
Pagi hari yang cerah.
Chu Xian bangun dengan nyaman.
“Ah, hidup seperti ini tidak buruk juga ternyata.”
Dia merenggangkan badannya, dan bersiap untuk pergi mandi.
Ting-tong!
Chu Xian menghentikan langkahnya, “Hah, siapa yang pagi-pagi seperti ini datang. Sepertinya aku tidak pernah mengatakan kepada siapapun bahwa aku sudah pulang, apa jangan-jangan...”
Chu Xian mencurigai Ri Xiang. Karena selama ini Ri Xiang lah yang memata-matai dirinya di mana pun dia berada, dan mungkin saja Ri Xiang memberitahukan kepada orang-orang bahwa dia sudah pulang.
Nyatanya memang benar seperti itu.
Semalam.
Seorang wanita bertanya kepada Ri Xiang, “Apakah Chu Xian sudah pulang?”
Ri Xiang pusing karena setiap hari di tanya oleh wanita ini. Dan kebetulan hari ini Chu Xian sudah pulang ke kota Longnan, jadi dia langsung saja menjawab, “Ya, sekarang dia berada di villa nya.”
Siapakah wanita itu?
Ting-tong!
Bel berbunyi lagi.
Sekarang Chu Xian mau tak mau pun harus ke depan untuk membukakan pintu.
“Halo...” Chu Xian langsung terdiam setelah melihat siapa orang yang sedang berdiri di depan pintunya.
Wang Ziyan, apa yang sedang kamu lakukan di tempat ku?
Chu Xian ingin mengatakan itu, tapi Wang Ziyan terlebih dahulu berkata, “Chu Xian, lama tak bertemu.” Dan langsung menghamburkan diri di pelukan Chu Xian.
Chu Xian: "..."
Apa-apaan.
Kalau Wang Zi tau bahwa adiknya sekarang berada di tempatnya, apa yang akan terjadi.
Chu Xian merasa pusing dengan Wang Ziyan ini. Sejak kejadian itu Wang Zi pasti mengawasi dirinya dan tidak membolehkan dirinya untuk dekat-dekat dengan Wang Ziyan. Tapi tetap saja, Wang Ziyan adalah orang yang menyelamatkan dirinya waktu itu, sehingga dia merasa tidak enak jika harus mengusir nya dari sini secara langsung.
“Chu Xian, apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu tidak senang ya aku berada di sini?” Wang Ziyan melepaskan pelukannya terhadap Chu Xian dan bertanya dengan nada yang sedih.
Melihat wajah Wang Ziyan yang sedih, Chu Xian langsung saja melambaikan tangannya, dan berkata, “Bukan, bukan seperti itu, hanya saja kamu datang ke sini, apakah kakak mu tau?” Pipi Chu Xian meneteskan keringat.
Ah, pagi ku yang cerah sudah hancur.
Chu Xian merasa sedih yang tak dapat di jelaskan.
Walaupun Wang Ziyan sangat cantik, tapi tetap saja dia adalah adik dari sahabatnya, dan tentu saja Chu Xian tidak pandai memulainya.
Pertanyaan Chu Xian membuat Wang Ziyan tersenyum, dia lalu berkata dengan gembira, “Tentu saja kakak tau, karena aku terus memaksanya agar aku bisa keluar dan bertemu dengan mu.”
Pak tua, apa yang sedang kamu pikirkan.
Wajah Chu Xian terlihat normal di luar, tapi dia berteriak di dalam hatinya.
Tidak mungkin kan, orang tua itu mendorong adiknya kepada dirinya.
Wang Ziyan tidak tau apa yang di pikirkan Chu Xian, dia tersenyum manis dan berkata, “Apakah kamu tidak membolehkan ku untuk masuk?”
“Ya, masuk, masuk, silahkan.” Chu Xian tersadar bahwa mereka masih di depan pintu.
Lalu Chu Xian membawa Wang Ziyan untuk masuk ke dalam, dan mempersilahkan nya untuk duduk di sofa ruang tamu.
“Kamu tunggu di sini saja ya, aku ingin pergi mandi sebentar.”
