
Di dalam mobil Chu Xian duduk dibelakang bersama Su Xiao.
"Wow.. Ternyata kakak orang kaya juga ya! Mobil ini sepertinya sangat mahal." kata Su Xiao berkata kepada dirinya sendiri.
“Sepertinya cocok nih buat kakak ku, hehehe!” pikir Su Xiao tersenyum di dalam hatinya.
"Tunggu dulu, biar saya menghubungi kakakmu dulu." kata Chu Xian memanggil sebuah nomor yang diberikan oleh Su Xiao tadi.
Tut..
Nomor terhubung..
"Hallo.. Ini siapa ya?" suara wanita bertanya kepada Chu Xian.
Chu Xian: "Ya, hallo.. Saya Chu Xian dan apakah saya berbicara dengan kakaknya Su Xiao?"
"Iya dengan saya sendiri, apakah ada sesuatu yang terjadi dengan adik saya?" tanya wanita itu balik.
Chu Xian: "Ini, adikmu sedang bersama saya, dan dia meminta saya untuk mengantarkan nya kepada kakaknya."
"Ooh, maaf sudah merepotkan kamu. Sekarang saya lagi ada di kantor, dan kamu mau kita ketemuan di mana?" kata kakaknya Su Xiao
Chu Xian: "Tidak apa-apa kok, dan katakan saja kamu mau bertemu dimana, biar saya yang menuju kesana."
"Ok! Saya akan mengirimkan lokasinya." kata kakak Su Xiao.
Chu Xian: "Ok."
Menutup telponnya, Chu Xian melihat lokasi yang diberikan oleh kakak dari Su Xiao.
"Cheng Hai, mari kita pergi ke pusat kota di sebuah warung kopi yang berada di jalan B!" pinta Chu Xian kepada Cheng Hai.
"Ok Bos!" kata Cheng Hai menjalankan mobil keluar dari pusat permainan menuju lokasi yang di katakan oleh Chu Xian.
Tak lama, mereka pun sampai di tempat yang di janjikan.
Terlihat seorang wanita cantik yang berpakaian formal kantor sudah menunggu di depan warung itu.
"Kakak!" teriak Su Xiao segera turun dari mobil dan berlari menuju kakaknya.
"Xiao! Kamu nggak apa-apa kan?" tanya kakaknya khawatir, mengecek kondisi Su Xiao dan merasa lega karena tidak kekurangan apapun.
"Tidak apa-apa kok kak, tadi untung saja ada kakak Chu, jika tidak.. Mungki kakak nggak akan bisa melihat lagi adik kakak tercinta ini, Hiks.." kata Su Xiao sedikit menangis.
Wanita itu melihat Chu Xian yang baru turun dari mobil.
Tanpa sadar terpesona dengan ketampanan Chu Xian.
"Kakak!" teriak Su Xiao yang melihat kakaknya tidak memperdulikan dirinya lagi.
"Oh ya! A.. Ayo masuk dulu, baru bercerita." kata wanita itu sadar dan salting.
Membawa Su Xiao masuk dan mengajak Chu Xian masuk, sedangkan Cheng Hai tidak mengikuti mereka karena ia ingin menunggu di mobil saja.
Mereka bertiga lalu duduk di salah satu meja kosong di sudut.
"Pertama-tama kenalkan nama saya Chu Xian, dan kamu?" kata Chu Xian mengenalkan dirinya sendiri, dan menanyakan nama dari wanita yang ada di depannya ini.
"Nama saya Su Rukia, dan terima kasih sudah menolong Xiao,"
Menatap Su Rukia, Chu Xian merasa pernah melihat nya di suatu tempat, tapi dia tidak mengingatnya. Dia pun tak memikirkan nya lagi.
"Ok, sekarang saya mau tau, kata Su Xiao dia itu sering di incar dan saya mau tau apa yang terjadi?" tanya Chu Xian langsung.
"Ok, jadi gini.."
Su Rukia menceritakan bahwa perusahaan ayahnya yang sekarang di pegang oleh dirinya mempunyai banyak musuh baik di dalam maupun di luar negri.
Dan itu karena ayah mereka menyimpan sesuatu yang rahasia, jadi untuk mendapatkan sesuatu itu, para musuh ayahnya sering mencoba untuk menculik dirinya dan juga Su Xiao supaya bisa mengancam ayah mereka untuk menyerahkan sesuatu itu.
"?"
Tak terlalu mengerti, Chu Xian hanya mengangguk saja.
"Ah, saya juga pernah mendengar tentang perusahaan ini yang bergerak di bidang industri perfilman, dan saya tidak menyangka ternyata pemiliknya seorang wanita yang cantik."
Dia pun teringat, jika dia pernah melihat Su Rukia di sebuah berita tentang pengusaha muda yang sukses.
"Hei, biasa aja kok, saya juga baru menggantikan ayah saya." katanya dengan malu.
"Ok, saya juga seorang pengusaha, dan saya juga pemilik dari perusahaan Abadi realestat,"
"Woow! Jadi kamu pemilik dari perusahaan yang baru itu ya, yang katanya perusahaan itu adalah perusahaan yang diprediksi akan menjadi perusahaan bintang tiga tahun ini!" kata Su Rukia dengan ekspresi terkejut.
