Alvaro

Alvaro
Bab 132. Akhirnya bisa memaafkan



...***...


Hari ini adalah hari di mana Dinar akan bertemu dengan Ayahnya, wanita itu ingin bertanya sekaligus membujuk ayahnya untuk tidak pergi keluar kota dan berpisah dengan dirinya.


Alvaro berada di samping Dinar, tersenyum geli tangannya mengacak rambut istrinya gemas, sedari tadi wanita itu terus saja tampak membuang napas secara kasar.


"Rileks dong sayang, kayak mau ketemu siapa aja." ledek Alvaro.


Dinar melirik sinis kearah suaminya dan mendengus pelan. Alvaro tidak tau saja, bagaimana rasanya jantung berdetak cepat.


"CK, kamu mah nggak tau apa yang aku rasain." ujarnya galak.


"Emangnya apa?"


"Tau ah! pikir aja sendiri." Alvaro kembali terkekeh, ingin menyaut namun sayangnya petugas sudah memberitahu kalau Ayah Hendra sudah bisa di temui.


Tubuh Dinar bergetar, kini ia bisa melihat keadaan sang Ayah, dengan tubuh kurus wajah pucat dan bibir terlihat kering.


Dinar tak bisa jika tak menangis. "Ayah_" panggil Dinar pelan dengan suara bergetar.


Hendra maju mendekati putrinya dan pria itu ambruk berlutut di hadapan Dinar dan Alvaro. "Ayah!" pekik Dinar dan Alvaro bersamaan.


"Maafin Ayah, Ayah minta maaf atas segala kesalahan Ayah. Masih Ayah Dinar," ucap Hendra menangis tersedu di bawah kaki wanita hamil itu.


ingin ikut berlutut namun sayangnya tidak bisa, perut yang kian membesar mempersulit Dinar melakukannya.


"Ayah berdiri, Ayah jangan seperti ini." Alvaro meminta Hendra untuk bangun, namun pria itu justru menggeleng dan menolak uluran tangan menantunya.


"Ayah, Dinar mohon jangan seperti ini." ucap Dinar di sela tangisannya.


"Ayah pantes ngelakuin ini, Ayah banyak salah sama kamu Nak. Ayah tidak pantas mendapatkan maaf dari kamu,"


"Ayah nggak boleh ngomong gitu, aku udah maafin Ayah. Dinar nggak marah sama Ayah, pliss bangun Ayah," mohon Dinar.


Tangan kirinya sembari mengusap perutnya yang tiba-tiba terasa keram.


Dengan bujukan Alvaro, akhirnya Hendra mau bangun dan kini sudah duduk di kursi menghadap ke mereka.


"Ayah apa kabar?" tanya Dinar serak.


Tersenyum tipis beliau menjawab. "Seperti yang kamu lihat, tapi Alhamdulillah Ayah jauh lebih baik." katanya.


"Alhamdulillah, Dinar senang dengarnya."


Hening hingga beberapa menit, Dinar menoleh pada Alvaro yang memberi senyum dan anggukan kecil.


"Ayah, sebentar lagi kan Ayah keluar," jeda sejenak. "Ayah tau kan? kalau Bunda Alya yang mencabut tuntutannya."


"Iya Ayah tau, dan Ayah merasa malu, kenapa Angga dan Alya begitu baik pada Ayah? padahal Ayah sudah sangat jahat kepada kalian. Rasa-rasanya Ayah nggak pantes dapat ini semua, Angga juga begitu baik sampai mau membiayai pengobatan Ayah, sampai Ayah sembuh." ujar Hendra mengusap matanya yang berair karena air mata.


"Seharusnya, kalian biarkan Ayah mati, buat apa kalian ngelakuin ini? Ayah benar-benar malu!"


"Ayah!" sentak Dinar. "Ayah nggak boleh ngomong gitu. ingat Ayah masih punya Jingga, dia masih butuh sosok seorang Ayah, dan dia ingin sekali bertemu dengan Ayah. Dan Ayah harus tau, semangat Jingga untuk sembuh dari penyakit jantungnya adalah Ayah, Jingga mau hidup lebih lama agar bisa bersama Ayah,"


Dinar mengusap dadanya yang terasa sesak, ia bicara tanpa jeda dan tarikan napas. "Dinar mau Ayah jangan pergi, setelah bebas nanti. Ayah harus tinggal di rumah milik Dinar dari Ayah Angga," pinta Dinar tanpa kecualian.


