
Jimmy tersenyum memandang pintu ruangannya, "3..2..1"
Brakkk..
"Kau tidak mengatakan akan kesalahan di Trailer itu." Livia masuk ke ruangannya tanpa ada kata permisi.
"Apakah aku bilang seperti itu ?" Jimmy memasang wajah tanpa dosa. "Kau dengar sendiri dari tadi aku tidak berkomentar akan trailer tersebut."
"Tapi tadi...."
Ucapan Livia terpotong karena Jimmy tertawa kecil, "Ayolah jujur saja. Kau kangen padaku. Jangan buat alasan klasik seperti itu."
Pria gilaaaa.....
Livia terdiam dan segera keluar dari ruangan tersebut.
"Saya belum selesai bicara jangan pergi begitu saja !"
"Dasar pria sinting." Livia menekan tombol lift. Bu Jasmine yang baru saja menerima telepon langsung berbicara pada gadis itu, "Livia tadi Pak Jimmy menelepon dan menyuruhmu masuk lagi ke ruangannya."
"Iya bu makasih atas infonya." Dengan malas Livia masuk lagi ke ruangan tersebut.
"Ada apa Pak Jimmy memanggil saya ?" Livia tersenyum paksa menghampiri Jimmy yang tengah sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Duduk disana selama 1 jam. Kau dihukum karena tidak punya sopan santun pada saya." Ujar Jimmy tanpa mengalihkan pandangannta dari laptop.
"Tapi pak.."
"Tidak ada tapi-tapian. Kau duduk disana dan diam."
'Dasar boss gila.' Gumam Livia kecil.
Jimmy menatapnya, "Kau bilang sesuatu tadi ?"
Livia menggeleng, "Tidak pak."
"Yakin?"
"Iyaaa pak."
"Dari pada kau tidak ada kerjaan lebih baik bantu saja hancurkan semua berkas-berkas yang tak terpakai lagi dalam ruangan penyimpanan. Kau bisa tanyakan pada Bu Jasmine."
Livia keluar dari ruangan untuk menemui Bu Jasmine, "Bu Jasmine, tadi pak Jimmy menyuruh saya untuk menghancurkan berkas-berkas yang tidak terpakai dalam ruang penyimpanan."
"Sebentar ya ibu ambil kuncinya dulu." Tak butuh waktu lama beliau sudah mendapatkan kuncinya, "Mari ikut saya. Ruangannya persis di ujung sana."
Mereka tiba di ruangan yang terletak di ujung sebelah kanan, Bu Jasmine membuka pintu dan mereka langsung disambut oleh banyaknya debu membuat kedua wanita itu bersin." Pak Joko."
"Iya bu."
"Kalau kau sedang tidak sibuk tolong bersihkan ruangan ini ya."
"Kamu hancurkan kertas yang ini aja ya." Bu Jasmine memberikan setumpuk kertas yang berada di dekat pintu.
"Baik bu. Terima kasih." Livia kembali lagi ke ruangan Jimmy.
Livia menggetok pintu sebelum masuk dan meletakkan berkas-berkas itu diatas meja. "Mesin penghancur kertasnya ada dimana pak ?"
"Tanya Bu Jasmine."
Dengan malas Livia keluar, "Bu Jasmine. Mau tanya, mesin penghancur kertasnya ada dimana ?"
"Oh disini. Mari saya bantu kamu bawa masuk."
"Terima kasih bu."
******
Bunyi ketokan pintu terdengar dari ruangan Yeni, "Masuk."
"Kenapa aku dipanggil sih ? Lagi sibuk banget nih."
"Masalah Livia. Duduk dulu."
"Livia kenapa lagi ?"
"Aku mau tanya, kenapa papamu yang berhasil menemukan Livia ?"
"Aku tidak tahu."
"Kau tidak tanya padanya ?"
"Belum sempet tanya."
"Sekaranglah tanya."
"Aku lagi sibuk Yeni. Lagi pula Livia tidak kenapa-kenapa kok sekarang."
"Papamu tidak berencana membunuh Livia kan ?"
"Apaan sih ya ga lah."
"Well, kau bisa lanjut berkerja lagi."
Hanna hanya terdiam dan keluar dari ruangan Yeni. Semoga papa beneran tidak berencana untuk membunuh Livia. Gumamnya dalam hati. Yeni masih terdiam memikirkan kenapa bisa Livia bersama dengan papa Hanna.
"Semoga saja papa dan teman-temannya tidak berencana untuk membunuh Livia."
-To Be Continue-