
"Tidak. Mama tidak menyetujui jika kalian menikah. Livia masih sangat muda. Kalau kau ingin cepat menikah, papa dan mama bisa carikan isteri untukmu."
Syukurlah, calon ibu angkatnya juga menolaknya.
"Tapi, aku mencintainya."
"Aku tidak mencintaimu." Balas Livia.
"Bukankah papa dan mama akan sangat senang sekali jika mendapatkan menantu seperti Livia."
"Sekali tidak. Tetap tidak Jimmy. Jangan membantah. Papa akan menjodohkan Livia dengan Robert."
Livia dan Jimmy membulatkan matanya, "Robert ? Kenapa ?"
Papa Jimmy kembali duduk di sofa, "Tadi sebelum ke ruanganmu. Kami mampir ke ruangannya dan dia sudah tahu bahwa Livia akan kami angkat jadi anak. Jadi, ya.. Robert meminta ijin untuk mendekati Livia. Kami terkejut bahwa kalian berdua pernah berpacaran semasa SMA." ia menatap Livia.
"I..iya pa. Kami memang dulu pernah pacaran."
"Seharusnya papa dan mama menjodohkan dia denganku bukan dengan pria lain."
Tok..Tok..Tok...
"Permisi. Meeting akan segera dimulai." Bu Jasmine masuk untuk mengingatkan.
"Livia, kau disini saja tunggu kami kembali."
"Baik, Pak Jimmy." Semuanya terasa mendadak untuk gadis ini. Dimulai dari pertemuannya dengan Alexander hingga ia tiba-tiba saja diangkat menjadi anak.
Apakah mereka merasa kasihan akan aku yang sebatang kara ini ?
*Papa.. Mama.. Apakah benar kalau aku lah yang menyebabkan kalian sudah tidak ada lagi di dunia ini ?
Aku memang seorang pembunuh 'kan ?
Aku lebih mementingkan boneka pemberian dari Alexander dari pada keselamatan kalian.
Papa.. mama.. aku kesepian disini..
Aku kangen papa dan mama...
Maaf...
Maaf..
Maaf karena mungkin memang aku lah yang menyebabkan kalian meninggal seperti kata paman dan bibi..
Pa, Ma, aku sebenarnya tidak ingin menjadi anak angkat dari keluarga sekertaris papa dulu.. Pasti aku akan membuat mereka terbunuh untuk kedua kalinya kan ?
Aku ini pembunuh.. yang tak pantas mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang lain...*
12 Tahun yang lalu, ketika sehari setelah pemakaman orang tua Livia. Gadis itu dirawat oleh paman dan bibinya. Mengenai teman kecil Livia yang bernama Alexander pun tiba-tiba menjauhinya tanpa sebab.
"Kau ke kamar dulu ya, paman dan bibi mau berbicara."
"Iya paman."
"Kenapa kau biarkan anak pembunuh itu berada di rumah ini ?" Tanya Bibi Livia setelah keponakannya masuk kamar.
"Sayang, dia sendirian dan tidak ada yang mengurusnya. Lagi pula, kita juga tidak bisa mempunyai anak. Kenapa tidak kita anggap saja kalau dia itu adalah anak kita?"
"Dan kenapa kita tidak menaruhnya saja di Panti Asuhan agar ada keluarga lain yang memungutnya ?"
"Bukankah bagus kalau kita bisa menguasai perusahaan Wijaya yang jatuh ke tanganmu? Memang seharusnya jatuh ke Livia. Namun, gadis itu masih kecil hingga jatuh ke tanganmu."
Selama 1 bulan Livia berada disitu tidak pernah diurus oleh bibinya. Hanya Pamannya itu pun kalau beliau berada di rumah. Setelah pulang sekolah, gadis itu disuruh membersihkan rumah dan memasak sendiri.
"Selamat datang paman dan bibi. Makanan sudah siap di dapur." Livia tersenyum menatap mereka yang baru saja pulang.
Paman Livia menarik tangan gadis itu ke kamarnya, "Kau tunggu disini ya sebentar." beliau mengunci pintu Livia dari luar.
"Dia benar-benar gadis pembawa kesialan. Orang tuanya meninggal karenanya dan sekarang perusahaan itu bangkrut. Aku tak mau tahu, kau harus mengusirnya dari sini. Aku tak perduli dia mau tidur dimana." Teriak bibi Livia. Gadis kecil itu dapat mendengar semua pembicaraan mereka.
"Aku bukan pembunuh..hiks.. Aku bukan pembunuh..hiks..hiks.." Livia terduduk di lantai memeluk kedua lututnya.
Pagi harinya, paman Livia masuk dalam kamar terkejut mendapati keponakannya tertidur di lantai. "Livia..Livia.." Ia mengoyangkan badan kecil itu.
Gadis tersebut terbangun, "Paman.."
"Kenapa kau tertidur di lantai ?"
"Aku kangen pada papa dan mama."
Paman Livia tersenyum sedih, "Kau harus ke sekolah. Ayo mandi dulu nanti kau sarapan di mobil ya." Livia mengganguk dan segera mandi. Paman gadis itu terdiam memandang pintu kamar mandi.
Kasihan.. Baru saja ditinggal orang tuanya, kini kau harus mandiri di umur sekecil itu bahkan istriku sangat membencimu.
Setelah selesai mandi dan memakai baju seragam. Mereka masuk dalam mobil. "Paman.. aku tak mau sekolah lagi." Livia menundukkan kepalanya.
"Aku diejek di sekolah karena tak punya papa dan mama."
Paman Livia menatapnya iba, "Jangan perdulikan omongan orang."
"Mereka juga mengatakan bahwa aku ini seorang pembunuh karena gara-gara aku papa dan mama meninggal. Mereka semua takut padaku bahkan aku tak ada teman di sekolah."
"Dengarkan paman, kau itu bukanlah pembunuh ataupun pembawa sial. Orang tuamu meninggal bukan kesalahanmu tapi memang sudah takdirnya seperti itu. Jadi, paman mohon berhentilah menyalahkan dirimu sendiri dan fokuslah belajar."
Livia tersenyum sedih, "Kalau aku bukan pembunuh atau pembawa sial kenapa Alexander menjauhiku ? Kenapa bibi sangat membenciku ? Sudahlah paman, aku mendengar semuanya kemarin malam."
--------
Jimmy sama sekali tidak fokus ke meeting yang ia hadiri. Mata cokelatnya menatap rekaman CCTV ruangannya melalui ponsel.
*Kenapa gadis itu menangis ?
Apa dia sedang ada masalah ?
Sudahlah, hal itu tidak penting.
Aku harus bisa membuatnya sangat menderita atas apa yang ia lakukan pada kakek dan nenek.*
"Kak Jimmy..Kak Jimmy.." Tasya menggoyangkan bahu kakaknya.
Pria itu tersadar dari lamunannya, "Ah, ya ? ada apa ?"
"Kakak kenapa terdiam seperti itu ?"
"Ada hal yang kakak pikirkan."
"Apa itu ?"
Jimmy tersenyum dan berbisik, "Bagaimana caranya membuat Livia mau menikah dengan kakak."
-To Be Continue-