Achievement System

Achievement System
Bab 148 : Kota ini situs ku



“Umm, Ling, masakan mu semakin enak saja.” Puji Chu Xian yang masih mengunyah makanan di mulutnya.


“Tentu saja, kan Lingji selalu belajar dengan kak Rukia.” Lingji berkata dengan bangga, dan tak lupa untuk menatap Wang Ziyan dengan sengit.


Wang Ziyan hanya melirik sedikit dan menunduk tak peduli. Yang dia tau makanan ini memang enak, tapi sebagai seorang putri yang sudah dilayani dari lahir, makanan enak apa yang belum pernah dimakan olehnya.


Melihat sikap Wang Ziyan membuat Lingji diam-diam menggertakkan giginya, dia tidak suka dengan wanita ini, dia berpikir bahwa kakaknya sangat tidak cocok dengan wanita ini.


Rukia makan dengan tenang, sedangkan Chu Xian diam-diam sakit kepala melihat interaksi antara Lingji dan Wang Ziyan, yang mana tidak menyembunyikan kebencian mereka masing-masing.


Kesalahan apa yang ku perbuat sehingga situasinya menjadi seperti ini.


Chu Xian menatap Wang Ziyan diam-diam, dan menyesal sudah membawanya ke sini.


Setelah selesai makan.


“Rukia, aku ingin menggunakan satu kamar untuk istirahat.”


“Boleh, kamu bisa ke kamarku.” Kata Rukia diam-diam tersenyum.


“Baik...” Chu Xian mengangguk dan berdiri, lalu dia pergi ke kamar Rukia yang berada di atas.


Apakah tidak apa-apa seperti ini.


Memasuki kamar perempuan dengan santai, padahal tidak memiliki hubungan apa-apa. Mungkin hanya Chu Xian saja yang terlalu tebal muka.


Chu Xian: Hei, hei, yang punya rumah sendiri kok yang bilang, jadi tentu saja aku tidak menolak.


Oke, ku tarik ucapan ku sebelum nya, Chu Xian bukannya tebal muka, tapi benar-benar tak tau malu.


Chu Xian beristirahat selama 2 jam sebelum bangun dan mandi. Dan dia mandi dengan menggunakan kamar mandi Rukia yang ada di dalam kamar.


Chu Xian sialan benar-benar merasa ini adalah rumahnya.


Setelah mengganti pakaian yang ia ambil dari ruang penyimpanan sistem, Chu Xian bersiap-siap dan berniat untuk keluar.


“Kemana?” Tanya Lingji yang sedang bersandar di pintu.


“Jalan-jalan, apakah kamu mau ikut dengan kakak.” Jawab Chu Xian sambil tersenyum.


Lingji segera tersenyum dan langsung berkata, “Oke, tunggu, Lingji akan segera turun.”


Lingji berlari menuju kamarnya, dan Chu Xian pun turun untuk menunggu nya di bawah.


“Apakah kamu akan pergi?” Kali ini giliran Rukia yang bertanya. Saat ini Rukia sedang duduk di sofa sambil membaca buku dan dia juga mengenakan kacamata yang membuat kesan nona presdir yang dingin. Tapi nyatanya Rukia sama sekali tidak dingin, dia hanya kurang berbicara saja.


“Yah, aku juga akan membawa Lingji untuk bermain.” Chu Xian mengangguk sambil tersenyum.


Rukia mengangguk paham dan berkata, “Kalau begitu hati-hati.”


“Kota ini situs ku, memangnya siapa yang berani mengganggu ku, percaya atau tidak, kalau ada yang berani tidak memiliki mata, maka aku akan menenggelamkan orang itu ke sungai.”


“Pftt, Hahaha, benar ini adalah situs mu, memangnya siapa yang berani mengganggu mu.” Rukia tak kuasa menahan tawa, karena menurutnya saat ini Chu Xian sangat lucu. Dia tau kota ini adalah tempat Chu Xian, dan memang benar tidak ada yang bisa mengacaukan nya, tapi Chu Xian sangat jarang sesombong ini di depannya, tebakannya, mungkin ini ada hubungannya dengan Lingji, karena hanya Lingji yang bisa membuat Chu Xian sentimental.


“Apanya yang lucu,” Chu Xian memutar matanya, dan bertanya, “Apakah kamu tidak ingin ikut?”


