
...***...
"Duh nak, perasaan Mama baru makan lho, tapi kok sudah lapar lagi? kamu ya yang lapar?" gerutu Dinar dengan anaknya di dalam perutnya.
"Astaghfirullah.. eh iya ya, Maafin Mama ya." ia meringis sambil terkekeh geli, perutnya terasa ngilu ketika buah hatinya menendang perutnya.
Sepertinya sang anak tak mau jika di salahkan. "Kayaknya Mama yang salah nak, ngapain coba lihatin orang makan, ya pasti ikut lapar," mendengus kesal menatap kearah televisi yang menayangkan acara makan makan.
"CK, makan apa ya enaknya?" mengambil ponsel Dinar mulai membuka aplikasi, berniat memesan makanan online.
"Ahh.. pengin semua," katanya saat begitu banyak makanan yang menggoda.
Ia jadi bingung sendiri ingin memesan apa, tapi jika di pikir. Baru dua puluh menit yang lalu dia makan, itu pun sudah banyak. Masa iya dia benar-benar memesan makanan lagi.
"Ini kenapa sih? kok Bunda dengar ada yang lagi ngomel-ngomel?" kata Bunda Alya yang mendengar menantunya berbicara sendiri.
"Hehe.. Bunda, ini lho tiba-tiba Dinar pengin makan sesuatu lagi gitu, pengin ngemil padahal kan baru aja makan."
Bunda Alya ikut terkekeh, lalu duduk di samping sang mantu.
"Memangnya mau makan apa?"
Dinar seperti sedang berpikir, menaruh jari telunjuknya di dagu. "Nggak tau Bun, yang manis? atau yang gurih, enak semua kayaknya." ucap Dinar menatap Bunda Alya dengan senyum lebarnya.
Alya tertawa pelan, mengusap rambut Dinar dengan sayang. "Gimana kalau kita ke cafe Al aja, kita makan di sana?" usul Alya.
"Oh iya ya, ya udah yuk Bunda." ajak wanita itu bersemangat.
Tanpa diminta, ataupun di suruh Dinar beranjak menuju kamar untuk bersiap-siap. Alya terkekeh menggelengkan kepalanya melihat tingkah menantunya yang sedang meningkat daya napsu makannya.
"Yuk Bunda," senyum Bunda mengembang.
Dinar semakin terlihat cantik, Alya yang seorang perempuan saja begitu terpana, aura Dinar semakin terpancar saat hamil.
"Bunda?" tegur Dinar melambaikan tangan di depan Bunda Alya.
"Eh.. iya yuk sayang," Alya segera mengajak Dinar pergi.
Ia memutuskan untuk menyetir sendiri, Di sepanjang perjalanan Dinar selalu tersenyum bahkan Alya bisa mendengar jika sang mantu bersenandung kecil.
"Senang banget kayaknya, mantu Bunda?"
"Hehe.. iya Bunda. Selain nggak sabar mau ke cafe, nggak sabar ketemu Al." jawab Dinar malu-malu.
"Ciye.. yang kangen. Baru juga nggak ketemu beberapa jam,"
"Cucu Bunda yang kangen. Bukan Dinar kok," elaknya namun pipinya bersemu merah.
"Ya ampun.. jangan nyalahin dedeknya dong, kan kasian." kata Bunda mengusap perut Dinar.
"Hehe.. nggak kok nak ya, maafin Mama," ujarnya meminta maaf pada Anak, ia juga ikut mengusap usap perutnya.
"Oh iya, besok lusa Ayah kamu bebas. Tapi Bunda nggak tau dia mau kerumah atau nggak?"
Dinar melunturkan senyumnya. "Iya Bunda, nggak apa-apa. Yang penting Ayah sudah bebas dan sembuh. Aku sudah bersyukur," yang terpenting Ayahnya sudah bisa keluar dari penjara itu sudah cukup, namun ia tetap berharap jika Ayahnya mau tinggal di rumah miliknya yang selalu kosong.
...***...
Sekitar dua puluh menit, Alya akhirnya sampai di parkiran Cafe milik suaminya yang kini sudah beralih menjadi milik sang putra.
Dinar sudah tidak sabar untuk masuk, dan bertemu dengan Alvaro.
Ketika masuk keduanya melihat begitu banyak pengunjung yang datang, bahkan terlihat sudah tidak ada lagi tempat kosong.
