Our Love

Our Love
Part 58



Acara pemberitaan tersebut dimulai, semua orang di restaurant fokus menonton termasuk teman-teman Livia dan orang tua mereka dari tempat yang berbeda-beda. Tampak ada beberapa orang duduk dan bersiap untuk press-con yang sebentar lagi akan dimulai. Namun, kursi bagian tengahnya masih kosong. Orang penting dalam press-con tersebut masih belum tiba. "Aku penasaran siapa orang yang duduk disana." Ujar Jimmy sambil memakan makanannya. Livia juga tampak ogah untuk menontonnya.


Tenang..


Tenang...


Semuanya akan baik-baik saja...


Aku harus berpikir positif, maka semua hal positif pun akan terjadi.


Livia terus mengucapkan kalimat-kalimat itu dalam hati.


Hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu bahwa dia penerus satu-satunya keluarga Wijaya yang tak pernah diperkenalkan pada publik. Tidak mungkin mereka semua membocorkannya pada media. Ia hanya berharap semoga hal itu hanya Hoax belaka dan orang-orang cepat melupakannya.


Semoga...


Tak lama muncul-lah seorang yang mereka kenal dan membuat mereka terkejut...


Orang yang sangat tidak mereka duga sama sekali.


Dia adalah....


"Tiara ?" Ujar Livia menatap Tiara yang duduk di tengah dari press-con tersebut.


Bagaimana bisa ?


Kenapa wanita itu berada disana ?


Apa yang dia lakukan ?


Berbagai macam pertanyaan bermunculan di pikirannya.


Apa lagi yang akan wanita ini lakukan ?


Tiara menatap para wartawan yang sudah berkumpul sambil tersenyum. Wanita itu sudah merencanakan ini sejak kemarin, dan dengan sengaja menghubungi banyak media baik itu media cetak atau elekreonik agar ditayangkan secara live di berbagai stasiun TV dan agar dapat segera tersebar ke seluruh Indonesi, "Terima kasih sebelumnya kepada para wartawan yang berkumpul." Wanita itu memasang wajah sedih, "Disini saya mau menjawab atas pemberitaan yang tengah heboh di banyak media massa termasuk media sosial. Ya. Semua itu benar. Nama saya Tiara Wijaya, saya adalah penerus terakhir dari keluarga Wijaya yang masih hidup." Ujarnya membuat semua orang saling berbisik antara satu dengan yang lainnya.


Itulah yang Tiara inginkan. Akhirnya tahap pertama telah dia selesaikan, saatnya melanjutkan ke tahap yang lain.


Telinganya tidak salah mendengar 'kan ?


Ini tidak mungkin.


Tidak mungkin....


Tidak...


Livia tidak menyangka wanita itu sungguh tidak waras. Apa maksudnya dia mengakui hal seperti itu ?


Apakah dia sudah gila ?


Kenapa Tiara membohongi publik seperti itu ?


Ya Tuhan, apa yang kali ini wanita itu lakukan ?


Dibilang salahnya juga tidak 100 persen benar. Keluarga Wijaya memang sejak awal merahasiakan akan keberadaan puteri tunggalnya pada publik saat ia masih bayi dengan alasan keamanan.


Mereka tidak mau ada orang lain yang berbuat jahat padanya, namun ketika ia berumur 5 tahun semua orang mengetahui mereka memiliki seorang puteri. Hanya saja mereka merahasiakan nama dari puteri mereka dari publik.


Livia yang masih kecil sudah ditinggal orang tuanya lalu diasuh paman bibinya yang cukup jahat dan selama ia hidup bersama mereka selalu dituduh sebagai penyebab orang tuanya meninggal hingga menimbulkan trauma hebat sampai sekarang. Mana sempat Livia mengurusi hal-hal untuk membuktikan pada masyarakat bahwa dirinya adalah penerus terakhir keluarga Wijaya.


Seketika gelas yang dipegang Livia pun pecah membuat semua orang yang berada di restaurant menatapnya. "Kau tidak apa-apa ? Ayo kita pergi saja dari sini." Robert mengeluarkan sejumlah uang dan memanggil pelayan, "Ini uang untuk semua makanan dan minuman, kembaliannya ambil saja." Robert dan Jimmy segera membawa Livia masuk dalam mobil.