Setelah mengatakan itu, Chu Xian meninggalkan Wang Ziyan di sofa sendirian, sedangkan dia memasuki kamar mandi. Tapi sebelum mandi ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Wang Zi.
Setelah mengirimkan pesan, Chu Xian menyimpan kembali ponselnya dan mandi dengan santai.
Setelah mengenakan pakaiannya, dia mengeluarkan ponselnya lagi, dan melihat balasan pesan dari Wang Zi.
✉ Wang Zi: Ya benar, aku tau itu, aku yang menyuruhnya untuk menemui mu, saat ini aku sedang sibuk, jadi tolong jaga adik ku ya (Ekspresi tidak senang).
Chu Xian: "..."
Apa maksud mu, jika kamu tidak senang, kenapa kamu menyuruhnya untuk datang ke tempat ku. Kamu sibuk, oke, apakah sesibuk itu sehingga kamu harus meminta ku untuk menjaga adik mu, bukankah masih ada Ri Xiang ataupun Xu Chang'an yang memiliki tempat yang lebih bagus dari tempat ku.
Chu Xian tak bisa menahan muntah di hatinya lagi dan lagi.
Dia tak membalas pesan dari Wang Zi. Setelah menyimpan ponselnya ke dalam ruang penyimpanan sistem, dia pun segera keluar dari kamar mandi.
“Hei, Chu Xian, kenapa kamu sangat lama?” Tanya Wang Ziyan cemberut.
“Yah...” Chu Xian tak tau harus berkata apa. Memangnya apa yang harus di katakan olehnya kepada wanita ini.
Melihat Chu Xian yang tak menjawab, Wang Ziyan pun dengan cemberut bertanya lagi, “Memangnya kemana kamu akan pergi?”
Dia menyadari bahwa Chu Xian mungkin akan keluar.
Kali ini Chu Xian menjawabnya, “Aku ingin menemui adikku.”
“Adikmu,” Mendengar itu Wang Ziyan langsung tersenyum, “Kalau begitu aku ikut, aku sangat ingin menemui adik yang kamu katakan itu.”
Chu Xian terdiam sejenak sebelum mengangguk setuju.
Baiklah, semoga saja tidak ada yang terjadi.
Memangnya apa yang akan terjadi, bukankah itu hanya menemui Lingji saja.
Chu Xian menyemangati dirinya sendiri.
Tapi dia tidak tau bahwa hal ini akan menjadi masalah yang cukup besar.
...—...
Rumah keluarga Su.
Chu Xian: "..."
“Kakak, siapa kakak ini?” Tanya Lingji dengan mata tajam.
“Chu Xian, apakah ini adikmu?” Wang Ziyan tidak peduli dengan mata tajam Lingji dan bertanya kepada Chu Xian dengan nada yang mesra.
Rukia pun memandang Chu Xian dengan tatapan kesedihan yang terlihat di matanya.
“Dia,” Chu Xian menunjuk Wang Ziyan, dan berkata, “Ini adalah adik dari teman kakak, dan teman kakak yang meminta untuk menjaganya untuk sementara waktu.”
Mata sedih Rukia yang mendengar itu pun langsung menghilang dan digantikan oleh kegembiraan.
“Benarkah?” Lingji tidak percaya, dan menatap Chu Xian dengan tajam. Dia ingin melihat apakah kakaknya ini sedang berbohong, tapi setelah melihatnya dengan seksama, dia tidak menemukan bahwa kakaknya berbohong. Tapi dia masih tak percaya, jadi dia berbalik dan bertanya kepada Wang Ziyan.
“Apakah yang kakak katakan itu benar?”
Wang Ziyan mengangguk, dan berkata dengan tenang, “Memang benar aku adalah adik dari teman kakak mu, tapi hubungan kami cukup baik lo...”
Dia sengaja berkata begitu sambil menunjukkan sikap seorang putri.
“Seperti apa—”
“Sudahlah, ayo masuk dulu, kakak sedang lapar, bisakah kamu membuatkan makanan yang enak untuk kakak.” Chu Xian segera mengganti topik pembicaraan.
“Baik.” Lingji mengangguk pelan, dia bisa bertanya lagi nanti.
Jadi mereka semua memasuki rumah.
(Akhir bab ini)