Achievement System

Achievement System
Bab 149 : Pekerjaan ekstra



Bersama Lingji, Chu Xian akhirnya sampai ke pusat permainan di kota ini.


“Ling, katakan permainan apa yang ingin kamu mainkan, kakak akan membawa mu.” Kata Chu Xian dengan lembut.


“Aku ingin menaiki itu,” Lingji menunjuk pada rollercoaster yang berada di depan.


Chu Xian berpikir sejenak, dan akhirnya dia berkata, “Bukannya kakak melarang mu, tapi permainan itu sepertinya sangat berbahaya untuk anak kecil deh.”


“Aku bukan anak kecil.” Kata Lingji cemberut dengan ekspresi imut.


“Kakak tidak bilang kamu anak kecil kok, kakak hanya memberitahu mu.” Chu Xian dengan wajah polos.


Lingji: "..."


Akhirnya dengan desakan dari Lingji, Chu Xian pun mau tak mau harus membawanya untuk naik.


Mereka bermain dengan seru.


Di sela-sela akhir dari permainan, Chu Xian mengatakan sesuatu kepada Lingji, “Ling, kakak berjanji, suatu saat nanti kakak akan membawamu untuk terbang ke langit. Karena kakak melihat kamu begitu menyukai ketinggian.”


“Benarkah kak, kalau begitu ini janji.” Lingji dengan penuh harap.


“Yah, ini janji.” Kata Chu Xian dengan yakin.


Chu Xian sedang berpikir, waktu itu di kerajaan tersembunyi dia melihat para praktisi yang terbang menggunakan pedang, tapi hal itu hanya bisa di lakukan oleh pahlawan abadi yang berlatih keabadian, berbeda dengan dirinya yang melatih seni beladiri, mungkin jalannya berbeda tapi tujuannya tetap sama, dan ada juga yang melatih berbagai macam kemampuan di dunia ini, seperti sihir, kekuatan super, dll. Tapi dia memiliki keyakinan, bahwa praktisi seni beladiri sepertinya pasti juga akan mencapai puncak, dan terbang bebas di langit, dengan bantuan sistemnya, dia memiliki keyakinan tak terbatas.


Hari sudah mulai gelap.


Walaupun di sini sangat terang karena disinari lampu dimana-mana. Tapi tetap saja malam akan segera tiba. Jadi dia mengajak Lingji yang sepertinya masih belum puas bermain untuk pulang.


Mereka sudah mencoba hampir semua wahana yang ada di sini, mereka bahkan sangat banyak makan karena apapun yang di jumpai oleh Lingji, dan Lingji menginginkannya, pasti dia akan berhenti dan mencicipi nya.


“Kenapa kita harus pulang secepat itu.” Lingji belum puas.


“Kamu lihat,” Chu Xian menunjuk ke langit, “Hari sudah gelap, jadi ayo hentikan untuk hari ini, kakak janji lain kali akan membawa mu lagi.”


Mendengar janji Chu Xian, Lingji pun mau tak mau mengangguk dan menyerah untuk bermain lagi, walaupun dia masih belum puas tapi dia tetap mendengarkan Chu Xian.


Kembali ke mobil. Chu Xian mengendarai mobilnya dengan santai, tidak pelan, tidak juga laju, hanya sedang-sedang saja.


Di tengah perjalanan. Lokasi di sebuah jembatan, Chu Xian menemukan sebuah masalah.


Saat ini mobil mereka sedang di hadang oleh sekelompok orang berpakaian hitam, Orang-orang itu semua memakai penutup kepala, yang membuat orang-orang itu terlihat misterius.


“Tch. Siapa orang-orang ini, apakah orang ini ingin mati, sebenarnya berani menghadang ku yang merupakan Raja di kota ini!” Chu Xian merasa kesal. Lalu ia turun dari mobil, dan tak lupa ia berkata kepada Lingji, “Jangan keluar, kakak akan menyelesaikan nya dengan cepat.”


Lingji yang menyadari situasinya pun mengangguk, dia sedikit takut, jadi dia berkata, “Kakak, hati-hati.”


Chu Xian tersenyum sambil menggosok kepalanya dengan lembut. Lalu ia melihat Chu Xian yang dengan cepat sudah berdiri di hadapan orang-orang itu.