Rukia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku hanya ingin di rumah, kalian berdua pergilah bermain.”


“Oh,” Chu Xian mengangguk paham, tiba-tiba menyadari, “Ngomong-ngomong, di mana Wang Ziyan?”


Dari tadi ia tidak melihat keberadaan wanita itu, walaupun Wang Zi memintanya untuk menjaganya, tapi tetap saja wanita itu tidak bisa ia tahan jika ingin keluar.


“Tidak perlu,” Chu Xian langsung menolak. Dia menghela nafas lega, baguslah kalau wanita itu bisa tenang, jadi sekarang dia bisa berjalan-jalan dengan nyaman bersama Lingji.


“Memangnya apa hubungan mu dengan gadis itu?” Rukia menanyakan hal yang sudah lama ingin dia tanyakan tapi tidak memiliki kesempatan.


“Dia itu, yah, kamu bisa menyebutnya sebagai tuan putri dari sebuah kerajaan.”


“Apakah di zaman ini masih ada kerajaan?” Rukia menjadi sangat penasaran.


“Ada,” Chu Xian mengangguk, dan berkata, “Tapi kerajaan ini adalah kerajaan yang tersembunyi dari dunia, jadi hanya sedikit orang saja yang tau.”


Dia melanjutkan, “Dan Wang Ziyan adalah adik dari teman ku, karena suatu hal dia memintaku untuk menjaganya untuk sementara waktu.”


“Begitulah.” Rukia mengangguk, antara paham dan tidak, lalu dia tidak menanyakan apa-apa lagi tentang itu.


Kerajaan tersembunyi?


Rukia hanya tidak paham akan hal ini, seingatnya zaman kerajaan sudah tidak ada, tapi menurut Chu Xian jika dia berkata begitu, artinya hal ini memang benar, karena Rukia sangat mempercayai Chu Xian.


“Kakak, ayo berangkat.” Lingji turun dengan menggunakan gaun dan topi besar di kepalanya.


“Ya, oke.” Chu Xian tersenyum.


Nyatanya Lingji sangat cantik di usianya yang masih berumur 15 tahun, dan mulai beranjak dewasa. Dia ingat sewaktu dia pertama kali bertemu dengan Lingji dia hanyalah seorang anak kecil, dan sekarang pun Chu Xian masih menganggapnya anak kecil.


Usia Chu Xian sebenarnya: ??


Chu Xian membawa Lingji keluar dengan menggunakan mobil yang ia bawa dari villa.


“Kemana tujuan kita kak?” Tanya Lingji dengan gembira.


Chu Xian berpikir sejenak, dia teringat sesuatu, dan berkata, “Bagaimana jika kita pergi ke pusat permainan kota. Kita bisa bermain apapun di sana.”


Chu Xian memberikan ide yang cukup bagus, Lingji pun mengangguk gembira, dan berseru, “Baik, ayo kita berangkat.”


Sudah lama rasanya ia tidak bermain bersama Chu Xian, dulu Chu Xian sering mengajaknya bermain seperti ini, dia tiba-tiba mengingat Xia, wajahnya seketika menjadi murung.


Chu Xian yang melihat itupun segera mengernyit, “Ada apa, apakah kamu tidak senang jika kita akan bermain di sana, atau kita bisa pindah ke tempat lain.”


Lingji segera menggelengkan kepalanya, dan berkata, “Tidak, tidak kak, Lingji hanya tiba-tiba teringat kakak Xia, bukankah waktu itu kakak berkata bahwa kakak Xia baik-baik saja, jadi apakah kakak sudah menemukan nya.”


“Ini...” Chu Xian terdiam tak tau harus berkata apa.


“Dia baik-baik saja, dan kakak akan membawanya pulang cepat atau lambat.”


Hanya kalimat itu yang bisa ia katakan.


Di rumah Rukia.


“Hei, apakah Chu Xian belum bangun?” Wang Ziyan yang baru saja bangun bertanya kepada Rukia.


Rukia hanya dengan dingin menjawab, “Dia sudah bangun dari awal, dan sekarang dia sedang berjalan-jalan bersama Lingji.”


“Ha, apa? Kenapa Chu Xian tidak mengajakku.”


Rukia diam-diam berkata: Mana aku tau. Dan lagi, buat apa aku memberitahu mu.


(Akhir bab ini)