Robert sama terkejutnya dengan Livia akan apa yang baru saja Tiara katakan di depan semua orang.


Dia melirik ke arah Livia yang sudah pucat pasi.


Berulang kali Robert memaki Tiara didalam hati atas apa yang wanita itu lakukan pada gadisnya.


Wanita itu akan mendapatkan balasannya atas apa yang dia lakukan padamu, Via.


Robert tak habis pikir, kenapa wanita itu selalu mencari gara-gara pada Livia ?


Dosa apa yang sudah Livia lakukan padanya sehingga begitu tega wanita itu melakukan semua ini ?


Kenapa diantara semua orang harus Livia yang kena ?


Ah.. sudahlah lebih baik dia menangkan Livia.


Ya.


Itu lebih penting untuk saat ini.


Tiba-tiba ponsel Livia berdering, "Kenapa Yen ?" Tanya Livia padanya.


"Kalian ke kantorku saja sekarang. Narul juga aku minta datang." Perintah Yeni yang matanya masih menatap tajam ke arah TV yang berada di ruangannya.


Wanita itu benar-benar selalu membuat masalah.


Apa lagi yang tengah dia rencanakan sekarang ?


Kenapa wanita itu suka sekali memberikan banyak masalah dalam hidupnya ?


Apakah tidak ada hal-hal lain yang dia kerjakan daripada membuat masalah bagi orang lain ?


Belum selesai masalahnya dengan orang tuanya sekarang ditambah lagi dengan masalah yang sengaja dibuat oleh Tiara tanpa alasan yang jelas.


"Aku coba ngomong dulu ke Jimmy nanti aku chat untuk jawabannya." Ujar Livia "Nanti aku akan menghubungimu lagi."


"Oke." Yeni menutup teleponnya.


"Yeni minta kita semua datang ke kantornya sekarang." Ujar Livia setelah memasukkan ponselnya dalam tas kemudian menatap dua pria di depannya. Jimmy dan Robert.


"Aku mau meeting. Kalian antar aku ke kantor saja baru pergi ke kantor Yeni." Ujar Jimmy sambil mengutak-atik ponselnya.


Dasar tukang perintah. Gumam Livia pelan. "Ini siapa yang bayar ?"


"Aku." Ujar Robert dan Jimmy bersamaan.


"Aku saja." Ujar Jimmy sambil tersenyum.


"Tidak aku saja." Jawab Robert tak mau kalah.


Ada apa dengan kedua pria ini ?


Membayar makanan saja harus berdebat ?


"Sudah, kita bayar punya masing-masing saja." Saran Livia berharap kedua pria itu menyetujuinya.


"Tidak !!" Ujar mereka bersamaan.


"Ya sudah. Kalian main gunting batu kertas saja, yang kalah maka dialah yang harus membayar." Saran Livia sekali lagi membuat kedua pria itu setuju, saat mereka bermain gunting batu kertas Jimmy-lah yang kalah sehingga dia yang membayar semua makanan dan minuman yang sudah mereka pesan.


******


Setelah mengambil tas Livia dari kantor Jimmy, dia segera menuju ke perusahaan Yeni yang dimana semua teman-temannya berkumpul termasuk kakak Yeni, Raka Kusuma.


"Livia, kau tidak apa-apa ?" Begitu Livia masuk Narul dan Nia segera menghampirinya.


Gadis itu menggeleng, "Tidak apa-apa. Yen, Jimmy tidak bisa datang karena ada meeting." Dia duduk disebelah Nia.


Yeni mengganguk, "Ya. Sekarang aku bingung mau diapakan wanita itu."


Menambah masalah saja.


Memang betul ya.


Kalau masalah tidak hanya datang dari diri kita sendiri, melainkan bisa juga orang lain yang membuat masalah malah imbasnya ke kita.


Inilah yang sekarang dialami oleh Yeni.


Tiara yang buat masalah, malah dia yang pusing memikirkan jalan keluarnya.


Duh...


Kapan sih wanita itu berhenti mencari gara-gara atau membuat masalah ?


Tidak bisakah, dia tenang gitu ?


Sebentar saja.


Susah amat.


"Terserah kau saja. Aku sudah pusing." Ujar Livia yang tak kalah pusing akan semua masalah ini.


