Alvaro

Alvaro
Bab 113. Pergi.



...******...


"Sayang, kita beneran pindah?" Dinar terus saja mengoceh dengan pertanyaan yang sama, ketika suaminya itu tengah memasukkan beberapa baju milik keduanya.


"Iya sayang," ucap Al gemas. "Aku sudah memutuskan ini jauh-jauh hari kok, pokoknya kita balik setelah Bunda sadar, kalau kamu nggak salah dalam masalah ini." ucap Alvaro lagi, berusaha sabar.


"Terus, gimana kalau Bunda makin nggak suka sama aku?" Al menghentikan pergerakannya, berbalik badan menatap Dinar yang tengah duduk di tepi kasur.


"Kamu nggak usah khawatir ya, insyallah semua baik-baik aja. Kalau pun memang seperti itu, aku yakin Bunda nggak sepenuhnya, nggak suka sama kamu." menghela napas pelan meyakinkan istrinya, lalu Al pun melanjutkan kegiatannya lagi.


Dinar pun hanya bisa mengangguk pasrah, ia harus menuruti keinginan suaminya, meskipun dalam hati ia tidak setuju dan takut.


Sudah selesai beres beres, dan hanya beberapa baju yang dia bawa, setelah itu ia segera mengajak Dinar pergi.


Keluar dari kamar, mereka sudah di sambut oleh Ayah Angga, rencana Alvaro kali ini tidak di ketahui oleh Bundanya.


Alvaro langsung berniat pergi, tanpa mau mendengar pendapat dari orang lain, ataupun memberitahu Bundanya, sebab. Jika dia mengatakan rencananya itu, Bund Alya akan melarangnya.


"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu?" Alvaro mengangguk mantap, memberi senyum tenang kepada Ayahnya.


Ayahnya menghela napas berat. "Baiklah, kalau memang ini sudah jadi keputusan kamu, Ayah nggak bisa nolak, urusan Bunda. Biar Ayah yang ngurus,"


"Terima kasih Yah, kalau gitu kami pamit," Alvaro dan Dinar mencium punggung tangan Ayah Angga lalu mereka pun pergi.


Alvaro yang sedang sibuk menyetir menoleh kepalanya kesamping, ia melihat Dinar tengah merenung. "Udah dong sayang, jangan ngelamun gitu. Pokoknya semua bakal aman-aman aja, aku janji sama kamu."


""Iya Al, semoga ya." gumam wanita itu.


"Sini aku peluk," Dinar menurut, ia memeluk Alvaro dari samping, dan lelaki itu menyetir dengan satu tangan.


Untung saja, jarak rumah orang tuanya dengan rumah yang ingin ia tempati tidak terlalu jauh.


Rumah yang Alvaro tempati ini, adalah rumah yang Ayah Angga belikan untuk Dinar, berhubung tidak ada yang menempati, maka Al memilih rumah tinggal di sana sementara waktu.


"Assalamu'alaikum," salam Al yang di ikuti Dinar di belakangnya.


Mereka masuk kedalam rumah tersebut, Dinar menghela napas mengamati rumah, yang sudah lama tidak dia tempati.


Walaupun dirinya tidak lama tinggal di rumah ini, tapi cukup membuat Dinar memiliki momen berharga, dan yang pasti momen bersama adiknya, yaitu Jingga.


Di rumah ini lah, Dinar bisa melihat bagaimana bahagianya Jingga yang tinggal di rumah besar itu.


"Sayang, kok bengong sih." perempuan itu mengulas senyum lalu menyusul Alvaro yang lebih dulu masuk kedalam kamar.


Lagi dan lagi, Dinar terdiam memandangi kamar tersebut, kamar di mana ia di lamar Alvaro secara mendadak, mengikat hal itu membuatnya tanpa sadar tersenyum tipis.


Ia tersentak ketika tangan suaminya melingkar di perutnya. "Istri aku lagi mikirin apa? sampai senyum-senyum gitu? ehmm."


Dinar membalikkan tubuh, melingkarkan tangannya di leher Alvaro. "Hehehe_ aku lagi ingat kamu ngajak aku nikah, kamu ngajakin aku nikah kayak tahu bulat aja, dadakan tau nggak!"


