
Robert dan Livia sudah tiba di tempat yang mereka tuju. "Kau selalu kesini jika berada di Bandung." Livia berjalan beberapa langkah dan terduduk menatap sebuah pohon besar nan tua. Robert pun melakukan hal yang sama.
Livia tersenyum sedih, "Aku tak bisa melupakan tempat ini. Tempat dimana papa dan mama kecelakaan, tempat dimana aku dibenci oleh bibiku sendiri dan tempat dimana semua trauma itu dimulai." Mata cokelatnya memandang pohon. Tak jauh dari tempat mereka, Jimmy terduduk memandang Livia dan pohon yang menjadi awal mula ia membenci gadis itu sampai sekarang
*********
"Papa.. Jimmy senang sekali akhirnya kita bisa pergi liburan bareng kakek dan nenek."
Nenek Jimmy tersenyum mengelus kepala cucunya, "Jimmy, kenapa kau tak mengajak Livia juga untuk ikut ?"
"Livia sedang pergi liburan ama keluarganya entah kemana." Semua orang disana tersenyum, mereka tidak memberitahu bahwa keluarga besar Wijaya dan Kurniawan pergi berlibur di 1 tempat yang sama. Mereka hanya ingin memberikan kejutan pada Jimmy. "Mama, apakah nanti kalau aku besar aku akan dijodohkan seperti yang paman dan bibi ?"
"Memangnya kau mau nanti mama jodohkan?"
"Kalau sama Livia, Jimmy mau, Ma."
"Kau masih kecil sudah tahu hal seperti itu." Papa Jimmy tersenyum.
Jimmy berdiri memeluk mamanya yang sedang memangku Tasya, "Tasya, sedang tidur ya ?"
"Iya sayang. Jangan berisik ya." Ujar mama Jimmy.
Anak kecil itu tersenyum, menatap kaca mobil disebelahnya. Mata hitam kecilnya melihat ada boneka teddy bear jatuh ke jurang yang tak terlalu dalam. "Papa tahu kemana Livia dan keluarganya pergi berlibur ?"
"Entah. Kenapa ?"
"Aku seperti melihat ada boneka teddy bear yang aku berikan pada Livia terjatuh ke jurang."
Orang tua Jimmy melihat mobil temannya berusaha untuk memutar arah dan dalam keadaan yang begitu cepat mobil tersebut masuk ke jurang dan menabrak pohon besar. "Papa.. ayo kesana sepertinya ada yang kecelakaan. Kita harus menolongnya." Seru Jimmy membuat orang tuanya pun ikut memutar arah agar bisa sampai ke tempat TKP.
Begitu sampai papa dan kakek Jimmy segera keluar dari mobil untuk menghampiri Livia yang tengah menangis. "Itu Livia, Ma. Jimmy harus turun."
"Jangan Jimmy itu berbahaya." Nenek Jimmy menahannya.
"Tapi nek.."
"Percayalah papa dan kakekmu akan menolong mereka." Ucapan nenek membuat Jimmy terdiam.
"Pa, aku akan meminta pertolongan warga setempat."
"Aku akan menolong mereka." Kakek Jimmy menghampiri mama Livia yang tengah terluka parah.
"Sebentar ya Nak, mama akan ambilkan boneka teddy bear milikmu."
Kakek Jimmy berusaha membantu mama Livia untuk mengambilkan boneka teddy bear yang merupakan pemberian cucunya kepada gadis kecil itu, kemudian ia membantu mama Livia untuk melihat suaminya yang ia duga sudah meninggal. "Jika aku meninggal, aku titip Livia pada keluarga anda ya." Ujar mama Livia saat ia dibantu kakek Jimmy mendekati suaminya yang masih berada di dalam mobil.
"Iya."
Saat itu lah mobil papa Livia meledak membuat kedua orang itu meninggal. "Kakekkkkkk !!!!!" Teriak Jimmy yang berusaha keluar dari mobil. "Kakekkkk !!!!!"
Papa Jimmy yang baru saja tiba dengan para warga terkejut mendapati ayah kandungnya ikut tewas dalam kejadian tersebut. Beberapa hari setelah kejadian itu, Jimmy mengurung dirinya di dalam kamar. Kondisi sang nenek pun semakin terpuruk atas kepergian suaminya. "Semua karena Livia. Dia menyebabkan kakek pergi !!!"
"Jimmy jangan berbicara seperti itu."Ujar sang mama.
