
"Kau kenapa begitu benci sekali sih padanya? Mungkin saja mereka ada urusan yang penting, Nia." ujar Narul.
"Terus..Terus saja membelanya." Nia pergi meninggalkan mereka. Ponselnya berdering, "Halo."
'Kau ada dimana?'
Nia tersenyum kecil ternyata Raka yang meneleponnya, "Baru mau pulang. Kenapa memangnya?"
'Kau sudah membujuk Livia agar dia mau membatalkan perjodohan kami?'
Senyuman Nia lenyap, "Kenapa kau membahasnya? telepon saja dia langsung kenapa harus melaluiku?" Gadis itu mematikan panggilan teleponnya secara sepihak.
Livia.. Livia. dan terus saja Livia.
Kenapa semua orang membahasnya?
Menyebalkan sekali.
"Nia.." Seorang temannya yang lain memanggilnya.
"Hai Nadia. Lama ga ketemu." sapa Nia padanya.
"Iya lama banget kita uda ga jumpa lagi. Oh iya, mau tanya deh. Memang benar ya Livia itu penerus satu-satunya keluarga Wijaya yang dulu dibilang sudah meninggal ternyata masih hidup?" tanya Nadia.
Nia sangat kesal hari ini, kenapa sih semua orang bertanya akan gadis itu padanya. Nadia memberikan ponselnya padanya memperlihatkan adanya rumor yang tengah hangat diperbincangkan. "Liat deh." Gadis itu membaca judul berita online dari sebuah portal berita yang resmi.
PENERUS TERAKHIR KELUARGA WIJAYA MASIH HIDUP?
"Lebih baik kau tanyakan pada yang lain. Jangan padaku. Bye." Nia pergi meninggalkan Nadia yang menatapnya bingung.
******
Tiara tersenyum saat melihat video amatir antara Raka yang menjambak Livia di depan sebuah restaurant. Pada malam itu, dia baru saja melakukan transaksi penjualan obat-obatan terlarang pada seseorang. Walaupun, wanit itu memang pengedar obat-obatan terlarang juga senjata ilegal. Tak pernah sekalipun, ia mencoba untuk menggunakan obat-obatan terlarang itu.
Begitu selesai dan akan menuju arah pulang, Tiara melihat Livia dan Raka datang ke sebuah restaurant. Karena penasaran ia mencoba untuk masuk kedalam dan menyuruh anak buahnya untuk menunggu di dalam mobil. Alangkah terkejutnya dia saat mengetahui ternyata Raka suka minum minuman beralkohol, tak lama terjadi perdebatan diantara mereka sehingga Livia keluar dari kafe tersebut dengan Raka mengikutinya dari belakang.
Awalnya Tiara menyuruh anak buahnya untuk merekam akan Raka dan Livia yang bertemu secara diam-diam namun, siapa sangka adegan Raka menjambak rambut Livia ikut terekam dan membuat rencanannya semakin mudah untuk menghancurkan keluarga Kusuma.
"Aku.. akan membalas atas apa yang pernah kau perbuat padaku Yeni Kusuma." Tiara mengingat masa lalunya dimana, ia dibuat tidak bisa berjalan selama beberapa bulan, dipermalukan di depan semua karyawan hingga harga dirinya ikut direndahkan oleh gadis itu. Dan sekarang..
Video amatir yang ia sebar akan menjadi awal dari hancurnya keluarga Kusuma.
"Kenapa kau tersenyum sendiri?" tanya Ayah Tiara padanya.
"Aku hanya tersenyum melihat bagaimana kacaunya keluarga Kusuma atas perlakuan Raka pada Livia." jawabnya.
"Apa maksudmu?"
Tiara memperlihatkan video dimana Livia berteriak minta tolong karena Raka menjambaknya, "Lihat ini. Aku sudah menyebarkannya agar mereka mendapatkan masalah baru."
Pak Rahmad (Ayah Tiara) hanya bisa menggelengkan kepala atas kelakuan puteri semata wayangnya. Walaupun begitu, ia juga sangat membenci teman-temannya yang sudah mengambil-alih kekayaan dan merubah nama perusahaan Wijaya menjadi Sapphire Blue Corp yang sekarang ini dikenal.
Beliau sangat sedih saat memikirkan beratnya beban yang Livia harus tanggung aplagi jika gadis itu mengetahui bahwa kematian orang tuanya bukanlah murni kecelakaan semata. Pak Rahmad (Ayah Tiara) membuka TV untuk menonton berita, namun yang didapatinya adalah....