"Kenapa kau begitu pasrah saat ada orang lain yang mengaku-ngaku sebagai penerus terakhir perusahaan keluargamu ? Kalau aku jadi kau maka, aku sangat tidak terima." Jelas Hanna yang penuh rasa penasaran.


Mungkin orang lain akan langsung marah-marah jika diperlakukan seperti itu.


Tapi, kenapa kesannya justru Livia yang jadi korban malah santai begini ?


Sungguh Hanna tidak bisa mengerti akan apa yang di pikirkan oleh temannya yang satu ini, Livia.


"Tenang dulu semuanya." Belum selesai ucapan Ai Chan sudah dipotong oleh Yeni.


"Gimana bisa tenang kalau Livia digituin ?" Tanyanya pada Ai Chan.


"Ya iya. Aku juga tidak suka kalau temanku digituin. Tapi, bukankah kita harus menonton press-con itu sampai selesai ? Baru kita pikirkan langkah apa yang selanjutnya akan kita ambil." Saran Ai Chan.


Yeni mengganguk, ada benarnya juga yang dikatakan oleh Ai Chan. Temannya yang satu ini memang pintar.


"Benar kata Ai Chan." Kata Nia setuju akan hal itu yang membuat Yeni terdiam sambil memikirkan sesuatu, kemudian mengambil remote lalu menekan channel yang menayangkan press-con tersebut.


Mereka juga masih penasaran akan hal apalagi yang mau disampaikan oleh Tiara di depan para wartawan dan semua orang yang melihatnya dari TV bahkan di media online sekalipun. Sesi pertanyaan pun dimulai.


Wartawan 1 : Kenapa anda baru muncul sekarang setelah sekian lama ?


Tiara : Saya baru berani sekarang karena memang sudah waktunya untuk Perusahaan Wijaya bangkit lagi.


Wartawan 2 : Lalu, dimana perusahaan Wijaya sekarang ?


Tiara : Perusahaan Wijaya telah terpecah 2 perusahaan yang pasti kalian sudah kenal. Akibat ulah orang-orang kepercayaan papa saya dulu.


Wartawan 3 : Bisa anda sebutkan kedua perusahaan itu ?


Tiara : Maaf. Saya tidak bisa membongkarnya.


Wanita itu berpura-pura menangis.


Tiara : Selama ini saya terancam keselamatannya karena ada beberapa orang yang ingin mengambil perusahaan papa. Dulu aya tidak berani mengungkapkan jati diri saya karena saya takut kalau mereka semua mengetahui saya masih hidup maka, keselamatan saya akan terancam. Dan baru sekarang saya berani mengatakannya karena saya sudah mendapat dukungan dari pacar saya, yang juga pemilik dari suatu perusahaan ternama.


Wartawan 4 : Boleh disebutkan siapa namanya ?


Tiara : (menghapus air mata palsunya) Saya berikan inisial saja, pria itu adalah RK.


RK.


Semua teman-teman Yeni saling memandang satu sama lain.


Siapa RK itu ?


RK ?


Yeni berpikir lalu menatap kakaknya yang berada disana juga, namun pria itu sibuk bermain ponsel.


RK ?


R untuk Raka


Dan


K untuk Kusuma.


Yeni membulatkan mata akan apa yang baru saja dia rangkai. Gadis itu segera menatap tajam ke kakaknya, "Kakak ya ? jujur deh." Tuduhan Yeni membuat semua orang yang berada di ruangan itu menatapnya.


"A..apa ? Sungguh kakak tidak tahu menahu soal ini." Ujar Raka yang terkejut tiba-tiba dituduh seperti itu oleh adiknya.


"Itu inisial kakak. RK. Raka Kusuma."


"Astaga Yeni. Kakak sungguh tidak tahu. Mungkin saja RK itu orang lain, ada banyak pria dengan inisial RK di dunia ini. Kau tahu 'kan kalau kakak juga sangat tidak suka dengan wanita ular itu ?"


"Ash.. kenapa tidak langsung bunuh saja sih wanita itu ?" Yeni ngedumel sendiri. "Wanita itu selalu mendatangkan masalah tahu pada semua orang. Ga tahu diri banget sih." Kesalnya.


"Dosa tahu Yeni, kalau kita bunuh orang. Memangnya kau mau masuk penjara." Kata Narul mengingatkan Yeni.


