
Pagi hari, sinar matahari melewati celah-celah jendela mengganggu tidur nyenyak Chu Xian.
Merasa silau, ia menutupi mata nya, lalu masuk kembali kedalam selimut nya.
Tok.. Tok..
"Kakak tampan!"
Suara teriakan keras mengganggu lagi, dan Chu Xian pun menutupi telinga nya dengan bantal.
Cklek..
Pintu kamar di buka, seseorang masuk, dan menarik selimut Chu Xian.
"Kakak tampan! Bangun, di suruh ayah turun kebawah."
"!?"
"Siapa sih yang mengganggu tidur tuan muda ini?"
Chu xian duduk, melihat Su Xiao berdiri di samping tempat tidurnya, memegang selimut yang baru ditariknya.
'.......' (Chu Xian terdiam)
Pikirannya masih loading.
"Ahh, baru ingat! Hari ini ternyata aku tidur dirumahnya Rukia," menepuk kepalanya, berpikir dia tidur dirumahnya sendiri.
"Ahaha.. Maaf Xiao kecil, kakak tadi habis mimpi indah, jadi susah untuk bangunnya." kata Chu Xian tersenyum hehehe.
"Benarkah!" kata Xiao memandang Chu xian dengan tatapan percaya dengan hantu.
"Ya sudahlah.. ayo turun," kata Xiao tak perduli.
Su Xiao pun turun duluan, sedangkan Chu Xian memasuki kamar mandi terlebih dahulu, dan mencuci muka.
Turun ke bawah, ia melihat Pak tua Su sudah menunggunya di meja makan, tersenyum ringan Chu xian pun ikut duduk.
"Tidur nyenyak?" tanya Pak tua Su basa-basi.
"Yah," jawabnya mengangguk ringan.
"Apakah kamu mendengar suara yang misterius tadi malam," tanya Pak tua Su.~
"Soalnya tadi malam saya mendengar ada suara seperti orang yang sedang berkeliaran, tapi setelah saya lihat lagi suara itu pun menghilang?" lanjutnya.
"??"
Chu Xian bingung, dia sendiri tidak mendengar suara apapun tadi malam, lama berpikir Chu Xian pun menggelengkan kepalanya tidak tau.
"Kucing nakal kali pak!" jawab Chu Xian merasa perkataannya masuk akal.
Rukia yang baru duduk pun mukanya langsung memerah, mendengar pembicaraan mereka.
"Mungkin saja," kata Pak tua Su memikirkannya sebentar lalu mengangguk.~
"Baik, jangan membahasnya lagi, ayo makan dulu." lanjut Pak tua Su tidak memikirkannya lagi.
Mengambil hidangan, Chu Xian, Rukia, dan Xiao kecil pun juga mengikuti.
Setelah selesai makan, Pak tua Su pergi ke ruang tamu mengajak Chu Xian.
Chu Xian duduk, membuka sebungkus rokok, mengambil sebatang dan menyalakan nya.
Pak tua Su pun juga merokok, karena dia sudah sehat dari sakit nya, tak ada yang bisa melarang diri nya merokok lagi, termasuk dokter.
"Apakah nak Chu mau pulang hari ini?" tanya Pak tua Su membuka pembicaraan sambil menghisap rokok.
"Yah, nanti saya akan dijemput oleh teman saya," kata Chu Xian mengangguk perlahan.
"Apakah kamu juga mau membawa anak saya,"~
"Yah, soalnya kalian kan berencana untuk menikah." kata Pak tua Su.
"??"
'.......' (Chu Xian terdiam)
Berpikir kapan dia mengatakan akan menikah, perasaan dia tidak pernah mengatakan itu.
Menatap Pak tua Su, Chu Xian merasa dia seperti sudah dijebak.
"Ahem.. Pak kita berdua belum menikah, jadi nggak baik membawa pulang anak bapak." kata Chu Xian mencari alasan.
"Ohh, jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Pak tua Su.
'.......' (Chu Xian semakin terdiam)
"Jebakan! Ini pasti jebakan!" teriak Chu Xian didalam hatinya.
Menatap Pak tua itu, bertanya-tanya apakah Pak tua ini sedang mencari-cari kesalahannya.
Sebenarnya ia belum siap untuk menikah apalagi di usianya yang masih muda, dia masih ingin menjalani hidup tanpa tekanan dari memiliki rumah tangga.
"Uhuk.. Uhuk, Pak jika kita sudah siap untuk menikah, maka kita akan menikah dan diwaktu kami sudah siap maka saya akan memberitahukan nya kepada bapak, dan sekarang Rukia nya juga masih belum siap pak." kata Chu Xian mencari alasan yang paling masuk akal.
"Benarkah?" kata Pak tua Su memandang Chu Xian dengan tatapan curiga.
"Ya, ya jika bapak tidak percaya, bapak bisa menanyakannya langsung kepada Rukia." kata Chu Xian mengangguk lagi dan lagi.
"Baik, jika begitu saya tanya dengan Rukia dulu," kata Pak tua Su merasa saran Chu Xian masuk akal.
"Rukia! kesini kamu dulu!" teriak Pak tua Su memanggil Rukia.
