Achievement System

Achievement System
Bab 9 : Bertemu Ayah Rukia



Di rumah sakit, Chu Xian bersama Su Rukia baru saja masuk, dan mereka berdua pun masuk ke salah satu kamar pasien yang bernomor 46.


Terlihat seorang pria paruh baya sedang terbaring di ranjang, dan Suku Xiao yang sedang tidur di samping.


"Ayah.. Rukia sudah membawa tuan Chu kemari." kata Rukia yang sudah duduk di samping ranjang ayahnya.


Pria paruh baya yang dipanggil ayah oleh Rukia itu pun membuka mata nya, melihat Chu Xian di samping Rukia, dia pun mengangguk lemah.


"Apakah kamu!" kata ayah Rukia dengan perlahan mencoba untuk bangun.


"Ayah, jangan memaksakan diri!" kata Rukia mendorong ayahnya untuk kembali berbaring.


"Yo.. Hallo pak, saya Chu Xian tem.."


"Pacar! dia pacar saya Yah!" kata Rukia memotong perkataan Chu Xian.


'.......' (Chu Xian terdiam)


Menurunkan tangannya kembali, ingin membuka mulut nya tapi tak tau harus berkata apa.


"Ohh.. Jadi kamu pacar anak saya!"


"Saya.."


"Iya Yah, tadi baru saja kami jadiannya." kata Rukia memotong perkataan Chu Xian lagi.


'.......' (Chu Xian semakin terdiam)


Tak tau harus berkata apa lagi dan ia pun cuma mengangguk saja.


"Untuk kamu, saya mohon tolong jaga anak saya, ya sekalian dengan adiknya, karena saya merasa hidup saya sudah tidak akan lama lagi,"


"Ayah, jangan berkata seperti itu, ayah tidak akan meninggalkan kami berdua! Hiks.." kata Rukia meneteskan air matanya.


'.......' (Chu Xian sangat terdiam)


Merasa suasana nya tidak benar dan ingin keluar, sebenarnya dia juga bingung, jika dia tidak bisa berbicara dan selalu dipotong terus, jadi buat apa dia berada di sini.


"Mau kemana?" kata Rukia memegang tangan Chu Xian, menghentikannya.


"Uhuk.. Saya cuma mau mengambil bangku untuk duduk, nggak sopan berbicara sambil berdiri." kata Chu Xian mengubah mulutnya.


Mengambil sebuah bangku di samping ranjang, Chu Xian duduk dekat dengan ayah Rukia, kebetulan di situ ada sebotol air mineral, dan Chu Xian yang merasa haus langsung meminumnya.


"Uhuk.. Jadi, kapan kalian berencana untuk menikah, ayah bisa pergi dengan tenang jika kalian menikah." tanya ayah Rukia terbatuk.


Puft!


Uhuk.. Uhuk..


Chu Xian menyemburkan air yang baru diminum nya ke samping, terbatuk dua kali.


"Ehem.. Sebenarnya bapak sakit apa?" tanya Chu Xian akhirnya bisa berbicara. Merasa ada yang tidak beres.


"Saya di diagnosa terkena penyakit jantung akut stadium akhir dan Dokter mengatakan bahwa harapan hidup saya tidak akan lama lagi!"


Chu Xian yang mendengar itupun diam sejenak, mencoba menghubungi Sistemnya.


"Sistem!" berkata di dalam hatinya.


"Yooo.. Anak muda, jarang-jarang kamu mau berbicara dengan Sistem yang Hebat ini, yakinlah bahwa Sistem ini adalah Dewa Yang Mahakuasa!"


'.......' (Chu Xian terdiam)


Menahan muntah, mendengar Sistem yang narsis.


"Saya bisa memindai nya jika kamu.."


"Berapa titik point?" tanya Chu Xian mengerti.


"Baik, saya akan memeriksa dulu.. Ohh sebenarnya pak tua ini terkena Sihir Hitam jenis Voodoo, dan saya akan membantu menghilangkan nya jika kamu mau memberikan semua point yang kamu miliki sekarang."


'.......' (Chu Xian terdiam)


Merasakan sakit di hatinya memikirkan point yang baru terkumpul kan harus hilang.


"Baik, bantu saya menghilangkan nya!" kata Chu Xian memutuskan untuk menghabiskan semua titik point yang dimilikinya.


Berpikir menolong orang lebih penting.


"Baik, senang berbisnis denganmu anak muda, sekarang kamu hanya menempelkan tanganmu ke keningnya, dan saya akan membantu menghilangkan nya melalui tubuhmu!"


Chu Xian mengikuti intruksi Sistem, tapi dia harus bertanya dengan ayah Rukia terlebih dahulu.


"Ahem.. Pak, jika bapak percaya, saya bisa menyembuhkan penyakit yang bapak derita ini?"


"Benarkah?" tanya Rukia yang sedikit keras, mendengar perkataan Chu Xian.


Su Xiao yang sedari tadi tidur di samping pun terbangun mendengar teriakan kakaknya.


Chu Xian menganggukan kepalanya, melihat pak tua Su yang menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Huuh.. Nak Chu, dokter saja bilang jika saya tidak bisa di selamatkan lagi, apa yang kamu bisa lakukan untuk menyembuhkanku." kata pak tua Su menghembuskan nafas, merasa putus asa.


