Achievement System

Achievement System
Bab 121 : Marga Wang?



Di dalam kamar.


Wang Ziyan sedang duduk bersandar di tempat tidurnya sambil memegang sebuah buku.


“Ziyan, kakak kembali!”


“Hmm...”


“Apakah kamu tidak menyambut kakak?”


“Oh...”


“...”


Wang Ziyan sedikit melirik lemari di sudut ruangan. Lalu menarik pandangan nya kembali, dan terus saja membaca buku yang ada di tangannya.


Chu Xian saat ini bersembunyi di dalam lemari. Tapi karena penasaran dia pun mengintip sedikit untuk melihat situasi di luar. Tunggu dulu! Bukankah itu...


“Apa yang sedang kamu baca?”


“Langkah-langkah dasar ber kultivasi...”


“Apakah kamu—”


Brak!


Chu Xian keluar.


Wang Ziyan begitu kaget dengan tindakan tiba-tiba Chu Xian. Kenapa kamu keluar!


Chu Xian langsung mendekati Wang Zi dan memeluknya sambil tersenyum bahagia,“Hei pak tua!”


“Chu, Chu Xian!”Sekarang Wang Zi yang sangat terkejut sehingga tidak tau harus berkata apa untuk sementara waktu. “Ke, kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah waktu itu kamu...”Dia tidak melanjutkan perkataannya.


“Apakah kalian saling kenal?”Sekarang Wang Ziyan pula yang terkejut.


“Ya,”Kedua orang itu mengangguk bersamaan.


“Hei pak tua, kenapa kamu tidak bilang bahwa kamu berasal dari sini, sekarang aku dalam situasi yang sulit. Kupikir, kupikir aku terdampar di tempat yang tak di kenal, dan lihat saja sekarang, aku terluka dan butuh waktu untuk memulihkan diri... Dan untung saja ada Wang Ziyan yang menyelamatkan ku, tapi aku sungguh tak menyangka bahwa dia adalah adik mu, sungguh...”Chu Xian mengeluh lagi dan lagi.


“...”Wang Zi terdiam dan tak tau harus berkata apa untuk waktu yang lama.


Di dalam hatinya, “𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘊𝘩𝘶 𝘟𝘪𝘢𝘯? 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘸𝘢𝘴 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘊𝘩𝘶 𝘟𝘪𝘢𝘯? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘯𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘶? 𝘋𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳 𝘢𝘥𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢?!”


“Pak tua, kenapa kamu hanya diam saja? Hei, hei kamu sadar tidak...”Chu Xian menggoncang-goncang tubuh Wang Zi yang sepertinya tidak sadar.


“Chu Xian, bagaimana kamu bisa ada di tempat ini?”Tanya Wang Zi setelah menenangkan dirinya.


“Huh,”Menghela nafasnya, Chu Xian berkata, “Ceritanya panjang Pak tua, tapi aku akan menceritakan nya kepada mu, sekarang ayo duduk dulu...”


Chu Xian lalu menceritakan awal tentang kenapa ia bisa berada di tempat ini. Dari waktu ledakan itu terjadi, dia bercerita sewaktu dia hampir mati, di waktu yang sangat kritis dia melihat seorang pria yang sangat hebat dan bisa terbang di udara menyelamatkan dirinya, dan setelah itu dia kehilangan kesadarannya, dan sewaktu bangun dia sudah berada di tempat ini.


Wang Zi lalu bertanya kepada Wang Ziyan apakah yang di katakan Chu Xian adalah benar, dan Wang Ziyan pun menceritakan secara singkat bagaimana dia menemukan Chu Xian yang jatuh dari langit sehingga membuat Wang Zi pun akhirnya percaya dengan apa yang di katakan Chu Xian di awal.


“Apakah kamu melihat wajah pihak lain?”Tanya Wang Zi penasaran. Sekarang dia sudah tidak marah lagi, dan kembali seperti biasanya.


