
"Sekertarisku yang akan mengurusnya." Tanpa menunggu respon Jimmy, Yeni langsung memberikan telepon itu pada sekertarisnya. "Dih, langsung ditutup begitu saja. Dasar wanita aneh."
Baru juga ada hutang 125 ribu langsung ditagih, apalagi kalau aku ada hutang bernilai jutaan.. ihhh...
*****
Robert terdiam memandang Livia yang sibuk kesana kemari membantu staff Multimedia untuk keperluan ulang tahun perusahaan yang waktunya tinggal sedikit lagi. Diam-diam ia sudah membantu gadis itu mencari secuil kebenaran dibalik hilangnya perusahaan Wijaya. Ia tak mau memberitahu Livia sampai ia sendiri benar-benar yakin akan informasi yang sudah didapatkannya.
Pak Rahmad (ada di part 1 dan 25) yang dulu pernah menjadi karyawan senior di perusahaan ini sudah dipecat oleh Jimmy dengan alasan beliau ingin pensiun. Robert memijat keningnya, ia harus segera menemukan Pak Rahmad.
Aku yakin beliau mengetahui sesuatu akan perusahaan Wijaya.
"Dokter." Robert berbalik melihat ada 2 karyawan wanita memandangnya.
Ia tersenyum, "Ya. Ada apa ?"
"Kami merasa tidak enak badan. Bisa dokter periksa kami ?"
"Tentu saja." Mereka menuju ke klinik yang berada mereka.
"Kami perhatikan dokter dari tadi terus memandang ke arah anak baru itu. Dokter suka padanya ?" Tanya salah seorang diantara mereka.
"Silakan berbaring biar saya mengecek detak jantung anda." Ia berusaha untuk tidak menjawab.
Kedua karyawan wanita itu saling memandang, "Dokter sungguh menyukai Livia ?"
Robert mencoba untuk mengabaikan kedua wanita itu dan lebih fokus pada pekerjaannya sebagai dokter.
"Iya aku juga bingung, dibilang cantik juga tidak dan tidak seksi pula." Ujar teman wanita itu.
Robert meletakkan alat untuk mengecek detak jantung, "Detak jantung anda normal sepertinya anda terlalu kelelahan saja. Ayo yang satu lagi silakan berbaring juga."
Kedua karyawan itu bertukar tempat, "Dokter kenapa tidak menjawab pertanyaan kami ?"
"Dokter sungguh menyukai karyawan baru bernama Livia itu ?"
Kalau iya kenapa ?
Robert berusaha tersenyum di depan mereka, "Saya tidak suka mencampur-adukan antara pekerjaan dengan masalah pribadi. Bukankah tidak baik menggosipkan apalagi membicarakan orang lain dari belakang ?"
"Tapi yang kami ucapkan memang benar kok. Dokter sungguh menyukainya ? Jika tidak maka dokter pasti akan setuju dengan kami."
"Setidaknya saya kalau membenci atau tidak menyukai seseorang maka saya akan diam dan cukup tahu untuk diri saya sendiri. Bukannya ikut menghasut orang lain untuk membenci orang yang kita benci. Menurut saya itu sangat kekanak-kanakan. Seakan-akan kau membuat semua orang untuk membenci pada seseorang yang kau benci lalu membuat orang tersebut tidak nyaman. Kau tahu, jika melakukan hal seperti itu percayalah suatu saat nanti kalian juga akan merasakan diposisinya sekarang. Kalian tidak tahu apa yang sudah dia lalui selama ini, yang kalian tahu hanyalah agar kalian mendapatkan orang-orang yang ikut membenci orang yang kalian tak sukai itu. Padahal tidak semua orang begitu." Jawabannya membuat kedua karyawan itu terdiam.
Setelah selesai memeriksa ia duduk di mejanya untuk membuatkan resep. "Ini obat agar kau selalu menjaga stamina" Ia memberikan resep pada karyawan yang kelelahan. "Lalu ini, anda mengalami gejala flu. Jika anda berniat untuk libur maka ini resep dan juga surat ijinnya."
"Baik dok. Terima kasih. Kalau begitu kami permisi." Mereka pergi meninggalkan Robert sendirian.
-To Be Continue-