
...~•~...
Pukul tujuh malam, Alvaro dan Dinar sudah terlihat tampan dan cantik, malam ini keduanya akan makan malam bersama dengan Aron dan Amanda.
Tempat sudah Alvaro siapkan, dan kini ia hanya perlu berangkat. "Sayang, malam ini kamu cantik banget sih, gemas tau aku lihatnya." goda Al saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Apaan sih, aku biasa aja kok, kamu mah berlebihan." sungut Dinar tapi sebenarnya tengah malu.
Alvaro terkekeh pelan, matanya tetap fokus menghadap kedepan, tangan kirinya tak sedikit pun terlepas dari tangan istrinya. Dengan menyetir menggunakan tangan satu lelaki itu tetap bisa fokus.
"Gimana sih, aku ngomong apa adanya lho sayang, nggak berlebihan. Masa suami muji istri di bilang berlebihan," dumel Alvaro berpura-pura kesal.
"Ck_ iya maaf, lagian kamu sih suka banget godain aku. Aku tuh malu tau. kalau kamu ngomong gitu," aku Dinar, pipinya pun kian memerah.
"Tapi aku suka, gimana dong." kelakar Alvaro yang sukses mendapatkan geplakan dari sang istri.
Menggandeng tangan Alvaro ia berjalan pelan keluar dari kamar, mereka ingin pamit kepada Ayah dan Bunda.
"Kalian jadi pergi? MashaAllah.. mantu Bunda cantik banget," puji Alya ketika melihat kecantikan menantunya.
"Tuh Bunda juga bilang cantik kan, berarti aku nggak berlebihan." Dinar mendengus memukul lengan Alvaro pelan.
Dia kan jadi malu. "Kenapa sih?" kepo Bunda Alya.
"Ini lho Bun, mantu Bunda yang cantiknya subhanallah ini. Tadi bilang aku berlebihan, padahal kan memang cantik." adu Al pada Bundanya.
"Ihh.. kamu apaan sih, malu tau." rengek Dinar menyembunyikan wajahnya di balik tubuh suaminya.
"Kamu memang cantik kok, kita nggak bohong atau berlebihan, mungkin karena kamu hamil jadi aura nya beda." ujar Alya.
"Ya udah, Bunda kita pergi dulu ya, Ayah mana?"
"Ayah lagi teleponan di belakang, nanti biar Bunda sampaikan aja, kalian hati-hati ya. Salam sama Amanda, bilang main kesini kapan-kapan." pesan Bunda untuk Amanda.
"Siap, kita pergi dulu ya Bun. Assalamu'alaikum." Alvaro meraih tangan Bundanya lalu ia cium.
Di susul Dinar yang ikut mencium tangan mertuanya.
Saat di perjalanan menuju restoran, Alvaro tak pernah melepas genggaman tangannya dari tangan mungil sang istri.
Meskipun begitu, lelaki itu tetap fokus pada kendaraannya.
"Al," panggil Dinar.
"Hmm?" Alvaro menoleh sekejap sebelum akhirnya menatap kedepan lagi.
"Siapa yang punya ide buat ngedate bareng kayak gini? kok bisa sih?" Dinar memang penasaran saat pertama kali Alvaro mengatakan jika, mereka akan makan malam bersama Aron dan Amanda.
Dia hanya bingung sekaligus heran, tumben-tumbenan mereka mengajak makan bersama, padahal dulu kan tau sendiri seperti apa mereka.
"Aku sayang, karena aku pikir. Kita kan sudah nggak ada masalah lagi sama Aron dan Amanda, terus kenapa nggak. kalau kita makan bersama, menjalin silaturahmi itu baik. Semakin kita sering baik kepada orang lain, maka banyak juga teman yang kita dapatkan." ucap Al sangat tenang.
"Iya sih, tapi aku masih nggak habis pikir aja. Kita bakal satu meja sama orang yang dulu buat masalah untuk kita." Alvaro tersenyum simpul, semakin mengeratkan genggamannya.
"Jangan menaruh dendam, mereka sudah menjadi orang baik. Jadi kita lupain kejadian tempo kemarin," Dinar membalas dengan senyuman lalu mengangguk pelan.