"Dinar nggak mau penolakan, ini demi Jingga." katanya lagi lalu segera mengajak Alvaro pergi.


"Aku nggak apa-apa, cuma keram dikit. Maaf aku nggak bisa lama-lama, nggak tau kenapa setiap melihat Ayah Hendra aku keingat Ibu, aku kangen Ibu." ujarnya parau lalu memeluk Alvaro erat.


Alvaro diam sembari mengusap punggung Dinar, ia bingung dan tak tau harus bicara apa.


...***...


"Assalamu'alaikum." salam Alvaro dan Dinar.


"Wa'alaikumsalam," jawab Ayah Angga dan Bunda Alya di ruang tengah.


"Kok cepat? kalian sudah ketemu?" tanya Bunda Alya.


Alvaro mau pun Dinar belum menjawab, Al sedang membantu Dinar duduk dan memberi bantal di punggung sang istri.


"Udah," jawab Al usai duduk di samping Dinar.


"Terus gimana? mau?" Alvaro dan Dinar saling pandang sejenak.


"Kita belum tau Bun, kita doain aja supaya Ayah Hendra berubah pikiran,"


"Amin," jawab Ayah Angga.


Dinar menatap Bunda Alya dengan teduh, wanita itu seperti ingin bicara, tapi entah kenapa rasanya tercekat di tenggorokan dan sulit di keluarkan.


"Kamu kenapa Nak? kok ngeliat Bunda seperti itu?" tanya Bunda Alya yang ternyata peka.


"Kenapa Bunda tiba-tiba mau memaafkan Ayah? dan mau mengeluarkan Ayah dari penjara? bahkan Bunda juga ngelarang Ayah pergi keluar kota?" sontak pertanyaan itu membuat kedua pria di sana menatap Alya.


Mereka juga ingin lebih tau dan penasaran, apa yang membuat Bunda Alya berubah pikiran.


Bunda tak lekas menjawab, ia menunduk memainkan jari Ayah Angga yang sedang dia genggam.


Menarik napas panjang terlebih dahulu, Bunda menatap satu persatu orang yang ada di sana. "Ini karena Jingga," semua tampak mengerutkan kening.


"Maksudnya?" beo Dinar bingung.


"Waktu itu Bunda pernah nggak sengaja, melihat Jingga sholat, dan Bunda bisa mendengar apa yang gadis itu minta." menjeda sejenak Bunda Alya menghela napas.


"Jingga selalu berdoa, untuk di persatuan oleh Ayahnya, sudah cukup dia di tinggal Ibu. Dan Jingga ingin hidup bersama Ayahnya, Jingga juga meminta kesembuhan untuk Ayahnya."


"Dari situ hati Bunda ikut sedih, Bunda nggak bisa membayangkan hidup kalian dulu tanpa orang tua. Sejahat jahat ayahnya, jingga masih ingin bertemu atau bersama Ayahnya, padahal Ayahnya sama sekali tidak peduli dengan kalian."


"Kalau Jingga saja bisa memaafkan Hendra, kenapa Bunda nggak? justru Bunda merasa malu karena setua ini nggak bisa berpikir seperti Jingga, anak itu benar. Kita cuma manusia biasa, nggak seharusnya menghakimi atau memberi hukuman pada sesama manusia. Biar semua yang terjadi Allah yang membalas,"


"Sejahat jahatnya Hendra, Allah masih mau memaafkan dia, memberi dia kesehatan kembali. Sampai akhirnya Hendra taubat dan meminta maaf kepada kita semua," ucap Alya di pelukan Angga, wanita itu sudah menangis tersedu.


"Bunda yang malu karena masih sulit memaafkan Hendra, tapi inshallah Bunda benar-benar sudah memaafkan Ayah kamu, Bunda sudah tidak lagi mengingat kejadian dulu. Kita buka lembaran baru, kita susun dari awal agar lebih baik, dan Bunda berharap suatu saat nanti kita bisa berkumpul bersama." pinta Alya yang sangat bersungguh-sungguh.


"Te_terima kasih Bunda, terima kasih." suara Dinar tercekat, ia sama seperti Bunda Alya yang menangis di dalam pelukan suaminya.


Medlskipun begitu hatinya bahagia, paling tidak keinginan adalah sama yaitu berkumpul bersama keluarganya.


...***...