Alvaro

Alvaro
Bab 56. Perhatian



...~•~...


Tertunduk lesu Dinar memperhatikan Alvaro yang masih saja mendiamkan nya, semenjak kejadian semalam.


Alvaro banyak diam, mulai dari sholat shubuh, meskipun tak ikut sholat tapi Dinar ikut bangun dan memperhatikan suaminya itu, sarapan bersama juga mereka hanya bicara satu atau dua kata, bahkan kini mereka sedang bersiap-siap balik ke Jakarta pun Alvaro masih diam,


Ya. memang Al tak sepenuhnya mendiamkan Dinar, hanya berkata seperlunya saat ketika gadis itu bertanya.


Tapi tetap saja, sesak dan nyeri di rasakannya, semenjak kenal dan menikah dengan Alvaro, baru kali ini dia di abaikan.


Kejadian semalam juga bukan keinginannya, apakah itu salahnya.


Dinar mengambil sneaker putihnya, menyusul Al yang sedang memakai sneaker, duduk di tangga teras Villa. Cowok itu menoleh sekejap lalu fokus lagi pada tali sepatunya.


Tak boleh di biarkan. Dinar tak ingin di abaikan seperti ini, lebih baik Al marah-marah ketimbang mendiamkan nya seperti ini.


Sungguh menyiksa batinnya.


Meraih tangan Alvaro. ketika cowok itu sudah berdiri usai mengikat tali sepatunya, dalam setengah membungkuk mereka saling adu pandang.


"Kamu marah soal tadi malam?" suara Dinar sudah parau, mata beningnya pun sudah berkaca-kaca.


"Aku minta maaf, aku beneran nggak tau kalau jadwal kedatangan tamu aku tadi malam." katanya lirih, pipi putihnya sudah basah air mata.


Alvaro menghela napas, berlutut di hadapan Dinar. "Aku nggak marah sayang," ujarnya sangat lembut, menghapus air mata yang kian deras.


"Kalau nggak marah. kenapa kamu diamin aku!" sewotnya, bibirnya pun sudah maju.


Alvaro ingin tertawa rasanya, tapi tak mungkin dia lakukan, Bisa bahaya nanti, dia tahu dan paham perempuan kalau lagi kedatangan tamu, bisa tidak stabil.


Dengan penuh kesabaran, Al menangkup kedua pipi gadis itu. "Aku beneran nggak marah, perasaan kamu aja kali," Dinar mencoba memandang mata cowok itu, mencari kejujuran di sana.


Menarik tubuh suaminya Dinar memeluk erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami, tempat yang selalu memberikannya kenyamanan.


"Jangan diamin aku lagi y," mohonnya. "Aku nggak suka, lebih baik kamu marah-marah. Asal jangan kayak tadi,"


"Iya sayang, maaf." jawab Al penuh kesabaran, menepuk punggung dan mengusap kepala belakang istrinya.


Mengurangi pelukannya, Alvaro tersenyum. "Yuk berangkat, nanti keburu sore, sampai sana." menghapus air mata dan juga merapikan rambut Dinar yang berantakan.


Tak mengeluarkan suara, hanya mata gadis itu terus menyorot ke wajah tampan lelaki di hadapannya. "Janji jangan diam." Alvaro terkekeh.


"Iya sayang__" gemasnya. Sangking gemasnya dia membingkai wajah Dinar dan menghujani kecupan di mana mana. Tanda jika cowok itu begitu menyayanginya.


Pukul sekitar sembilan pagi, Alvaro berangkat menggunakan mobil sport miliknya, yang dia minta kemarin untuk di bawa ke tempatnya berada.


Tak ingin ngebut, Al mengendarai kuda besi begitu santai. di sampingnya ada gadisnya yang mulai selalu tersenyum, setelah tadi berderai air mata.


Mengingat hal itu, Alvaro sepertinya ingin tertawa, dia sebenarnya bukan marah pada istrinya. Hanya kesal pada dirinya sendiri, dia lelaki normal.


Sebelumnya Alvaro sudah berekspektasi jauh, bayangan akan malam panjang bersama istrinya sudah terbayang di benaknya.


Dan ketika semua itu gagal, rasa kecewa sudah pasti ada, Dia menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu berharap jauh, eh ternyata semua itu tidak jadi. dan pada akhirnya dirinya sendiri yang tersiksa harus mandi di tengah malam.