Mengiyakan ucapan suaminya.
...***...
Alvaro melingkarkan tangan kanannya di pinggang Dinar, menuntun pelan menuju meja yang sudah di isi oleh Aron dan Amanda.
"Sorry telat ya?" kata Al saat sudah di hadapan keduanya.
"Nggak kok, kita juga baru nyampe." jawab Aron.
"Ya ampun Dinar.. kamu hamil makin cantik tau. pipi kamu tembem pengin aku cubit." sontak Dinar memegang kedua pipinya.
"Jadi. Aku gemuk?" ujar Dinar sedikit meninggi, matanya pun mulai berkaca-kaca.
"Hah? Ng..nggak gitu Din," Amanda menggaruk keningnya.
Ia bingung, salahnya di mana? dia justru memuji bumil tersebut, bukan malah meledek.
Sedangkan Alvaro justru menggaruk tengkuknya yang tak gatal, alamat tak jadi makan kayak.
"Sayang duduk yuk. Kita makan ya, katanya kamu tadi lapar." kata Al mengalihkan topik.
Aron dan Amanda yang mengerti pun ikut duduk dan mulai Alvaro memanggil pelayan di restoran tersebut lalu memesan beberapa makanan dan minuman.
Karena perasaan seorang Ibu yang sedang mengandung tidak bisa di prediksi, kini Dinar menjadi banyak diam, wanita hamil memang sering sensitif hatinya, jika orang lain menganggap biasa saja, tapi tidak untuk mereka.
Apapun yang di dengar dan di lihat akan terasa menyesakan di hatinya. "Maaf ya Din, aku nggak ada maksud ngomong gitu kok." Amanda mengusap punggung tangan Dinar, gadis itu sangat menyesal telah membuat hati Dinar tersakiti.
Dinar menatap bola mata Amanda begitu lekat, selang beberapa menit, wanita cantik tersenyum lembut.
Membalas usapan di tangannya. "Nggak apa-apa, kamu nggak salah. Akunya aja yang baperan," ujar Dinar seraya tersenyum.
Di samping Dinar, Alvaro yang melirik ikut tersenyum. Ia senang istrinya tak lagi badmood karena ulah sahabatnya itu.
Tidak lama, pesanan yang Alvaro pesan sudah datang. "Ehmm.. harumnya bikin lapar," ucap Dinar menghirup aroma makanan yang sedang di hidangkan oleh pelayan.
"Iya.. kamu tau aja Al, kalau aku lagi lapar. pesannya banyak," saut Amanda lalu terkekeh geli.
Alvaro hanya tersenyum, ia mendekatkan wajahnya di sisi samping Dinar. "Selamat makan sayang," bisik Al.
Dinar pun menoleh yang membuat jarak mereka begitu dekat, Dinar ikut tersenyum lalu menjawab. "Selamat makan suamiku.." cicit Dinar.
Aron dan Amanda mengulas senyum melihatnya, tak ingin kalah. Aron mengambil potongan ayam kecil, lalu ia taruh di atas piring sang kekasih.
Amanda menoleh, pipinya bersemu merah setiap mendapatkan perhatian dari Aron. "Thank you.." Aron mencolek ujung hidung kekasihnya.
"Makan yang banyak, biar nggak kecil kayak lidi." Amanda sempat memanyunkan bibir, namun hanya sekejap lalu di gantikan dengan tersenyum senang.
Amanda awalnya kesal jika Aron meledek tubuhnya yang kecil seperti lidi, tapi kini tidak.
justru ia senang, karena menurutnya itu adalah panggilan sayang yang Aron berikan untuk dirinya.
Malam ini, keduanya begitu bahagia tawa mereka terdengar di penjuru restoran tersebut.
Tidak ada lagi amarah, dendam, ataupun sakit hati.
Semua sudah hilang, kini yang ada hanya perasaan bahagia dan kasih sayang, yang di mana mereka sudah melupakan kejadian di masa lalu, Alvaro, Dinar, Aron dan Amanda tidak mau lagi mengingat tentang apa yang sudah terjadi dulu.
Kini keempatnya berharap, persahabatan mereka bisa terjadi sampai tua dan bahkan sampai tuhan mengambil nyawa mereka.
...***...