"Ash.. Wanita itu sangat mengesalkan, 'Rul ? Selalu buat masalah yang berkaitan dengan keluargaku." Yeni meluapkan kekesalannya.


"Maaf ya semua. Gara-gara aku..." Ucapan Livia terpotong oleh Yeni. Kini perhatian mereka teralihkan pada Livia yang sedikit membungkuk sebagai tanda permintaan maafnya.


"Jangan minta maaf, sekarang pikirkan bagaimana kita harus mengambil langkah selanjutnya. Kasihan kalau kau terus yang kena masalah Livia." Kata Nia merangkul gadis itu.


"Benar tuh ucapan Yeni." Kata Hanna membelanya. Yeni merasa apa yang dilakukan oleh Tiara sekarang tidak hanya karena mengancam keselamatan Livia semata. Ia dan Hanna takut jika tujuan Tiara sebenarnya bukanlah Livia. Akan tetapi, tujuan sebenarnya adalah menghancurkan keluarganya dan Hanna. Yeni terdiam dan berpikir sejenak.


Tiara tidak mungkin tiba-tiba baik pada Livia.


Aneh sekali.


Kenapa wanita ular itu mau repot-repot mengaku sebagai penerus terakhir keluarga Wijaya yang masih hidup ?


Sedangkan penerus aslinya yaitu Livia saja tidak pernah mau mengakui akan hal itu pada publik selama ini.


Kenapa justru malah Tiara yang mengaku-ngaku seperti itu ?


Apa keuntungan yang dia dapatkan dari melakukan hal tersebut ?


Apa yang kau inginkan sebenarnya Tiara ?


Yeni menatap tajam ke arah TV. Puteri bungsu keluarga Kusuma itu yakin kalau orang tua dirinya, Hanna dan Jimmy tidak akan membiarkan hal ini terus terjadi. Orang tua mereka sangat tahu akan siapa penerus asli keluarga Wijaya yang sebenarnya. Yeni penasaran, langkah apa yang akan diambil oleh orang tua mereka setelah mendengar semua pengakuan palsu dari Tiara.


Wanita itu tidak bisa dianggap remeh.


Semoga saja sempat terlintas di pikiran mereka untuk membunuh Tiara.


Walau Yeni sangat tahu itu berdosa.


Tapi, dia tidak perduli asalkan wanita ular itu lenyap dari muka bumi ini untuk selama-lamanya.


Dan tidak akan pernah bisa menggangunya, keluarganya, juga teman-temannya terutama Livia.


Biarkan gadis itu hidup bahagia.


Dia berhak untuk bahagia atas apa yang dialaminya selama ini.


Semakin memikirkan Livia membuat Yeni sedikit merasa bersalah atas apa yang dilakukan orang tuanya di masa lalu pada Livia.


Wartawan 1 : Bisa jelaskan bagaimana bisa anda masih hidup dari kecelakaan yang menimpa anda 10 tahun yang lalu ?


Tiara : Aku diselamatkan oleh seseorang dan diasuh olehnya yang sekarang sudah meninggal.


Wartawan 2 : Inisial RK ? dari perusahaan ternama di Jakarta ? Apakah itu adalah Raka Kusuma ?


Tiara : Maaf, saya tidak bisa menjawabnya.


Wartawan 3 : Lalu, apakah kecelakaan yang menimpa orang tua anda merupakan murni kecelakaan atau disengaja oleh orang-orang tertentu ?


Tiara : Banyak yang bilang bahwa itu murni kecelakaan akan tetapi, saya percaya bahwa itu adalah ulah dari orang-orang tertentu yang gila akan kekuasaan. Mungkin sekarang saya tidak punya bukti akan hal itu. Namun, saya yakin karma akan berlaku pada mereka yang sudah jahat membuat seorang anak kecil kehilangan kedua orang tuanya hanya karena kekuasaan dan harta yang mereka inginkan.


Wanita itu berpura-pura menangis.


Tiara : Tidakkah kalian punya hati nurani sedikit? Bagaimana trauma yang aku alami saat melihat orang tuaku meninggal di depan mataku sendiri. Hiks.. Aku yang dulu masih kecil bisa berbuat apa untuk menyelamatkan kedua orang tuaku selain menangis dan meminta tolong.


-To Be Continue-