"Kalau jauh-jauh hari kenapa ngomongnya dadakan gitu?"


"Aku takutnya kamu nolak, tapi buktinya kamu sempat nolak kan?"


"Itu karena aku kaget aja, kamu nggak ada hujan nggak ada angin, ngajakin nikah," sewot Dinar namun wajahnya seperti menahan malu, pipinya sudah begitu merah.


...***...


Di rumah Airlangga, Bunda yang mengetahui putranya pergi dari rumah begitu marah, ia bahkan sempat memarahi suami dan pekerja di sana.


Angga mampu menghela napas lelah, apalagi istrinya itu, lagi lagi menyalahkan Dinar sebagai penyebab Alvaro memilih keluar dari rumah.


"KAMU TENANG DIKIT BISA NGGAK!!" bentak Angga begitu keras, bahkan wanita itu terlonjak kaget.


tersadar telah menyakiti hati istrinya, Angga mengusap wajahnya dengan kasar. "Maaf sayang, bukan maksud aku bentak kamu, tapi aku cukup pusing hadapi masalah ini." ujar Angga seraya ingin meraih tangan istrinya, namun langsung di tepis oleh Alya.


"Kamu bentak aku Hubby, baru kali ini kamu kayak gini?" ucap Alya lirih, matanya pun berkaca kaca.


"Maaf, aku nggak sengaja sayang. Seharusnya kamu tenang dulu, biarin aku ngomong," jawabnya menangkup wajah istrinya.


Alya menjauh dari lalu duduk di tepi kasur, isakkan kecil sudah terdengar dari mulut perempuan itu.


Angga duduk di sampingnya, mengusap punggung. "Maaf," Alya menggeleng pelan.


"Kamu nggak salah, aku yang terlalu terbawa emosi. Aku nggak terima kalau Dinar bawa Alvaro pergi, anak kita nggak boleh keluar dari rumah ini."


Menghela napas panjang Angga mencoba menarik tubuh sang istri. "Sayang, kamu ngerti arti berumah tangga kan? seharusnya kamu paham. Jika anak sudah berumah tangga, berarti dia bukan tanggung jawab kita lagi. Alvaro yang mengajak Dinar pindah, bukan Dinar yang bujuk Alvaro,"


"Al ngelakuin ini. Agar kamu sadar, kalau Dinar nggak ada hubungannya sama sekali dengan masalah Hendra," ucap Angga panjang lebar, namun tetap bernada lembut.


"Kamu nggak sayang sama mantu sebaik Dinar, bentar lagi kita punya cucu dari Alvaro dan Dinar, mereka sudah membuat hari kita bahagia, kamu mau membuat anak kita sedih," Alya tetap diam.


"Kalau seperti ini, aku jadi mikir. Apa kamu belum sepenuhnya melupakan cinta pertama kamu itu? sampai-sampai harus kayak gini," sontak Alya mendelik, menoleh cepat kearah suaminya.


"Hubby. Kamu ngomong apa! Kamu nuduh aku masih punya perasaan sama Hendra?" hardik Alya cukup keras.


Angga berdiri. "Awalnya aku nggak ngerasa seperti itu. Tapi dengan sifat kamu yang kayak gini, buat aku berpikir lagi. Jangan-jangan memang kamu masih mencintai Hendra."


"HUBBY!!" bentak keras Alya.


"Kalau kamu nggak ngerasa seperti apa yang aku bicarakan. Rubah sikap kamu, kalau kamu seperti ini terus, berarti kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri dan perasaan kamu terhadap Hendra." cecar Angga lalu pergi meninggalkan Alya yang menatap punggung suaminya tidak percaya.


Dia tidak bermaksud seperti apa yang di katakan suaminya, dia benci dengan Dinar karena merasa gara-gara perempuan itu, semua menjadi kacau.


Andai Alvaro tak bertemu Dinar, mungkin kehidupannya akan tetap baik-baik saja, Alya sudah tidak memiliki perasaan terhadap Hendra, sejak pria itu mengkhianatinya, cintanya sudah lebur tak tersisa, dan hanya menyisakan rasa sakit, perih dan kebencian.


***