
"Kalau aku tidak berkerja disana lagi, kau akan kembali berkerja di Rumah Sakit orang tuamu ?" Tanya Livia.
Robert mengganguk kemudian mengatakan "Tentu saja. Aku berkerja di perusahaan Jimmy juga agar selalu bisa berada disampingmu dan bertemu denganmu setiap saat." Godanya.
Pria itu sangat suka sekali menggoda Livia.
Buatnya sangat lucu saat melihat wajah cemberutnya.
Livia tertawa kecil lalu mengatakan, "Aku akui bahwa kau sangat gigih dalam hal itu."
"Tentu saja. Makanya, kau jangan meragukan kemampuanku. Aku bisa melakukan apa saja." Ujarnya memuji dirinya sendiri.
Livia tertawa kecil.
Beruntunglah pria ini termasuk orang yang tampan.
Jadi, gadis itu bisa memaklumi akan ke-narsis-an yang dimiliki kekasihnya.
Untung cinta.
Untung sayang.
Jadi, gampang untuk dimaafkan.
"Kita akan kemana ?" Tanya Livia.
"Berkeliling kota Bandung saja. Walau ini liburan bersama tapi, apa salahnya jika hanya kita berduaan saja pergi berkencan. Ya. Anggaplah trip kecil kita berdua." Ujar Robert. "Oh iya, bukankah seharusnya kemarin adalah hari terakhir kau berkerja di kantor Jimmy ? Kenapa kau bilang tadi masih tinggal seminggu dan dua minggu lagi ?" Lanjutnya.
"Walau aku sudah selesai masa magang tapi, kerjaanku belum selesai. Biarkan masa magangku sampai mendekati hari H ulang tahun perusahaan. Disana juga aku akan diperkenalkan sebagai anak angkat mereka." Jelas Livia.
Gadis itu tahu akan resiko yang diambilnya.
Saat pengumuman dirinya diangkat menjadi anak angkat keluarga Kurniawan maka, gunjingan sosial siap menantinya.
Ahh..
Kapan semua masalah ini akan selesai ?
Livia sudah terlalu lelah akan semua ini.
"Bisakah kita pergi ke minimarket lalu piknik saja di tempat yang bagus ? Aku ingin bersantai sambil tiduran di bawah rindangnya pohon juga merasakan semilir angin." Ujar Livia.
"Baiklah." Ujar Robert sambil tersenyum, "Keinginan tuan puteri akan hamba turuti."
"Kau ingin makan apa ?" Tanya Robert.
"Apa saja boleh." Ujar Livia.
******
"Kau suka ya pada Livia ?" Tanya Yeni blak-blakan pada Jimmy yang duduk disampingnya sedang memgemudi. "Keliatan jelas bahwa kau sangat tidak suka akan kedekatan Robert dan Livia."
"Bukan urusanmu." Jawab Jimmy.
"Memang keliatan banget Yen, sejak semalam dia benar-benar ga suka akan hubungan Livia dan Robert." Timpal Narul yang duduk di kursi belakang.
"Kalau suka ngaku aja sih. Kita juga sudah tahu dari gerak-gerikmu." Ujar Nia.
"Ash.. kalian ini para wanita pengen tahu banget ama apa yang aku rasakan. Sekarang kita mau belanja dulu atau kemana dulu gitu kek." Ujar Jimmy dengan sedikit emosi.
Memang sejak tadi pria itu begitu emosi melihat kedekatan Livia dan Robert.
Namun, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana pun juga dia harus rela dan menerima dengan lapang dada, juga selalu mengingatkan dirinya agar tidak boleh sampai menjadi orang ketiga diantara Livia dan Robert.
Jimmy merasa tidak pantas jika bersama dengan Livia.
Pria itu lah yang lebih pantas bersamanya, Robert jugalah yang selalu ada saat Livia membutuhkannya. Bukan dirinya.
Lagi pula, Livia mana mau berpacaran dengan anak dari pembunuh orang tuanya.
Sadarlah Jimmy.
Kau harus sadar bahwa Livia memang tidak ditakdirkan tercipta untukmu, tapi untuk pria lain di luar sana.
Pria itu harus merelakan Livia dengan pria lain.
Gadis itu bukanlah jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya.
Walaupun tidak bisa memiliki Livia, Jimmy berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan membantu gadis itu untuk mendapatkan kembali apa yang sudah menjadi hak-nya.
Meskipun hal itu harus membuat papanya mendekam dalam penjara lebih lama juga keluarganya akan jatuh miskin.
-To Be Continue-