
Malamnya, Chu Xian dan Wang Zi yang sudah bersiap pun langsung pergi ke tempat yang di janjikan.
Tak tanggung-tanggung, mereka langsung di sambut oleh para petinggi negara di lokasi tersebut.
"Perkenalkan saya Chi Siang. Seorang Kepala Mentri Pertahanan." kata seorang pria paruh baya memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya dan tersenyum.
"Saya Mu Cheng. Wakil Presiden negara." kata Mu Cheng dengan singkat.
Chu Xian hanya mengangguk pelan dan menjabat tangannya kepada Chi Siang. Sedangkan Wang Zi hanya tersenyum tipis karena dia sudah sangat mengenal kedua orang ini.
"Oke, kami berharap kamu akan menyelamatkan negara ini dengan mengambil kembali benda itu."
"Dan kami juga berharap akan keselamatan kalian berdua, karena negara yang akan kalian kunjugi ini sekarang sedang perang saudara dan kamu tau itu sangat berbahaya!"
Mu Cheng berkata dengan penuh harapan dan peringatan.
Baik...
Setelah berbincang-bincang sebentar, Chu Xian dan Wang Zi pun segera memasuki jet pribadi milik Mo Fu yang telah di persiapkan.
.....
Empat jam kemudian, pesawat jet yang mereka naiki pun sampai ke negara J, dan langsung turun di bandara kota lama.
Setelah Chu Xian dan Wang Zi turun dari pesawat, pesawat tersebut langsung segera pergi kembali karena mereka masuk tanpa izin ke negara ini.
"Hei Pak Tua, apakah mereka tidak terburu-buru, dan langsung pergi begitu saja?" tanya Chu Xian yang tidak tau bahwa mereka masuk diam-diam di negara ini.
"Biarkan sajalah mereka, yang penting kan kita sudah sampai di sini, dan sekarang ayo kita cari tempat untuk menginap terlebih dahulu." Wang Zi menjawab dengan senyuman.
Oke, Chu Xian hanya mengangguk mengerti. Lalu mereka berdua segera mencari taxi atau apapun itu untuk mengantarkan mereka ke hotel, karena yang penting sekarang ini mereka bisa segera beristirahat.
Tapi setelah lama mencari, mereka berdua sama sekali tidak menemukan kendaraan yang lewat ataupun terlihat di jalanan kota ini. Kota ini sudah seperti kota mati yang tidak berpenghuni.
"Pak Tua, apakah ini tidak terlalu sepi? Dan tak ada satupun yang lewat dari tadi, apakah ini kota hantu?" Chu Xian tak bisa menahan diri untuk bertanya kepada Wang Zi.
"Hehe!" Wang Zi hanya terkekeh, lalu tertawa dengan keras. "Ha ha ha!" Wang Zi menertawakan kebodohan Chu Xian.
"Apa yang kamu tertawakan Pak tua?" tanya Chu Xian dengan tidak senang. "Apa yang kamu ketahui?" Chu Xian menggoyangkan badan Wang Zi.
“Ha ha ha!” Wang Zi tertawa semakin keras. “Kamu tau nama kota ini?” tanya Wang Zi langsung berubah serius.
"Kota Mati bukan!" Chu Xian berkata dengan dalam.
Tapi tak lama dia jadi mengerti sesuatu.
Ah! Apakah maksudnya kota ini adalah kota yang ditinggalkan?
Chu Xian merasa bahwa asumsi nya benar, lalu dia menatap Wang Zi dengan tajam, “Kenapa kamu tidak mengatakan nya dari tadi? Apakah kamu sengaja?” tanya Chu Xian merasa dia benar.
"Kamu tidak bertanya." Wang Zi berkata ringan dengan merentang kan kedua tangannya.
"..." (Chu Xian terdiam lama)
Begitulah kedua orang itu tidak menemukan alat kendaraan sama sekali. Tapi, Chu Xian yang mempunyai banyak ide memutuskan untuk bermalam di sini dulu.
Lalu mereka memilih untuk memasuki sebuah gedung tua, dan memilih untuk beristirahat di sini.
.....
Keesokan harinya.
Chu Xian terbangun pagi-pagi sekali, melihat Wang Zi yang masih tidur di sudut ruangan, dia pun berdiri dan berniat untuk mengirup udara segar di luar.
Setelah mencuci mukanya di sebuah krang air yang ternyata masih menyala dan mengalir, di depan gedung tua ini, Chu Xian pun berjalan sambil merenggang kan badannya dan menghirup udara segar di hari yang cerah ini.
Tapi Chu Xian merasa ada yang kurang, yaitu kota ini tidak ada penghuni nya, seperti dialah satu-satunya orang yang berada di sini.
