Our Love

Our Love
Part 98 : Retaknya pertemanan



Livia hanya ber-hmmh ria lalu mematikan panggilan telepon itu secara sepihak. Gadis itu tidak mau terlalu ambil pusing akan dari mana video amatir itu berasal. Yang sekarang dipikirkannya adalah skripsinya itu, ahh.. ya.. juga masalahnya dengan Nia.


Apakah ia harus menceritakan semuanya pada Nia?


Sepertinya tidak.


Buat gadis itu tidak semua masalah harus diceritakan pada orang lain, kita tidak tahu apakah setelah mereka mengetahui masalah yang tengah kita hadapi responnya akan biasa saja atau malah bersikap kasihan pada kita?


Ponselnya berdering, "Halo."


'Aku tak menyangka Raka akan berbuat seperti itu padamu.'


"Kau meneleponku hanya untuk membahas hal itu?"


'Ayo kita berkerjasama menghancurkan keluarga Yeni, Hanna dan Jimmy. Bagaimana?'


"Atas alasan apa kau tiba-tiba jadi berpihak padaku?"


'Ayolah, saat aku bertanya untuk apa kau mencari Pak Rahmad juga tidak memberitahuku alasannya. Lalu, aku juga akan sama tidak akan memberitahu apa alasanku.'


Livia terdiam mendengar perkataan Tiara yang meneleponnya. "Aku setuju untuk menjadi bagian dari keluarga Kurniawan."


Tiara tertawa kecil, 'Aku tidak menyangka yang awalnya kita bermusuhan namun, sekarang menjadi sekutu untuk melawan mereka. Aku akan sangat senang sekali kalau bisa berkerjasama denganmu, Livia Wijaya. Satu-satunya ahli waris keluarga yang selama ini dikira sudah meninggal ternyata masih hidup.'


"K..kau.." ucapan gadis itu terpotong oleh Tiara.


'Aku tidak akan meminta balasan apapun. Biarkan aku ikut membantumu untuk menghancurkan mereka.' Tiara menutup panggilan telepon itu secara sepihak.


Livia bingung, akan apa maksud dari Tiara yang tiba-tiba ingin sekali membantunya. Wanita itu sudah mengetahui identitas aslinya.


Rasa penasaran semakin menjadi saat mengetahui wanita itu berpihak padanya. Ada sesuatu hal yang gadis itu tidak ketahui dari Tiara.


Lebih baik ia bersiap-siap untuk pergi ke kampus untuk mengikuti bimbingan skripsi. Begitu keluar dari kost-an, Robert sudah menunggu di depan untuk mengantarnya. "Pagi.." Pria itu tersenyum memeluk kekasihnya.


"Pagi juga." Livia masuk dalam mobil kekasihnya.


"Kenapa kau tidak bersemangat begini pagi-pagi?" tanya Robert khawatir.


Gadis itu mendesah pelan, "Nia mengkick aku dari grup chat. Dia marah saat tahu perjodohanku dengan Raka."


"Seharusnya dia tahu kalau kau mempunyai kekasih dan tidak akan mungkin secemburu itu padamu." Robert tertawa merendahkan, "Bahkan aku kasihan pada Nia yang harus menyukai pria kasar seperti Raka."


"Tiara..Dia tadi meneleponku dan mengatakan akan berpihak padaku."


"Kenapa wanita itu tiba-tiba jadi berpihak padamu?"


"Dia tidak mengatakan alasannya. Yang pasti dia tahu bahwa aku adalah penerus terakhir dari keluarga Wijaya. Aku sangat takut untuk datang ke kampus mengingat video kemarin tersebar di dunia maya."


Robert memegang tangan kekasihnya, "Tenanglah semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu bersamamu apapun yang terjadi."


******


Suasana kampus yang begitu ramai menjadi hening saat Yeni datang bersama teman-temannya yang lain kecuali, Livia. Beberapa diantara mereka ada yang melirik sinis dan saling berbisik. "Sial.. karena ulah kak Raka aku harus menerima semua omongan dan tatapan sinis dari mereka." gumamnya pelan.


Narul merangkulnya, "Sudahlah Yen. Yang penting kan kita tahu kejadian sebenarnya seperti apa."


"Lagipula kenapa Livia bisa bertemu dengan kakakmu semalam?" tanya Nia penasaran.


"Membahas perjodohan itu."


"Livia 'kan sudah berpacaran dengan Robert mana mungkin dia mau menerima perjodohan gila ini." bela Hanna.


"Kau ini membelaku atau Livia sih?" tanya Nia tak terima teman-temannya yang lain membela gadis itu.


