alya.
"Bunda izinin aku kan?" tanyanya lagi, Jingga mendongak menatap Bunda Alya, lalu beralih menengok ke arah Ayah Angga.
"Tapi itu kalau Ayah Hendra mau tinggal di rumah itu sih," Ayah Angga tersenyum ketika gadis remaja itu menatapnya.
"Ayah sih terserah Bunda," jawabnya melirik sang istri.
Alya diam termenung, ia sudah sangat sayang kepada Jingga, rasa sayangnya sama seperti ia menyayangi anak kembarnya.
"Jingga yakin mau ikut sama Ayah?"
"Yakin Bunda, Jingga percaya kalau Ayah nggak seperti dulu. Kata Kak Dinar Ayah sekarang sudah berubah. Ayah sekarang sudah baik,"
"Oke, kalau Jingga yakin, dan pengin banget tinggal sama Ayah Hendra. Bunda izinkan," binar di wajah Jingga semakin terlihat.
"Beneran Bunda?" Alya mengangguk yakin.
"Yeee_ terima kasih ya Bunda," katanya seraya memeluk Alya semakin erat.
"Sama-sama sayang, tapi ingat ya. Jangan lupain Bunda, harus sering kesini. Di sini kan masih ada Kak Dinar, jadi harus sering main kesini." pesan Alya yang juga memeluk Jingga sambil mengusap usap surai gadis itu.
Di dalam pelukannya Jingga mengangguk angguk beberapa kali, mana mungkin Jingga tidak datang kerumah ini, di sini semua orang yang dia sayang berkumpul.
Sebenarnya di dalam hati Jingga ada keinginan yang pasti sulit di penuhi, yaitu mereka bisa tinggal satu rumah bersama, tapi meskipun umur Jingga masih sangat muda, ia cukup tau keadaan.
Ia juga tidak berani meminta lebih pada keluarga Airlangga, dia bisa sembuh aja sudah sangat bersyukur.
Jika bukan karena usaha Ayah Angga, mungkin dirinya sudah tidak ada lagi di tengah tengah mereka.
Itulah kenapa Jingga tidak berani meminta lebih, cukup ia minta izin tinggal bersama Ayahnya, meskipun harus berpisah dengan sang kakak.
...***...