Achievement System

Achievement System
Bab 143 : Sama-sama memiliki hantu



“Oh halo.” Chu Xian bersikap biasa saja. Tapi di dalam hatinya dia tersenyum, dan ingin melihat apa yang akan di lakukan oleh wanita ini.


Sepertinya wanita ini merasa bahwa dirinya tidak mengenalinya. Heh, kalau begitu Aku akan menemanimu dalam berakting.


“Tuan sangat tampan,” Puji Ryoko dengan nada hambar, dapat di lihat dia sama sekali tidak terbiasa dengan sikap lemah-lembut.


“Ya, kamu juga cantik.” Balas Chu Xian dengan senyuman. Cukup mirip dengan Junko.


Ryoko: "..."


Chu Xian: (¬◡¬)


Dua orang yang menyembunyikan hantu di hati mereka.


Apa yang harus ku lakukan selanjutnya?


Ryoko merasa sangat bingung.


Suasana menjadi hening dan aneh.


Shio memandang Chu Xian, lalu Ryoko, Chu Xian lagi, Ryoko lagi: Ada apa ini, ada apa ini, kenapa suasana menjadi sangat aneh seketika.


Menyadari suasana menjadi semakin aneh, Ryoko segera bereaksi, “Ah, tuan, biar saya yang menuangkan minum untuk tuan.”


Chu Xian hanya diam saja melihat Ryoko yang menuangkan bir ke dalam gelasnya. Tangan Ryoko terlihat gemetar.


Gemetar?


Apa yang terjadi dengan wanita ini?


Chu Xian memandang Ryoko dengan penuh minat.


Apakah wanita ini takut terhadapnya?


Ryoko diam-diam berteriak di dalam hatinya: Ya Tuhan, kenapa orang ini memandang ku dengan tatapan seperti itu! Apakah orang ini sebenarnya adalah orang mesum!


Tangannya yang menuangkan bir ke dalam gelas semakin gemetar.


Dia berpikir dengan tingkat kekuatan orang yang ada di depannya saat ini, walaupun orang ini berbuat macam-macam terhadap dirinya, maka dia sendiri pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Bunuh diri!?


Tidak mungkin dia melakukan hal semacam itu!


Dia masih mempunyai saudari yang sudah lama tidak di temui nya. Dan sekarang tujuannya memasuki kapal ini selain dari menjauh dari Chu Xian, dia ingin kembali ke negara J.


Tapi dia sendiri tak menyangka, bahwa orang yang paling ingin dihindarinya saat ini juga sedang berada di kapal ini. Kebetulan macam apa ini!


Ryoko tidak tau bahwa Chu Xian berada di sini adalah untuk mencari dirinya, jika tidak maka dia akan semakin ketakutan.


“Sudah cukup nona.” Kata Chu Xian menghentikan Ryoko yang terus menuangkan bir ke dalam gelasnya sampai penuh dan tumpah.


Ryoko seketika itu langsung sadar: “Ah, maaf, maaf tuan, aku tidak sengaja.”


Ryoko terlihat sangat malu.


Wajah Chu Xian menghitam. Apakah aku sebegitu menakutkannya sehingga wanita ini bereaksi begitu besar. Nyatanya Chu Xian sudah melupakan dendam di antara mereka, bahkan dia pun merasa kalau wanita ini terlihat enak di pandang, apalagi wanita ini juga merupakan saudara perempuan dari Junko.


“Tidak apa-apa,” Chu Xian mengambil gelas itu dan langsung meminumnya dalam satu nafas.


“Nona, apakah kamu bisa menuangkan nya untuk ku juga?” Tanya Shio yang sejak tadi merasa di abaikan.


“Tuangkan sendiri.” Ryoko berkata dengan dingin.


Shio merasa tidak terima dan memandang Chu Xian dengan tatapan iri.


“Apakah kamu sedang bekerja?” Tanya Chu Xian mengabaikan tatapan dari Shio.


Ryoko menatap Chu Xian dengan heran. Aku kan sedang bekerja, kenapa masih di tanya. Tapi dia tetap menjawab pertanyaan Chu Xian dengan senyuman yang manis, “Ya, aku sedang bekerja di sini.”