"Aku tidak membela siapa-siapa, Ni. Itu 'kan memang benar kalau Livia sudah mempunyai Robert jadi mana mungkin dia menyetujui akan perjodohan ini." jelas Hanna padanya.


"Ah.. sudahlah kalau kalian membelanya. Pergi saja temanan dengan dia." Nia pergi meninggalkan mereka.


"Nia kok jadi berubah begitu sih?" tanya Narul pada yang lainnya.


"Entahlah." jawab mereka secara bersamaan.


Begitu tiba di kelas mereka mendapati Livia tengah terduduk sendirian di bangku belakang sambil sibuk akan laptop miliknya. Nia memilih untuk duduk di barisan paling depan tanpa menyapanya.


Ada rasa kesal dalam dirinya.


Yeni dan Hanna adalah anak dari pembunuh orang tuanya. Mereka lebih pantas untuk dijauhi daripada dirinya yang hanya korban.


Nia, Ai Chan dan Narul semula marah pada Yeni dan Hanna karena mereka mengetahui ada sesuatu yang disembunyikan malah berteman dengan mereka seakan hal tersebut tidak pernah terjadi.


Ini tidak adil...


Kenapa harus Livia yang jadi korban atas semua masalah ini?


Kematian orang tuanya yang disebabkan oleh ulah orang tua Yeni, Jimmy dan Hanna maka, Livia yang menuduh dirinya sendiri selama bertahun-tahun sebelum mengetahui semua ini.


Nia marah padanya karena menggangap Livia merebut dan menerima perjodohan Raka yang berakhir teman-temannya lain ikut menjauhinya.


Livia tersenyum pedih.


Ini tidak adil..


Dia harus kehilangan orang tuanya saat berumur 12 tahun.


Dia hanya bisa melihat bagaimana tragisnya kedua orang tuanya menjnggal tepat di depan matanya sendiri.


Dia menyalahkan dirinya selama bertahun-tahun atas kematian orang tuanya hingga harus ke psikiater.


Dia tidak mendapatkan kasih sayang dari paman dan bibinya yang justru menjadikannya tulang punggung mereka dari kecil.


Dia tidak mendapatkan sepeserpun harta peninggalan orang tuanya yang justru dinikmati oleh Jimmy, Hanna dan Yeni.


Saat dewasa, dia mendapati teman-teman terdekatnya yang mengetahui semua masa lalunya kini menjauhinya atas alasan yang sepele.


Tidak adil...


Kenapa Livia harus mendapatkan semua ini?


Awalnya gadis itu mengira dengan semua teman-temannya tahu mengenai masa lalu kelamnya akan bersikap baik dan mau membantunya. Sekarang..malah sebaliknya. Mereka menjauhinya hanya karena rasa cemburu yang tinggi pada Nia.


Kini ia tersadar...


Persahabatan itu hanya omong kosong belaka.


Tidak ada yang namanya saat senang atau susah sahabat atau teman dekat tidak akan menjauhi kita.


Lihat sekarang apa yang sudah teman-temannya lakukan padanya.


Menjauhinya.


Sepanjang bimbingan skripsi berlangsung, Livia mencoba untuk fokus. Tidak perduli akan tatapan dan omongan sinis dari orang lain padanya. Yang terpenting adalah bagaimana caranya gadis itu menyelesaikan skripsinya secepat mungkin agar saat lulus, ia tidak akan bertemu lagi dengan Nia dan teman-teman lainnya.


Tak terasa 2 jam bimbingan pun telah selesai, dengan segera Livia pergi meninggalkan kelas menuju perpustakaan untuk meminjam beberapa buku agar bisa ia kerjakan di kamar kost-an.


Begitu menuju Lobby kampus, Jimmy sudah menantinya, "Hai.." sapanya menghampiri Livia.


"Kenapa kau berada disini?" tanya Livia padanya.


Jimmy melirik ke arah Yeni dan teman-temannya berada di belakang Livia juga ikut menatap mereka, "Kau tengan bermusuhan ya dengan mereka?"


"Untuk apa kau datang kesini?" Livia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Papa mau bertemu denganmu."


"Mau bahas apalagi?"


"Mana aku tahu." Livia segera masuk ke dalam mobil Jimmy yang diikuti oleh pria itu.


"Lihatlah bagaimana tingkah Livia mendekati banyak pria dan kalian masih mau memihaknya?" tanya Nia pada teman-temannya yang lain.


"Kau kenapa begitu benci sekali sih padanya? Mungkin saja mereka ada urusan yang penting, Nia." ujar Narul.


"Terus..Terus saja membelanya." Nia pergi meninggalkan mereka.


-To Be Continue-