“Wajah senior itu di tutupi dengan sebuah topeng dan waktu itu juga karena ledakan itu aku sudah hampir kehilangan kesadaran ku, jadi yang terlihat hanya buram. Hehe...”Chu Xian berkata dengan senyuman seolah-olah hal itu benar terjadi. Di dalam hatinya, “𝘜𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨, 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵, 𝘣𝘪𝘴𝘢-𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘢𝘮𝘱𝘶𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘪...”


“Maaf, sepertinya ini salah ku,”Wang Zi menghela nafasnya dengan sedih, “Ku pikir waktu itu kalau aku menghentikan mu, maka kejadian ini pasti tidak akan terjadi, dan ku pikir kita tidak akan bertemu lagi untuk yang kedua kalinya, sekarang di luar kamu sudah di anggap tewas sebagai pahlawan...”


“Tak perlu sedih Pak tua,”Menepuk pundak Wang Zi, Chu Xian sambil tersenyum berkata, “Aku melakukan itu dengan rela, dan sekarang kamu kan sudah lihat aku sudah tidak apa-apa... Lihat, lihat, aku begitu sehat, dan aku hanya kehilangan kekuatan kultivasi untuk sementara waktu saja...”


“Baik, sekarang kalian sudah selesai bicara, dari tadi aku ingin bertanya kepada kalian?”Wang Ziyan yang sedari tadi diam pun mau tak mau berbicara.


“Ada apa?”Tanya Wang Zi di samping.


Chu Xian hanya tersenyum saja. Sekarang dia tak perlu terjerat lagi dengan wanita ini dan bisa kembali ke rumah.


Wang Ziyan langsung bertanya:“Kakak, siapa dia sebenarnya, kenapa kamu sepertinya begitu mengenalnya?”


Wang Zi menjawab sambil tersenyum: “Dia, oh kamu tidak tau, orang ini adalah teman kakak yang paling baik, tapi kamu jangan dekat-dekat dengan dia, sini kakak bisikkan...”Wang Zi berbisik kepada Wang Ziyan, “Dia itu adalah iblis...”


Lalu Wang Zi menceritakan semua tentang Chu Xian dan jika hal itu menyangkut tentang keburukan Chu Xian, Wang Zi pun menceritakannya dengan semangat.


Wajah Chu Xian di samping pun jadi menghitam, jangan kira dia tidak dengar dengan apa yang Wang Zi ucapakan. Sepertinya Wang Zi sengaja melakukannya agar dia jangan dekat-dekat dengan Wang Ziyan. Tapi, kenapa pak tua ini memiliki adik perempuan yang sangat cantik! Chu Xian ingin marah tapi tak bisa marah.


“Benarkah? Aku tidak percaya dengan perkataan kakak, ku pikir dia cukup baik, dan juga—”


“Dan juga apa?”Tanya Wang Zi mengerutkan keningnya tidak senang.


“𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯,”Bisik nya diam-diam melanjutkan.


Kening Wang Zi berkerut. Apakah adiknya tertarik dengan bocah Chu Xian? Tidak-tidak, tidak bisa! Dia tidak akan pernah mengizinkan adiknya bersama dengan Chu Xian!


Wang Zi berbalik untuk menatap Chu Xian dengan pandangan yang buruk.


Chu Xian yang di tatap pun merasa tidak nyaman, “Uhuk, sebaiknya kita keluar dulu, aku sudah 1 bulan tidak makan, dan karena kamu tuan rumahnya, maka aku akan mengikuti mu saja...”katanya berhasil mengubah topik, dan suasana yang cukup canggung.


“Ya, ya, aku adalah Raja di tempat ini, ayo aku akan membawamu ke istana kediaman ku dan menyajikan makanan yang paling enak di tempat ini, dan aku yakin kamu pasti akan cukup puas, haha...”Wang Zi berdiri sambil tertawa senang, dan melupakan kejadian tadi.


“Kakak, aku juga ingin ikut!”


“Kamu tinggal saja di kamar!”


“...”


(Akhir bab ini)