“Uh.. Saya juga tidak tau akan hal ini.” Chu Xian berkata didalam hatinya.
Dia juga cukup terkejut dengan perkataan Su Rukia, merasa ke efisiensi dari Shi Yuan begitu cepat.
"Dan kami juga berkali-kali berkerja sama dengan perusahaan kamu untuk lokasi pembuatan film loh, apakah kamu tau?" tanya Su Rukia menatapnya.
"Ahem, sebenarnya saya juga baru hari ini menerima perusahaan itu."
Wajah Chu Xian langsung menghitam, dari mananya dia terlihat seperti anak dari pak tua itu, Chu Xian memikirkan wajah dari Pak tua Si dan mukanya langsung berubah. Ingin sekali dia memukulnya.
"Oh, bukan ya, maaf jika begitu!" kata Su Rukia meminta maaf, yang melihat wajah Chu Xian yang berubah suram
"Sebenarnya dia itu teman dari teman saya, dia meminta bantuan dari saya, lalu dia memberikan perusahaan nya kepada saya." kata Chu Xian akhirnya berbicara.
"Owh.. jadi begitu ya."
Su Rukia menganggukkan kepalanya, sebenarnya dia juga nggak mengerti dengan perkataan Chu Xian tapi tetap mengangguk.
'.......' (Chu Xian terdiam)
Melihat reaksi Su Rukia yang datar, bertanya-tanya apa yang di pikirkan nya.
"Kak! Kok kamu mecuekin aku sih, mentang-mentang ada kakak tampan huh!" kata Su Xiao menyela, sedikit jengkel karena diabaikan.
"Hus diam, jika orang dewasa lagi bicara jangan ganggu,"
Menatap Chu Xian dengan tatapan mohon dimaklumi. Wajahnya juga memerah berpikir memang Chu Xian merupakan orang tertampan yang pernah dilihat nya, jauh melampaui para artis-artis yang terkenal.
"Ahem, jika nggak ada keperluan lagi saya mau pergi dulu." kata Chu Xian berpikir sebaiknya tidak mengganggu kakak-adik ini lagi.
"Ya, dan sekali lagi saya mengucapkan terimakasih," kata Su Rukia.
"Kakak tampan, sering-sering kunjungin aku ya." kata Su Xiao dengan senyuman misteriusnya.
Chu Xian mengangguk, beranjak dari sana dan menuju ke mobilnya.
Memasuki mobil Chu Xian lalu mengeluarkan rokok dari sakunya,
"Kemana lagi kita Bos?" tanya Cheng Hai.
"Jalan aja dulu." kata Chu Xian sambil menyalakan rokoknya.
Cheng Hai mengangguk, membawa mobil keluar dari sana, menuju ke pusat kota bagian dalam.
"Oh iya Bos, villa anda sudah siap dan barang-barang bos juga sudah di ambil."
"Begitu cepat," kata Chu Xian terkejut.
"Ok sekarang kita kesana saja." ucapnya lagi.
"Baik Bos!"
Cheng Hai memutar arah menuju ke villa Chu Xian yang berada di distrik A pusat kota.
Dan sekitar setengah jam perjalanan, mereka pun sampai di sebuah villa bergaya Eropa klasik tapi memberi perasaan mewah.
"Ok! Jadi ini rumah ku?" tanya Chu Xian sedikit tidak percaya, melihat rumah yang megah di depannya, dan ini merupakan rumahnya.
"Jika Bos tidak suka, mari kita hancurkan dan ganti dengan yang lainnya!" kata Cheng Hai sedikit menggoda Chu Xian.
'.......' (Chu Xian terdiam)
Siapa juga yang tidak suka dengan rumah yang seperti ini, lalu ia berjalan memasuki rumah itu.
"Bos, ini daftar kondisi rumahnya."
Cheng Hai menyerahkan sebuah surat.
Mengambil surat itu, Chu Xian pun membacanya.
"Villa dengan gaya campuran Eropa klasik, yang perkarangan nya mencapai 100 meter persegi, dilengkapi dengan kolam renang, 4 kamar tidur, 6 kamar mandi, dan beberapa koleksi dari Eropa."
"Hahaha! Ini hebat!" tertawa senang di dalam hatinya.
"Bagus, tapi rumah seluas ini cuma kurang pembantu rumah tangganya saja, Cheng besok kamu carikan beberapa orang buat mengurus villa ini." pinta Chu Xian kepada Cheng Hai.
"Iya Bos, besok saya carikan dan sekarang saya pulang dulu."
Cheng Hai keluar dengan membawa mobilnya.
Chu Xian mengangguk, lalu ia mencari kamar nya, masuk pergi mandi, tapi sewaktu ia pergi ke dapur melihat semuanya pada kosong semua.
'.......' (Chu Xian terdiam)
Sekarang Cheng Hai sudah pergi, dan tidak ada yang membawanya pergi ke restoran untuk makan.
Apakah dia akan mati karena kelaparan hari ini, berpikir dengan lucu.
Chu Xian pun memesan makanan online, dan setelah makanannya di antarkan dia pun lansung memakan nya.
Setelah makan dia beranjak dari sana menuju ke salah satu kamar dan berniat untuk beristirahat menanti hari esok.
...****************...
(Akhir bab)