"Kalau keluaga Livia tidak mengalami kecelakaan seperti itu maka kakek tidak akan meninggal, Ma." Jimmy menangis di pelukan mamanya. Kondisi nenek Jimmy kian lama kian memburuk pada akhirnya ia meninggal.
Kembali ke masa sekarang...
Robert menarik Livia ke dalam pelukannya. Gadis itu menangis. "Aku tidak hanya membunuh orang tuaku. Tapi, aku juga sudah membuat Jimmy kehilangan kakeknya."
Itulah yang menjadi alasan kenapa Jimmy sangat membenci Livia begitu pun gadis itu yang tak ingin berdekatan dengan teman kecilnya. Semakin ia berdekatan maka makin merasa bersalah. "Kau bukanlah pembunuh Livia. Harus berapa kali aku katakan padamu."
"Ternyata dia ingat tempat kejadian ini." Gumam Jimmy yang pergi dari tempat tersebut. "Dek.. sini sebentar." Ia melihat 2 anak remaja sedang membawa boneka teddy bear berwarna putih yang dilapisi plastik bening. "Boneka itu dijual tidak ?"
"Boneka ini masih baru kak belum kami buka juga. Ini dijual sih kak. Karena kami perlu sekali uang untuk orang tua kami yang sedang sakit."
"Kakak beli ya boneka itu." Jimmy mengeluarkan dompetnya.
"Boleh kak, harganya 50 ribu." Jimmy memberikan uang 1 juta kepada mereka. "Banyak sekali kak."
Jimmy tersenyum, "Ini untuk uang biaya sakit orang tua kalian. Ambil saja. Tapi, kakak boleh minta tolong sesuatu."
"Apa itu kak ?" Jimmy membisikkan sesuatu pada mereka.
Livia menjauhkan badannya dari Robert menatap pohon besar di depannya, "Papa dan mama pasti akan bahagia kan disana ? Terkadang aku takut di alam sana mereka akan membenciku karena sudah membuat mereka seperti itu."
Robert memegang tangan Livia membuat gadis itu menatapnya, "Mereka akan sangat bahagia dan bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri atas semua ini."
"Kakak.." 2 orang anak remaja datang menghampiri mereka. "Kakak bernama kak Livia ya ?"
Livia tersenyum menatap mereka, "Kenapa dek ?"
"Kami lihat kakak menangis dari tadi." Seorang diantara mereka memberikan boneka teddy bear putih, "Ini. Kami berikan boneka teddy bear untuk kakak agar kakak tidak nangis lagi. Kalau begitu kami permisi." Mereka pergi.
"Aneh sekali." Gumam Livia yang menatap boneka teddy bear putih, "Terima kasih." ia tersenyum.
"Jadi bagaimana ? Kau mau langsung menyusul anak-anak ke Trans Studio Bandung ?"
"Kau lapar ? Bagaimana jika aku membuatkan mu makanan sebagai tanda terima kasih atas hari ini ?"
Robert tersenyum, "Tentu saja. Ayo kita ke villa." ia menggandeng tangan gadis itu.
"Kau ingin makan apa ?"
"Ikan gurame asam manis dan sayur kangkung juga enak."
********
Tiara menghabiskan waktunya untuk berleha-leha di dekat kolam renang. "Pelayan, mana minumanku lama sekali sih."
Seorang pelayan muda datang membawakan minuman, "Maaf, nona. Ini jus jeruk pesanan anda."
"Bagaimana dengan pesanan makananku ? Apakah sudah datang ?"
"S..sudah nona. Tapi..nona belum membayarnya."
"Maaf nona, anda memesan 5 ayam goreng fast food, 2 pizza, 4 burger dan 2 soft drink totalnya 1 juta lima ratus ribu rupiah. Kami tidak punya uang sebanyak itu."
"Ash.. gaji kalian kan tinggi disini. Lagi pula tamu adalah raja disini."
Bodyguard Yeni datang menghampiri Tiara, "Maaf nona. Anda yang memesan maka anda juga yang harus membayarnya. Lagi pula kasihan kurir pengantar makanan menunggu dibayar."
"Kau tinggal bayar apa susahnya sih. Sudah sana pergi dan bawa pizzaku kesini."
Livia datang bersama Robert, "Mereka tidak akan menuruti permintaanmu kecuali kau bayar semua tagihan itu."
Tiara menatapnya tajam, "Siapa kau yang menyuruhku membayar."
"Aku ? Aku punya kuasa disini."