“Siapa kalian, dan apa tujuan kalian menghadang jalan ku?” Tanya Chu Xian dengan sikap mendominasi, ia mengeluarkan rokok dari sakunya dan menyalakan nya.


Orang-orang itu tidak menjawab, saling memandang dan mengangguk, lalu salah satu dari orang itu memberi perintah, “Serang dia!”


Chu Xian menghembuskan asap rokoknya perlahan


Jadi itulah yang terjadi, orang-orang ini benar-benar menargetkan dirinya.


Langkah Petir~


Chu Xian tiba-tiba menghilang, dan detik berikutnya dia berpindah tempat, tepat di belakang salah satu dari orang-orang ini.


Mati!


Tak banyak upaya baginya untuk membunuh orang-orang ini yang hanya setingkat dengan Grand Master.


Satu pukulan untuk satu orang, Chu Xian hanya menyisakan satu orang yang hidup.


“Katakan, siapa yang memberimu perintah?” Tanya Chu Xian yang tidak menyembunyikan niat membunuhnya.


Setelah mengatakan itu, orang ini menggigit lidahnya dan bunuh diri di depan Chu Xian.


Chu Xian: "..."


Apalagi yang harus dia lakukan.


Kegelapan?


Apa-apaan itu!


Dia tidak takut, tapi dia tidak tau siapa yang menjadi lawannya, jadi bagaimana caranya agar dia bisa balas dendam.


Haih, sepertinya aku harus semakin waspada, karena mendengar perkataan orang ini, mereka pasti akan mengirimkan orang untuk membunuh ku lagi.


Yang dia khawatirkan adalah orang-orang yang dekat dengan dirinya, seperti hari ini, jika orang-orang itu ingin menargetkan Lingji, maka itu akan sangat berbahaya.


Sepertinya aku membutuhkan bantuan.


Dan untuk kegelapan yang di maksud tadi, mari kita bertanya kepada Ri Xiang ataupun Xu Chang'an.


Chu Xian menatap ke kejauhan.


Saat ini dari kegelapan, dia merasa ada yang memantaunya.


Chu Xian menendang mayat-mayat dari orang-orang ini ke sungai dan membersihkan lapangan.


Keesokan harinya.


✆ Ponsel Chu Xian berdering.


Penelpon: Ri Xiang.


Chu Xian: “Ya, ada apa?”


Suara Ri Xiang: “Kami menemukan ada beberapa mayat di sungai hari ini.”


Chu Xian: “Lalu, apa hubungannya dengan ku?”


“Kamu yakin itu tidak berhubungan dengan mu, Chu Xian, jangan kira aku tidak tau ini adalah perbuatan mu!” Suara keras Ri Xiang memekakkan telinga Chu Xian.


Chu Xian: "..."


Bagaimana orang tua ini bisa tau.


Setelah agak lama hening, Ri Xiang berkata lagi, kali ini dengan tenang. “Tch. Untung saja orang-orang ku segera mengambil tindakan dan mengambil alih penyelidikan ini. Chu Xian, jujur pada ku, siapa orang-orang ini, sepertinya dia berasal dari luar, apakah ini pembunuh lagi yang menargetkan dirimu.”


“Yah, tebakan mu benar, mereka adalah pembunuh yang menargetkan diriku, tapi aku benar-benar tidak tau dari mana mereka berasal.” Chu Xian menghela nafasnya.


Suara Ri Xiang, “Yah, aku akan membantu mu untuk menyelidiki.”


“Ada satu hal lagi.” Kata Chu Xian.


“Apa itu?”


“Katakan bagaimana kamu bisa tau hal itu adalah perbuatan ku, Pak tua, apakah kamu memata-matai ku lagi!” Chu Xian menggertakkan giginya karena masalah ini.


Ri Xiang di seberang diam tak menjawab: "..."


Sambungan telpon di putuskan.


Wajah Chu Xian menghitam seketika.


Hal ini sangat mengganggu nya, bagaimana caranya pak tua itu tau kemanapun dia berada, dia sudah memeriksa ke sekeliling tapi tidak menemukan tanda-tanda bahwa dia sedang di mata-matai.


Mari kita bertanya baik-baik setelah kita bertemu!


(Akhir bab ini)