“Huh” Chu Xian menghela nafasnya dengan panjang, dan menggeleng kan kepalanya berkata, “Sayang sekali... Apakah kota ini bisa kubuat menjadi markas konsorsium perusahaan ku, karena kota seluas ini tidak ada yang punya.”
"Chu Xian! Kamu sedang apa?"
Ahh!
Chu Xian terkejut dan berteriak, karena tiba-tiba Wang Zi bertanya di belakang dirinya sambil menepuk pundaknya dari belakang.
"Huh, mengagetkan ku saja!" Chu Xian mengelus dadanya.
"Hehe, kulihat kamu sudah bangun, jadi aku mencari mu di luar." Wang Zi menggosok hidungnya dengan tertawa.
"Jadi bagaimana?" tanya Chu Xian.
"Bagaimana cara kita untuk pergi dari sini! Coba kamu lihat, tidak ada apapun disini bahkan kendaraan untuk kita pergi pun tidak ada!" Chu Xian berkata sambil menunjuk jalanan yang sepi dan kosong.
"Tenang saja!" Wang Zi mengatakan nya dengan ringan seperti tanpa beban.
"Tenang saja..."
"..."
Chu Xian benar-benar terdiam!
Apanya yang tenang saja?
Bagaimana cara mereka untuk pergi?
Apakah mereka akan berjalan kaki untuk pergi dari kota ini?
Kepala Chu Xian penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang memusingkan.
“Sekarang masih jam enam pagi!” Wang Zi melihat jam di tangannya, lalu berkata, “Kurasa sebentar lagi kita akan di jemput...”
Tak lama setelah Wang Zi berkata seperti itu. Tiba-tiba di langit kota terdengar suara helikopter yang turun ke arah mereka.
!
"Hei Pak tua! Apakah ini yang menjemput kita?" tanya Chu Xian menunjuk helikopter yang sudah turun.
Apakah ini tidak terlalu berlebihan?
Helikopter!
Serius!
Wang Zi hanya tersenyum lebar, lalu dia berjalan ke arah helikopter tersebut dengan santainya.
"Tuan Wang! Kendaraan Anda sudah siap!" seorang pria yang sepertinya adalah pilot helikopter ini turun dan membungkuk ke arah Wang Zi.
"Apakah ini orang mu?" tanya Chu Xian mendekati Wang Zi.
"Ya, dia adalah orang dari negara kita yang ku perintahkan untuk memantau pergerakan di sini, dan silahkan kamu kenalan." Wang Zi mengangguk pelan.
"Hallo Tuan Chu! Saya Meng Di dari unit kerajaan tersembunyi!" Meng Di membungkuk kepada Chu Xian dan berkata dengan penuh hormat.
Inilah idolanya!
Dia sudah sering mendengarkan aksi-aksi heroik dari Chu Xian yang legendaris, dan hari ini dia benar-benar merasa beruntung untuk bertemu secara langsung dengan idolanya.
“Baik,” Chu Xian mengangguk dengan tersenyum, lalu berkata, “Ayo kita segera berangkat...”
Chu Xian segera berjalan ke depan dan langsung memasuki helikopter ini duluan.
"Baik Tuan Chu!" Meng Di merasa senang dengan respon Chu Xian terhadap dirinya, lalu dia dan Wang Zi memasuki tempat duduknya masing-masing.
Lalu Meng Di membawa mereka terbang keluar dari kota mati ini.
.....
Satu jam kemudian.
Akhirnya mereka sampai di sebuah kota yang terlihat sama saja dengan kota yang mereka masuki sebelumnya, tapi di sini masih banyak orang yang menghuni nya.
Helikopter turun di atas sebuah gedung pencakar langit, Chu Xian, Wang Zi dan juga Meng Di pun segera keluar dan melihat kebawah dari atas gedung tersebut.
"Apakah memang seperti ini?" tanya Chu Xian menunjuk ke bawah.
Karena dia sekarang sedang melihat, bahwa kota ini seperti medan perang yang dimana-mana ada suara tembakan dan ledakan.
"Ya, kami sudah memantau di sini selama sebulan penuh dan memang seperti inilah yang terjadi di sini, tapi untung saja kita turun di lokasi aman, jika tidak..." Meng Di tidak melanjutkan nya lagi karena kita tau apa yang akan terjadi jika kita memasuki medan perang.
Bisa-bisa helikopter ini di tembak jatuh!
Chu Xian memikirkan nya dengan hati-hati.
"Fyuh, kalau begitu ayo kita turun!" Chu Xian menghela nafas lega dan berkata dengan penuh kelegaan.
Lalu Chu Xian, Wang Zi dan juga Meng Di, segera turun dari gedung tersebut melalui pintu alternatif yang ada di atas gedung ini.
(Akhir bab ini)