Tiara tertawa, "Kau itu hanya sebatas teman Yeni. Kau sama sepertiku yang hanya tamu disini."
"Yeni baru saja meneleponku untuk memberikan kuasa di villa ini selama ia tak ada. Betulkan ?" Livia menatap bodyguard Yeni.
"Betul. Nona Yeni juga sudah menginfokan ke saya soal itu."
"Sekarang bayar tagihan 1 juta 500 rb itu. Masa orang kaya sepertimu tak mau membayar harga yang mungkin saja sangat murah bagimu. Ohh, iya.. kau sudah semiskin itu ya ?"
Tiara berdiri, "Aku tidak miskin sepertimu !"
"Ya sudah bayar tagihanmu."
"Awas kau !!!" Tiara pergi mengambil dompetnya lalu membayar tagihan atas pesanannya.
"Kalian boleh kembali berkerja." Ujar Livia membuat para pelayan dan bodyguard itu pergi.
"Aku baru tahu kau mengambil kuasa di Villa ini."
Livia menatap Robert, "Jika tidak disuruh oleh Yeni, aku juga ogah. Ayo kita masuk."
"Mau aku bantu masak ?"
"Kau bisa masak ?"
"Tentu saja."
Jimmya kembali ke Villa, "Kenapa wajahmu asam begitu ?" ia menatap Tiara.
"Livia yang baru saja diberi kuasa atas villa ini sok menyuruhku untuk membayar semua tagihan."
Jimmy menatap semua penasanan Tiara, "Kau yang memesan tentulah kau yang harus bayar. Ahh.. aku lapar... Bibi, ada makanan tidak ?"
Seorang pelayan muda membungkuk, "Nona Livia sedang memasak di dapur."
Jimmy yang penasaran masuk ke dapur, "Kau masak apa ?"
"Ikan Gurame asam manis dan Sayur Kangkung. Kau mau ?"
"Mau. Perlu aku bantu juga ?"
"Bantu masak nasi saja."
"Oke."
Tiara berdiri di depan pintu dapur sambil memegang burger, "Kenapa kau harus ribet masak sementara bisa memesan makanan ?"
"Dan kenapa kau yang sedang sibuk menghabiskan makanan pesananmu harus ribet mengurusi urusan orang ?" Ujar Livia tanpa memandangnya.
"Terserah aku lah."
"Ya sudah terserah aku saja yang mau melakukan apa."
"Ck.." Tiara pergi merasa kesal. Di saat ia hendak menuju kamarnya ada sebuah ide terlintas di pikirannya.
********
Yeni, Raka dan teman-temannya sudah tiba di Villa. "Wow.. Enak sekali sepertinya." Ia langsung menuju meja makan.
"Ada Sayur asem, Ayam bakar, Tempe Bakar dan sop ayam. Siapa yang masak ?" Tanya Ai Chan yang duduk di meja makan.
"Aku Ai. Tapi, entah cukup atau tidak. Karena aku kira kalian akan makan di luar."
Hanna duduk di samping Livia, "Memang sudah makan sih. Tapi, tak ada salahnya makan dikit lagi."
Disaat mereka tengah makan terdengar suara isak tangis dari arah dapur, "Siapa yang nangis ?"
Kepala pelayan berjalan menuju arah Raka, "Tuan muda, seorang pelayan kehilangan perhiasan pemberian orang tuanya."
"Bagaimana bisa ? Selama ini tak pernah ada pelayan yang kehilangan barangnya."
"Tidak tahu tuan. Kami sudah membongkar semua kamar pelayan dan tidak menemukannya."
Tiara yang tengah makan berkata, "Itu kan selama kau dan Yeni punya kuasa atas Villa ini jadi tak ada hilang apapun."
"Apa maksudmu itu ?" Yeni menatapnya tajam.
"Bukankah hari ini Livia yang kau berikan kuasa untuk mengatur semua hal disini ? Cek saja semua barang bawaan teman-temanmu. Terlebih lagi tasnya Nia dan Livia."
"Aku dan Nia tak serendah itu untuk mencuri barang orang." Ujar Livia.
"Ya kita cek saja. Aku kan hanya menduga."
Yeni dan Raka segera menuju lantai atas diikuti oleh semua orang. Kamar Tiara, Jimmy dan Robert pun tidak menemukan apa-apa. Akan tetapi, begitu mereka cek ke kamar Yeni dan teman-temannya.
"Tuh kan ketemu di kopernya Livia." Ujar Tiara tersenyum.
-To be Continue-