"Yahh Bunda, Kayaknya penuh deh."
"Kalau gitu kita keruangan Alvaro aja," bibir Dinar maju.
Wanita itu hanya mau duduk di meja pengunjung, bukan di ruangan Alvaro.
Paham dan mengerti apa yang di inginkan Dinar, Alya bergerak cepat mencarikan tempat yang kosong.
"Kebetulan ketemu kamu, kira-kira ini nggak ada meja yang kosong lagi ya? kasian Dinar kalau terlalu lama berdiri."
Karyawan itu terlihat celingak-celinguk mencari tempat yang masih kasih kosong. "Itu Bu, di sebelah sana. Kebetulan orangnya sudah pergi," katanya seraya menunjuk ke meja yang di maksud.
"Alhamdulillah, makasih ya Na." ucap Alya pada karyawan yang bernama Mina.
"Sama-sama Bu, ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Nggak usah, kita pesannya nanti aja."
"Baiklah kalau gitu saya permisi dulu ya Bu, Mba." pamit Mina pada Dinar dan Alya.
"Ayo sayang, kamu harus cepat duduk. Pasti pinggang kamu sudah mulai pegal," Dinar mengangguk mengiyakan ucapan mertuanya, dan memang kenyataannya pinggang Dinar tidak bisa jika terlalu banyak berdiri.
"Aku aja Bunda." Dinar mencegah Alya yang ingin menarikan kursi untuk dirinya, ia tidak enak dan malu.
"Udah nggak apa-apa, sini duduk." katanya seraya menuntun Dinar duduk.
"Kamu tunggu di sini ya, Bunda mau kebelakang sebentar."
"Iya Bunda." Dinar mengulas senyum.
"Lho Bunda? ngapain di sini?" tanya Al ketika melihat Bundanya yang dia lihat berada di dapur.
"Bunda kesini bawa seseorang," alis Alvaro bersatu bingung.
"Seseorang? siapa Bunda?"
"Ada pokoknya, cantik lagi. Dan dia juga kangen banget sama kamu," Alvaro menggaruk tengkuknya sambil berpikir.
Bundanya bilang cantik, berarti orang itu adalah wanita, dia jadi takut bertemu dengan seseorang itu, ia takut menjadi salah paham dan membuat masalah dengan istrinya.
"Yuk, kita ketemu dia."
"Siapa sih Bunda, Nggak ah. Al banyak kerjaan," tolak Al sebisa mungkin.
"CK, kamu ini lho. Di kangenin kok nggak mau, ayo keburu ngambek dia." menarik paksa tangan sang putra Bunda berhenti di dekat tempat kasir.
"Tuh orangnya, cantik kan? dia lagi kangen sama kamu." menunjuk kearah Dinar Bunda berbisik.
Senyum Al mengembangkan, sekaligus bernapas lega, dia pikir orang yang Bunda maksud siapa.
Ternyata istrinya sendiri. "Sudah sana, Dinar lagi pengin sesuatu, sama ngeluh kangen kamu. Buruan sana," Alvaro terkekeh geli, tangannya memberi hormat pada Bundanya dan kecupan di pipi.
Perlahan Alvaro mendekati Dinar yang belum menyadari jika dia sudah berada di belakangnya.
"Sabar ya Nak, Mama juga bingung nih mau yang mana? enak semua kayaknya," monolog Dinar pada anaknya.
"Lagian kamu kok suka manis sih Nak? ntar Mama makin manis lho," di belakang Alvaro susah payah menahan untuk tidak tertawa.
Kenapa istrinya semakin menggemaskan seperti ini, mengatur deru napasnya.
Alvaro menunduk mendekatkan wajahnya ke kepala sang istri, ia lalu berbisik tepat di telinga kiri Dinar.
"Ada yang bisa saya bantu." kata Al.
Dinar terlonjak dan refleks menoleh yang membuat wajah mereka begitu dekat.
Wanita itu sempat terpaku menatap wajah tampan suaminya yang tersenyum manis kepadanya.
"Sayang!" pekik Dinar lalu perempuan itu berdiri dan memeluk Alvaro erat.
Dengan senang hati Alvaro membalas pelukan Dinar, bahkan ia juga memberi kecupan di kening sang istri.
Beberapa pengunjung ada yang melihat adegan romantis tersebut, membuat mereka merasa iri dan ingin seperti Alvaro dan Dinar.
...****...