Di dapur, Su Rukia yang mendengar panggilan ayahnya pun bergegas ke depan, meninggalkan teh yang sedang dibuat oleh nya.
"Iya, ada apa Yah?" tanya Rukia.
"Benar jika kamu belum siap?" tanya ayah nya langsung.
"??"
"I.. Iya Yah, Rukia masih belum siap!" kata Rukia menganggap pertanyaan ayahnya merupakan pertanyaannya tentang teh yang dia buat.
'.......' (Ayahnya terdiam)
Huh..
Menghela nafas nya, padahal dia masih ingin untuk cepat-cepat memiliki cucu, tapi setelah memikirkannya kembali dia pun tidak terlalu menekan mereka berdua lagi.
"Yah, mungkin saya belum bisa memiliki cucu dalam waktu dekat ini." kata Pak tua Su kemudian.
Uhuk..
Chu Xian tersedak, sedangkan Su Tukia wajahnya memerah, mengerti jika dia sudah salah paham dengan pertanyaan ayahnya tadi.
Melihat tak ada dari mereka yang bersuara, Pak tua Su pun menghela nafasnya lagi.
Tinn..
"Ya sudah, jika begitu saya mau pergi pulang dulu pak, teman saya sudah sampai untuk menjemput saya." kata Chu Xian yang mendengar suara mobil di luar.
"Ya.. Dan terima kasih lagi sudah mengobati saya," kata Pak tua Su tulus.~
"Dan Rukia, antar nak Chu ke depan." pinta pak tua Su kepada Su Rukia yang masih berdiri di belakangnya.
"Iya Yah."
Mengantarkan Chu Xian ke depan pintu, Su Rukia sudah seperti seorang istri yang mengantar kepergian suaminya.
"Chuxun!" panggil Rukia dibelakangnya.
"Hmm" gumam Chu Xian menoleh.
Cuup..
Mencium pipi Chu Xian, Rukia pun langsung berlari masuk kedalam, hanya terdengar kata terimakasih dari Rukia yang terdengar.
Memegang pipi nya, Chu Xian pun tersenyum.
"Lembut juga bibir nya," kata Chu Xian.
Lalu ia pergi menuju ke mobilnya, kasian Cheng Hai yang menunggu lama dirinya.
"Hari yang baik Bos?" tanya Cheng Hai tersenyum, karena ia melihat adegan tadi.
"Yah."
"Mau kemana kita Bos?"
"Antar saya pulang ke villa terlebih dahulu, saya mau mengganti pakaian."
"Ok Bos, siap,"
Membawa mobilnya, dan tak lama mereka pun sampai ke villa Chu Xian.
Turun dari mobil, Chu Xian pun memasuki villa nya dan tak lama dia keluar lagi dan memasuki mobilnya kembali.
"Mau kemana Bos?"
Melihat Chu Xian yang sepertinya sudah bersiap, memakai jaket hitam dan sebuah topi hitam.
"Antarkan saya ke Bandara!"
"Uhh.. Bos, apakah kamu mau pergi ke kota Gansu?"
"Ya, saya ingin melihat situasi cabang perusahaan kita yang di sana."
"Owh, baiklah Bos."
Cheng Hai pun membawa mobilnya menuju bandara kota, setelah perjalanan yang agak lama, mereka pun akhirnya sampai.
Turun dari mobil, Chu Xian langsung menuju ke tempat antrian penumpang. Sedangkan Cheng Hai yang juga turun, pergi ke tempat pembelian tiket.
Di loket, Cheng Hai melihat ada seorang pengurus yang duduk di sana.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya pengurus loket itu.
"Saya ingin sebuah tiket jurusan Gansu, apakah tiketnya masih ada?"
"Ohh, bapak beruntung karena hanya tinggal satu lagi tempat duduk di pesawat jurusan kota Gansu," kata pengurus itu, lalu memberikan sebuah tiket kepada Cheng Hai.
"Baik, terimakasih."
Setelah membayar dan mengambil tiket tersebut, Cheng Hai pun berbalik menuju ketempat Chu Xian menunggu.
"Bos, ini tiket nya dan kamu bisa pergi setelah menunggu keberangkatan satu jam lagi,"
"Ok, jika begitu kamu boleh pulang, dan nanti katakan kepada Shi Yuan jika saya sudah berangkat ke kota Gansu."
"Baik Bos."
Setelah melihat kepergian Cheng Hai, Chu Xian pun langsung pergi ke tempat menunggu keberangkatan.
Setelah satu jam kemudian.
"Untuk jurusan ke kota Gansu silakan memasuki pesawat dengan nomor 007 karena pesawat akan segera berangkat!"
Terdengar suara panggilan dari pengeras suara bandara tersebut.
Mendengar itu pun, Chu Xian segera memasuki pesawat, tidak terlihat ia sedikit gugup karena ia baru pertama kalinya menaiki pesawat terbang.
Duduk di kursi penumpang, Chu Xian memilih untuk duduk di belakang.
"Pesawat akan lepas landas sebentar lagi, dan silahkan para penumpang untuk mendengarkan intruksi dari pramugari untuk keamanannya." kata suara Asisten Intelijen pesawat tersebut.
Lalu tak lama kemudian pesawat itu pun lepas landas dan terbang.
(Akhir bab)