Pembawa acara berita :
Berita selanjutnya, anda tentu masih ingat dengan perusahaan Wijaya yang 12 tahun lalu selalu meraih peringkat satu sebagai perusahaan yang paling terkenal se-Indonesia. Penerus terakhir dari keluarga Wijaya yang dulu diberitakan meninggal, ternyata masih hidup. Kita sudah tersambung dengan Ani yang berada di perusahaan SBC (Sapphire Blue Corp) yang dimana pemilik perusahaan ini dulunya merupakan salah satu orang kepercayaan dari Keluarga Wijaya. Ya. Ani.. bisa anda kabarkan apakah ada konfirmasi resmi dari perusahaan SBC terkait dengan rumor tersebut.
Pak Rahmad mematikan TV menatap Tiara yang asyik bermain dengan ponselnya, "Ini bukan dari kelakuanmu 'kan?"
Dengan santainya Tiara menjawab, "Memang kerjaanku. Lagipula semua orang harus tahu bahwa penerus terakhir Wijaya itu masih hidup."
"Itu bukan urusan kita apakah semua orang harus mengetahui akan adanya pemberitaaan tersebut. Tiara, Ayah tidak suka jika kau terus bertindak seperti ini."
"Biarkan itu jadi urusan Livia, kau tidak perlu ikut campur atas semua ini."
"Justru karena dia tidak punya apa-apa maka, aku harus membantunya untuk menghancurkan para pembunuh itu. Kalau saja... " Tiara terdiam sejenak, "Kalau saja orang tua Livia tidak meninggal maka, aku masih mendapatkan kekayaan dan kasih sayang yang selama ini tidak pernah ayah dan ibu berikan padaku!"
"Kapan acara ulang tahun perusahaan Sapphire Blue Corp?" tanyanya pada Tiara.
"3 hari lagi."
Pak Rahmad (ayah Tiara) mendesah pelan, "Kalau begitu bagaimana begini saja.." Beliau membisikkan sesuatu ke telinga puterinya. Saat mendengar akan ide ayahnya, Tiara tersenyum begitu puas.
******
Jimmy dan Livia telah tiba di kantor polisi untuk menemui Om David (Papa Jimmy), "Kenapa kau berada disini?" tanya pria itu yang tak suka melihat Robert berada disana.
"Aku yang memintanya untuk datang." ujar Livia berdiri disamping kekasihnya.
Jimmy berdecak kesal lalu masuk ke kantor polisi untuk menemui sang Ayah, "Papa, aku sudah membawa Livia datang kemari." ujarnya saat bertemu dengan beliau.
"Siang om." sapa Robert padanya.
"Halo, kau adalah kekasih dari puteri angkatku ya?"
"Betul om."
Papa Jimmy tertawa kecil, "Om tak menyangka kalau kau adalah kekasih dari Livia. Jadi begini, 3 hari lagi adalah acara ulang tahun perusahaan keluarga kami."
Livia terdiam, mengepalkan kedua tangannya dari bawah meja.
Itu perusahaanku.
Perusahaan yang sudah kalian rebut.
Robert yang mengetahui langsung memegang tangan kekasihnya agar tenang. Jimmy mengatakan, "Pa, perusahaan tangah ramai akan wartawan yang meminta penjelasan mengenai berita penerus keluarga Wijaya yang masih hidup."
Ya. Livia sudah mengetahuinya sejak Jimmy menceritakan hal itu di dalam mobil.
"Katakan saja pada mereka akan kita jawab saat di ulang tahun perusahaan kita. Livia, kau tidak keberatan kan?"
"Tidak om. Tapi, bisakah saya tetap memegang nama keluarga Wijaya di nama belakang saya?"
"Tentu saja." ujarnya tersenyum.
Hanya tinggal hitungan hari..
Perjalanannya akan dimulai..
Livia harus siap kalau jika ia diangkat menjadi bagian keluarga Kurniawan itu sama saja mengajukan dirinya untuk masuk dalam kandang singa dan buaya.
Gadis itu tahu dan punya bukti asli mengenai data perusahaan Jimmy yang diambilnya beberapa waktu lalu, juga surat wasiat ayahnya yang asli masih dia simpan di tempat yang aman.
Dengan dia menjadi bagian dari keluarga Kurniawan otomatis nyawanya juga terancam. Mereka semua..
Papa Jimmy..
Papa Yeni..
bahkan Papa Hanna..
Mungkin mereka akan membiarkan semua orang mengetahui kalau penerus keluarga terakhir Wijaya masih hidup. Akan tetapi, suatu saat nanti diantara mereka.. bisa saja ada benar-benar ingin melenyapkan Livia dari muka bumi ini untuk selama-lamanya.
-To Be Continue-