Achievement System

Achievement System
Bab 144 : Wanita ini ternyata sangat penakut



Setelah setengah hari lamanya, akhirnya mereka berdua sampai di darat.


Mereka kembali ke kota Dongguan. Siapa yang percaya itu. Setelah mereka pergi sangat jauh, lalu mereka kembali lagi.


Yang satunya ingin kabur, dan yang satunya lagi mengejar. Sekarang Ryoko merasa terjerat oleh Chu Xian.


“...Ya, kemana lagi kita akan pergi?” Tanya Chu Xian berjalan mengikuti Ryoko.


Ryoko segera berhenti: Ya, kemana aku akan pergi, tentu saja ingin kembali ke tempat asalnya. Negara J, tapi aku sama sekali tidak ingin membawa orang ini ke sana, jangan sampai orang ini bertemu dengan adiknya.


Sampai sekarang Ryoko merasa bahwa Chu Xian adalah orang yang mesum.


Ryoko menjawab dengan manis, “Kita akan menginap dulu selama satu malam di kota ini.”


Lalu aku akan mengambil kesempatan itu untuk segera kabur, hehe... Aku memang jenius.


Ryoko menyiapkan rencana di dalam hatinya.


Chu Xian hanya menjawab “Oh.” Saja, dan ingin melihat rencana apa yang akan di lakukan oleh wanita ini lagi.


Chu Xian memanggil seseorang: ✆⇨⇨⇨🂠


“Pak tua, tolong carikan aku tiket pesawat, aku ingin pergi ke luar negri.”


“Negara mana?”


Chu Xian menutup microphone ponselnya, dan bertanya kepada Ryoko, “Negara mana?” Dia pura-pura tidak tau.


Ryoko ragu-ragu untuk menjawab, “Negara J.”


Chu Xian mengangguk dan berkata di telpon, “Hei pak tua, apakah kamu masih di sana.”


“Ya?”


“Aku butuh dua tiket menuju negara J.”


“Ya, baiklah, baiklah, kamu menganggu ku nak, apakah kamu tidak tau saat ini aku sangat sibuk membereskan perbuatan mu. Jadi, kapan kamu akan berangkat, kamu tidak lupa kan dengan janji mu terhadap Tianzu.”


“Aku hanya pergi selama dua hari, dan tentu saja aku tidak melupakan tentang janji ku.”


“Oke, selamat tinggal...”


Telpon di tutup secara sepihak oleh pihak lain.


Chu Xian: "..."


“Baik, sekarang semuanya sudah siap. Mari kita mencari hotel terlebih dahulu.” Kata Chu Xian dengan senyuman.


Wajah Ryoko di samping juga tidak terlihat baik. Sekarang dia menyesal, sangat menyesal karena sudah mengatakan tentang tempat asalnya.


Alasan apa lagi yang harus dia buat.


Sekarang bagus, Iblis ini benar-benar mengikutinya. Bahkan tiket pesawat pun sudah di pesan.


Ryoko: (T^T)


Keesokan harinya.


Di karenakan hotel sudah penuh dan hanya tinggal satu kamar lagi yang tersisa. Mereka terpaksa harus berbagi kamar yang sama selama satu malam.


Ryoko bangun dengan wajahnya yang suram dan lesu, dengan lingkaran hitam di matanya, dapat di lihat bahwa ia sama sekali tidak tidur dengan nyenyak.


Kenapa orang itu sama sekali tidak tidur!?


Ryoko berteriak dan menangis di dalam hatinya.


Tapi Chu Xian sama sekali tidak tidur sepanjang malam. Ryoko yang tidak tahan pun segera menyerah dan memutuskan untuk tidur.


Mungkin ini adalah takdirnya karena tidak bisa lepas dari Chu Xian.


Suara misterius: Hehe, tentu saja, ini adalah takdir yang sudah di tentukan oleh sang penulis. ᐖ


“Kamu sudah bangun.” Kata Chu Xian yang baru keluar dari kamar mandi.


“Umm,” Ryoko hanya mengangguk tanpa menjawab.


“Tiket untuk kita berangkat sudah siap, oleh karena itu kamu juga harus bersiap-siap untuk berangkat.”