...***...


Terlalu fokus menyetir mobil, cowok itu tidak menyadari perubahan dari Dinar, saat ia menengok melihat gadisnya.


Panik Al terpaksa menepikan mobilnya, menyampingkan tubuhnya. "Sayang kamu kenapa?" paniknya meraih tangan Dinar yang terasa dingin.


Perlahan membuka matanya, Dinar berkata. "Nggak apa-apa, biasa. Perut aku sakit setiap bulan." jawabnya pelan, bahkan seperti bisikan.


"Biasanya obatnya apa?" Dinar memandang sayu Al, gadis itu tersenyum tipis melihat wajah khawatir suaminya.


Dinar menggeleng, "Nggak di apa-apain. ntar juga sembuh sendiri, tapi butuh waktu." jawabnya.


Alvaro tak tega, apalagi melihat Dinar meremas perutnya dengan tangan kiri mengigit bibir bawahnya menahan sakit, sementara tangan kanannya masih dia genggam, basah dan dingin itu yang Alvaro rasakan di telapak tangan kanan istrinya.p


Berpikir cukup lama Al melajukan kembali mobilnya, ia mampir ke supermarket. "Tunggu di sini sebentar ya, aku masuk."


"Mau ngapain?" Alvaro tak menjawab, cowok itu hanya tersenyum mengacak rambut Dinar.


Tak mau ambil pusing, Dinar tak berkomentar lagi. Meringis memegangi perutnya, selang beberapa menit. pintu di sampingnya terbuka, muncul Alvaro yang langsung berlutut di sampingnya.


Cowok itu menyodorkan satu gelas kecil teh hangat. "Di minum, siapa tau bisa berkurang," Dinar menerima gelas tersebut.


meminum perlahan, matanya mengamati gerak-gerik Alvaro yang sedang membuka sesuatu, Yaitu plester pereda nyeri.


Alvaro setengah berdiri, sedikit menutup pintu agar tidak terlihat dari luar, cowok itu ingin membantu Dinar memasang benda tersebut.


"Aku bisa pasang sendiri." cegah Dinar ketika Alvaro ingin menyibak kaosnya.


"Aku suami kamu. nggak usah nolak!" ujar Al datar.


Seketika Dinar diam, tak ingin membuat suaminya marah lagi, lebih baik menurut.


Dia merubah jok mobilnya setengah berbaring. agar mudah memasang plester itu, pasrah dan hanya bisa diam, yang bisa Dinar lakukan.


Ketika Alvaro mulai menaikkan kaosnya, memperlihatkan kulit putih perutnya, jantungnya begitu berpacu, antara malu dan gugup.


Dalam sekejap Alvaro sudah memasang plester tersebut di perut bagian bawah, tempat di mana rasa nyeri itu berada.


Menegakkan lagi kursinya, hingga jarak wajah mereka begitu dekat. Alvaro tak langsung keluar, dia sempat memperhatikan wajah Dinar yang mulai membaik.


"Makasih," ucap Dinar tulus.


Entah keberanian dari mana, Dinar mengecup lebih dulu bibir Al, dia hanya ingin berterima kasih, suaminya begitu perhatian, Dinar sangat tau jika cowok itu sedang khawatir kepadanya.


Tersenyum lembut Alvaro membalas kecupan di kening, sebelum cowok itu memakaikan sabun pengaman, mencintai mobil lalu duduk kembali di belakang setir.


Alvaro siap menjalankan mobilnya kembali. "Perjalanan masih jauh, tidur dulu gih." kata Al menepuk pundaknya, kode agar gadisnya merebahkan kepalanya di pundaknya.


Selain karena ngantuk, Dinar juga ingin meredakan nyerinya jika di buat tidur, ia pun menurut. meletakan kepalanya di pundak Alvaro, sebelumnya Dinar sudah menghabiskan teh yang suaminya beli.


Alvaro adalah manusia yang begitu menghargai perempuan, karena apa. menurutnya perempuan adalah makhluk tuhan yang begitu istimewa.


Mereka begitu kuat, dan sabar. merasakan sakitnya perut mereka setiap bulannya. Di tambah ketika perempuan itu hamil dan melahirkan.


Sungguh perjuangan perempuan lebih berat, dari pada kaum laki-laki.


...***...