"Itu beda pak, saya pernah mempelajari keterampilan medis kuno yang bisa menyembuhkan penyakit jantung, dan hanya cukup menempelkan tangan saya ke kening dari bapak, saya akan menyembuhkan bapak!" kata Chu Xian berbohong.


"Benarkah?" tanya pak tua Su semakin tidak percaya.


'.......' (Chu Xian terdiam)


Ingin membatalkan transaksinya dengan Sistem.


"Maaf anak muda, point yang sudah ditukarkan tidak bisa dikembalikan!"


'.......' (Semakin terdiam)


Melihat Chu Xian yang diam, pak tua Su akhirnya menghela nafasnya.


"Baik, saya akan mencoba mempercayai kamu sekali ini." kata pak tua Su


"Baik!" kata Chu Xian akhirnya kembali bersemangat, berpikir jika point Sistemnya tidak terbuang sia-sia.


Tanpa menunggu lagi, Chu Xian langsung menempelkan telapak tangannya di kening pak tua Su, takut jika pak tua itu berubah pikiran.


"Sistem!" kata Chu Xian didalam hatinya.


"Baik!"


Samar-samar terlihat ada sesuatu yang seperti asap keluar dari kening pak tua Su, masuk melalui tangan Chu Xian lalu menghilang.


"?!"


Setelah beberapa saat, asap misterius itu pun hilang sepenuhnya.


"Haha.. Aku sembuh!" kata pak tua Su langsung berdiri, setelah merasakan vitalitas nya sudah kembali.


Rukia yang melihat itu pun menangis bahagia, memeluk Chu Xian.


Tak lama kemudian, masuk seorang dokter bersama seorang suster, karena mendengar tawa dari pak tua Su.


"Ada apa ini?" tanya dokter itu.


"Dok, coba periksa saya apakah saya sudah sembuh total?"


"Tuan Su jangan bercanda, penyakit tuan Su ini saja kami belum menemukan obat nya kok malah dibilang sembuh sih!" kata dokter itu tak percaya.


Tetapi setelah melihat Su Yang berdiri seperti orang yang baik-baik saja, dokter itupun tetap memeriksakan nya.


"??"


"Bagaimana mungkin! I.. Ini tak bisa dipercaya, seluruh penyakit yang dideritanya bahkan yang paling terkecil sekalipun hilang tanpa jejak!" kata dokter itu mengira ini adalah mimpi.


"Haha.. Sebenarnya saya tidak sakit sama sekali dok, alat pemeriksaannya saja yang rusak kali!"


Pak tua Su tertawa sambil menepuk-nepuk baju sang dokter.


'.......' (Sang dokter terdiam)


hantu yang percaya dengan mu sumpah sang dokter di dalam hatinya.


Melihat kesamping, terlihat Su Rukia yang masih memeluk Chu Xian, sampai-sampai Chu Xian berusaha berdiri dengan tegak agar tidak tumbang kebelakang.


"Benarkah dengan yang dikatakannya?"


Menunjuk Su Yang yang duduk santai di ranjang.


Mereka berdua yang ditanyakan pun hanya mengangguk.


'.......' (Sang dokter semakin terdiam)


Merasa tidak ada yang akan menjawab pertanyaannya, dokter itu pun tak tahan lagi, berbalik dan pergi.


"Nak Chu, sebenarnya siapa kamu, dan apa yang sudah kamu lakukan sampai bisa menyembuhkan penyakit saya ini?" kata Su Yang berkata didalam hatinya. Merasa latar belakang Chu Xian tidak sederhana.


"Ayo pulang, mari kita rayakan kesembuhan ayah dirumah!" kata Su Yang tidak memikirkannya lagi.


Mereka pun keluar dari rumah sakit itu, pulang ke rumah keluarga Su dan tak lupa juga membawa Su Xiao yang terabaikan.


Sampai kerumahnya Su Yang mengajak Chu Xian untuk duduk terlebih dahulu, dan menyuruh Rukia untuk membuatkan minum untuk mereka.


Duduk berhadapan, Su Yang menatap Chu Xian.


"Siapa sebenarnya anak Chu ini?" tanya Su Yang dengan tampilan yang terlihat penasaran.


"Hmm.. Saya cuma seorang pengusaha biasa saja kok pak." kata Chu Xian dengan santai.


Mengeluarkan rokoknya, Chu Xian mengambil sebatang dan menyalakan nya.


"Baik tidak penting siapa nak Chu, yang penting kamu sudah menyembuhkan saya dan saya sangat berterimakasih,"


"Fuhh.. Biasa aja kok pak, saya sudah seharusnya menolong sesama."


"Baik,"


"Ya sudah pak, saya ingin pamit pulang dulu."


"Tidur di sini saja dulu,"


"Di mana saya akan tidur?"


"Kamar tamu di rumah ini kosong dan kamu bisa tidur disana,"


"Baik."


Chu Xian beranjak, langsung mencari kamar tamu dan memasuki nya. Melupakan Rukia yang sedang membuatkan minuman untuk mereka.


Memasuki kamar mandi, Chu Xian membersihkan badannya. Setelah mandi, Chu Xian naik ke ranjang tempat tidur,


"Capek juga berbicara sama pak tua itu!" kata Chu Xian memejamkan mata nya tidur dan menanti hari esok.


...----------------...


(Akhir bab)