“Tapi, aku tidak punya pakaian lain.” Kata Ryoko dengan nada yang menyedihkan. Ya, dia ingat bahwa barang-barangnya tertinggal di kapal semalam. Kenapa aku selalu saja sial!


“Kamu tenang saja, aku sudah memesan pakaian untuk mu dari hotel, dan sekarang itu ada di dalam kamar mandi, jadi kamu bisa memilihnya sendiri.”


Chu Xian tidak berkata apa-apa lagi, dan keluar dari kamar hotel, sebelum membuka pintu ia tak lupa mengingatkan, “Temui aku di bawah, di restoran hotel.”


Melihat Chu Xian yang sudah pergi. Ryoko pun bangkit dari tempat tidur.


Apakah sekarang aku bisa melarikan diri. Tidak, tidak, dengan kemampuan orang itu, menemukan dirinya merupakan hal yang sangat mudah. Lalu apa yang harus dia lakukan agar bisa terlepas. Apakah hanya bisa membawa orang itu untuk mengikuti nya ke negara J dan bertemu dengan adiknya.


Ryoko baru ingat. Bagaimana kalau saat Chu Xian melihat adiknya yang sama sekali tidak sakit. Apakah itu akan membongkar kebohongan nya.


Wajah Ryoko berubah lagi dan lagi.


“Kali ini aku akan mati.” Ryoko sudah menyerah dengan nasibnya sendiri. Tapi sebelum mati, dia sangat ingin melihat adiknya untuk yang terakhir kali.


Berjalan dengan langkah yang gontai dan lemah, dia mandi untuk menyegarkan hatinya, tapi tetap saja ia merasa tidak bahagia di dalam hatinya.


Setelah mengganti pakaiannya, dia pun keluar dari kamar hotel dan berjalan ke bawah, sesuai dengan apa yang di katakan Chu Xian. Saat ini Chu Xian sedang duduk pada salah satu meja yang ada di restoran hotel ini. Dapat di lihat bahwa makanannya masih belum di sentuh.


Apakah ini karena menunggu dirinya?


Ryoko sedikit senang di hatinya.


“Lama sekali.” Chu Xian dengan suasana hati yang tidak baik. Dia melihat jam dan menyadari bahwa dia sudah menunggu selama hampir satu jam! Apakah semua wanita seperti ini, apakah berdandan sangat penting bagi wanita.


“Maaf.” Ryoko menundukkan kepalanya. Tidak mungkin kan dia bilang bahwa dia berlama-lama karena sedang memikirkan kematiannya yang sudah dekat.


Nyatanya Chu Xian sama sekali tidak pernah menggertaknya, tapi Ryoko hanya trauma dengan apa yang di lakukan oleh Chu Xian beberapa hari yang lalu.


Hancurkan kota dengan satu tangan!


Pemandangan itu adalah satu hal yang tidak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya.


“Yah, tidak apa-apa. Ayo duduk, setelah makan kita akan segera berangkat.” Chu Xian menghela nafas sambil melambaikan tangannya tak peduli.


Jika bukan karena wanita ini adalah kakak dari Junko, dan dia sudah berjanji akan menemukan kakaknya, maka sekarang dia akan meniggalkan wanita ini di sini, dan pergi ke negara J sendirian.


Ryoko juga penurut, dan makan makanan di atas meja dengan lahap. Memang benar dia merasa sangat lapar, karena sejak tadi malam dia belum menyentuh makanan sama sekali.


Melihat Ryoko yang makan dengan sikap yang menyedihkan, Chu Xian pun mau tak mau menjadi kasihan. Dia tidak tau sebenarnya yang membuat Ryoko menyedihkan adalah dirinya sendiri.


Ryoko melirik Chu Xian yang memandangi dirinya dengan tatapan kasihan.


Apa-apaan matamu itu.


Aku tidak butuh tatapan simpati mu itu, yang ku butuhkan hanya agar kamu melepaskan ku dan tidak mengikuti ku lagi.


Dia tidak berani mengatakan kalimat itu. Sambil mengunyah makanan di mulutnya, wajah Ryoko diam-diam menghitam.


(Akhir bab ini)