
Aku...
Aku tidak akan pernah memaafkan kalian.
Kalian harus mendapatkan hal yang setimpal dengan apa yang keluarga kalian lakukan padaku selama ini.
Jimmy terkekeh kecil, "Sekarang kau yang terdiam."
"Apakah aku salah atas permintaanku ini ?" Ujar Livia yang sudah tak bisa menahan air matanya ini.
Kalian sudah menghancurkan kehidupanku.
Kalian pembunuh..
*Kalau saja.. Kalau saja papa dan mama masih hidup maka, aku tidak akan seperti ini.
Apa salah yang diperbuat papa dan mama sehingga kalian bisa seperti itu* ?
Seketika Jimmy panik lalu menghampirinya, "H..hei jangan menangis. Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah ?"
Air mata sialan..
Kenapa Livia harus mempermalukan dirinya sendiri di depan Jimmy dengan menangis seperti ini ?
Livia tersenyum kecil, "Aku tidak menangis Jimmy. Aku.. aku hanya mengantuk ya.. karena aku mengantuk lalu menguap sehingga ada air mata yang keluar." Gadis itu mengambil tissue dari dalam tasnya lalu berbalik membelakangi Jimmy untuk menghapus air matanya.
Jimmy menatap sendu punggung gadis yang bergetar di hadapannya.
Maaf..
Dia tahu kata itu tak mampu diucapkan.
Dengan pelan pria itu memeluk Livia dari belakang, kemudian berbisik, "Jika ingin menangis maka menangislah. Keluarkan semuanya. Jangan kau tahan kesedihanmu." Ujarnya pelan.
Livia langsung menumpahkan semua air matanya hingga membasahi lengan kemeja panjang Jimmy yang terdiam memeluknya dari belakang.
Karena kalian aku kehilangan papa dan mama..
Gadis itu sudah tidak kuat menahan semua ini. Selama 12 tahun terbuang percuma hanya karena Livia selalu menyalahkan dirinya atas kematian orang tuanya yang sebenarnya, penyebab kematian orang tuanya adalah perbuatan orang tua Jimmy, Yeni dan Hanna.
Sebuah fakta yang sangat membuat dirinya terpukul.
Fakta selama ini orang-orang terdekat bahkan sangat ia percayai adalah anak dari pembunuh orang tuanya.
Sungguh mengenaskan dan menyedihkan.
*****
Tiara berdiri di dekat jendela kamarnya memandang langit yang mendung sesekali meminum teh hangat, lalu berbalik menatap ayahnya yang asyik membaca koran. "Ayah mau sampai kapan berada disini ? Mereka semua nanti akan tahu kalau aku adalah puterimu."
"Biarkan saja mereka tahu. Ayah berada disini untuk melindungimu dari mereka. Kau pasti sangat membutuhkan ayah untuk mendapatkan informasi dari mereka 'kan ?" Ujar Pak Rahmad tanpa melirik sedikitpun ke puterinya.
"Aku tinggal menunggu waktu yang pas untuk membongkar kejahatan mereka di depan semua orang." Ujarnya kembali meminum teh hangat.
Pak Rahmat terkekeh kecil, "Kau sekarang jadi berpihak ke Livia begitu ?"
"Tidak." Jawabnya singkat. "Aku hanya membalaskan dendamku pada mereka karena sudah membunuh orang-orang yang sudah menyayangiku seperti anak mereka sendiri."
"Lalu, apa yang kau lakukan ?" Tanya Pak Rahmad menutup korannya lalu berjalan ke arah jendela, berhenti di samping puterinya.
"Aku akan menunggu hari dimana ulang tahun perusahaan Jimmy akan diselengarakan. Baru aku akan kasih satu hadiah untuk mereka." Ujarnya berbalik menuju dapur meninggalkan ayahnya sendirian menatap ke arah hujan rintik-rintik yang baru turun.
"Tenanglah disana." Ujarnya menatap awan hitam, "Semuanya akan terungkap secara perlahan."
*****
Livia yang merasa sudah agak tenangan melepaskan pelukan Jimmy, "Maaf, sudah membuat bajumu jadi basah begini."
Jimmy tersenyum, "Tak apa."
Justru aku-lah yang harus meminta maaf padamu.
-To Be Continue-