“Lalu, kenapa kamu tidak melayani mereka yang ingin membeli minuman di sana.” Chu Xian menunjuk orang-orang yang sejak tadi menunggu di meja bartender.


“Ah,” Ryoko tersadar, dan merasa sangat malu. Sekarang dia terkesan sedang mencari perhatian kepada Chu Xian karena dia sudah mengabaikan pelanggan. Tapi aku sebenarnyakan memang tidak bekerja di sini. Aku di sini hanya sementara menggantikan bartender asli yang sudah di bunuh oleh ku secara diam-diam.


Ryoko tentu saja tidak ingin terlihat aneh di mata Chu Xian, dia berkata, “Kalau begitu saya tidak akan mengganggu Anda lagi.”


Ryoko segera pergi dan kembali ke meja bartender.


Shio yang melihat kepergian Ryoko pun segera mendekati Chu Xian, “Hei bro, sepertinya wanita bar itu sangat tertarik terhadap mu. Hei, hei, ajari aku bagaimana caranya untuk menarik wanita.”


“Tidak ada.” Jawab Chu Xian enteng. Lalu dia mengambil sebotol bir dan langsung meminumnya. Dengan tingkat kekuatannya saat ini, alkohol biasa tidak akan membuat dirinya mabuk walau sebanyak apapun.


Benar, dengan tubuh setengah Dewa yang ia miliki, segala macam racun fana tidak akan bisa melukai dirinya.


Waktu berlalu, segera malam pun tiba.


Chu Xian sekarang berada di geladak kapal dan duduk sendirian di sana sambil menghisap rokoknya dengan santai.


“Umm,” Chu Xian melihat sebuah sosok yang diam-diam ingin mencuri sebuah sampan kecil yang berada di samping kapal ini.


Bukankah itu wanita itu?


Apa yang sedang dilakukannya di sana.


Chu Xian yang penasaran pun diam-diam mengikuti dan setelah melihat wanita itu akan berhasil. Chu Xian tiba-tiba melompat dan menaiki sampan.


“Hei, apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Chu Xian sambil menepuk pundak Ryoko dari belakang.


“Ahh,” Jerit Ryoko karena kaget, “Itu kamu!”


Sialan, padahal sebentar lagi dia akan berhasil untuk kabur dari sini dan menjauh dari Iblis ini, sekarang bagus, Iblis itu juga ada di sini dan sekarang dia tertangkap basah sudah mencuri sampan, dan bersikap mencurigakan.


Diantara lampu dan listrik, Ryoko segera menemukan sebuah alasan, “Aku, sebenarnya aku ingin pulang. Saat ini adikku sedang sakit dan aku harus kembali untuk merawatnya. Kasihan dia karena hidup sendirian.”


Ryoko terlihat menyedihkan.


Jika saja Chu Xian tidak tau yang sebenarnya, mungkin saja dia akan merasa kasihan dan melepaskan nya begitu saja. Tapi Chu Xian sangat tau bahwa wanita ini sedang membohongi dirinya.


Chu Xian mencibir di dalam hati: Kamu memang memiliki adik, tapi apakah menurut mu aku tidak tau kalau kamu tidak pernah menemui adik mu sama sekali. Heh, sakit. Junko adalah orang yang aku rawat, dan kami sering berhubungan melalui telpon, kenapa aku tidak tau kalau Junko sedang sakit. Hei saudari, siapa yang ingin kamu bohongi.


“Wah, benarkah! Kalau begitu adik mu benar-benar kasihan, jadi apakah aku boleh ikut dengan mu, mana tau aku bisa membantu. Aku juga mengerti ilmu. pengobatan.” Kata Chu Xian menemani Ryoko berakting.


Ryoko lengah dan terdiam: "..."


Apalagi yang bisa dia lakukan. Sekarang bagus, walaupun dia menemukan alasan yang masuk akal, tapi alasan itulah yang juga menjebaknya.


“Kalau begitu ayo cepat.” Chu Xian membantu Ryoko untuk mendorong sampan.


Wajah cantik Ryoko terlihat suram di kegelapan malam. “Terima kasih.”


Ucapannya sama sekali tidak tulus.


(Akhir bab ini)