
"Aku minta maaf." Livia memandangnya. "Maaf, karena dulu aku berpikir kalau kau adalah penyebab kakek dan nenekku meninggal."
"Jangan diungkit lagi. Aku tak mau mengingatnya." Lebih tepatnya, gadis itu akan mudah menangis. Kau tahu, disaat kau mengalami semua beban yang kau tanggung sendiri selama ini dan tak ada orang yang bisa kau jadikan sandaran. Sekian lama tertumpuk begitu banyak hingga begitu mencapai puncaknya kau tak bisa menjelaskan dengan kata-kata lagi, dan kau hanya bisa menangis untuk meluapkan semuanya.
"Maaf, karena aku tidak ada disampingmu disaat kau sangat membutuhkanku."
"Bisakah berhenti membicarakan hal itu ?" Pinta Livia padanya.
"Baiklah." Ujar Jimmy menuruti permintaan Livia.
Maafkan aku...
Maafkan aku yang harus mengingatkanmu kembali pada kejadian mengenaskan itu.
Livia terdiam. Karena ucapan Jimmy, mau tidak mau. Gadis itu kembali mengingat semua masa lalunya yang kelam. Dari bagaimana karena gadis itu bersihkeras meminta untuk diambilkan boneka teddy bear yang terjatuh, hingga mobil yang mereka tumpangi jatuh ke dalam jurang. Beruntung Livia tidak mengalami luka begitu parah karena mamanya begitu melindunginya. Mereka terlempar jauh dari mobil yang menabrak sebuah pohon besar. Mamanya mengalami luka cukup parah namun, masih mau mengambilkan boneka teddy bear yang berada didekat mobil. Dibantu oleh seorang kakek yang entah dari mana asalnya dan siapa, Livia dibiarkan sendirian menangis melihat mamanya dan kakek itu berusaha untuk menolong ayah Livia juga mengambil boneka tedy bear milkiknya.
Kenapa aku harus mengingat hal ini ?
Kenapa ingatan buruk itu tidak bisa hilang dari pikiranku ?
Aku lelah..
Jika terus meneruis mengingat semua ini.
Mobil itu meledak tepat di hadapan Livia yang masih kecil. Kalian bisa bayangkan betapa histerisnya gadis kecil itu harus menyaksikan kematian orang tuanya tepat di depan matanya sendiri. Anak kecil sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menangis.
Setelah kejadian itu, ia hidup dengan paman bibinya yang juga tidak mengurusnya dengan baik malah menjadikannya sebagai penanggung ekonomi paman dan bibinya. Selama bertahun-tahun Livia terus menyalahkan dirinya sendiri sampai sekarang. Beruntung karena hasil kerja kerasnya sendiri, Livia bisa membiayai sekolahnya sendiri dengan berjualan kue atau melakukan pekerjaan apapun asalkan halal.
Menjelang SMA ia bertemu dengan Robert yang merupakan cinta pertamanya sekaligus orang yang sangat baik dan perduli padanya. Pria itu tahu akan semua masa lalu kelam Livia. Pernah berulang kali gadis itu mencoba untuk bunuh diri dan gagal. Sampai-sampai Robert dan keluarganya pun membawa gadis itu ke psikolog namun, tak menunjukkan hasil yang bagus, Karena rasa bersalah dan menyalahkan dirinya terlalu besar. Gadis itu sampai sekarang enggan melepaskannya. ia sudah terkurung di dalam kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam.
"Hei.. kenapa kau menangis ?" Jimmy menatap Livia yang menangis. Gadis itu tidak menjawab malah semakin menjadi-jadi.
Aku yang menyebabkan papa dan mama meninggal....
Aku pantas meninggal daripada mereka....
Apakah papa dan mama marah padaku dari surga sana ?
Aku sangat menyesal papa... mama...
Aku memang anak yang tidak berguna 'kan ? Papa.. mama...
Semuanya salahku...
Kalau saja aku tidak meminta mereka mengambil boneka teddy bear itu, mereka masih hidup sampai sekarang...
Livi kangen...
Kenapa....
Kenapa bukan aku saja yang meninggal ?
Kenapa Tuhan masih membiarkan aku hidup sampai sekarang ?
Aku berdosa...
Aku pantas dihukum karena telah menyebabkan papa dan mama meninggal....
Aku tidak pantasi dicintai oleh siapapun...
"Livia, kenapa kau menangis ? Hei..." Jimmy memeluk gadis itu. Tak tahu apa yang bisa ia perbuat. Setelah berpuluh menit berlalu, Livia menghapus air matanya.
Tidak...
Aku tidak boleh berlarut dalam kesedihan...
Mungkin aku memang salah, tapi aku akan menebusnya...
Aku harus berbuat sesuatu...
"Ayo kita kembali ke Jakarta." Ajak Livia.
"Kau yakin ?" Tanya Jimmy memastikan, lalu dijawab dengan anggukan kepala gadis itu. Mereka masuk ke mobil baru pertengahan jalan Jimmy mendapatkan telepon kalau papanya ditahan oleh polisi. "Aku turut sedih, ayo kita langsung kesana." Ajak Livia.
"Tidak. Kau kembali saja berkerja dan pulang seperti biasa. Aku harus langsung ke kantor polisi setelah mengantarmu ke kantor." Livia terdiam.
******
Tiara pergi ke perusahaan Jimmy yang masih ditunggu oleh beberapa wartawan disana, mereka langsung mengerumuni wanita itu dengan berbagai pertanyaan hingga security Sapphire Blue Corp menghalangi wartawan tersebut. "Ada yang bisa saya bantu ?" Tanya resepsionis padanya.
"Saya ingin menemui Livia."
"Maaf, beliau sedang pergi dengan Pak Jimmy sejak makan siang tadi."
Disaat yang bersamaan Robert datang menghampiri, ia juga baru saja habis dari makan siang. "Kenapa kau mencari Livia ?"
"Oh kau. Kebetulan ada yang aku ingin bicarakan denganmu juga."
Robert mengajak Tiara masuk ke ruangannya lalu mengunci pintu tersebut sehingga tidak ada yang dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. "Katakan apa yang ingin kau bicarakan."
"Bantu aku."
"Bantu apa ?"
"Hari ini aku harus menemui pengacara keluarga Wijaya karena pengakuan palsuku kemarin membuat pengacara harus memanggilku dan semua orang kepercayaan keluarga Wijaya yang jahat itu. Aku mau kau datang bersamaku sebagai bukti bahwa aku adalah penerus yang asli."
"Kau sudah gila ?
"Kalau kau mau membantuku, maka aku juga akan membantumu. Aku tahu bahwa kau mencari-cari Pak Rahmad yang merupakan salah satu orang kepercayaan papa Livia. Karena kau yakin, hanya dia yang tidak berbuat jahat seperti lainnya. Kau tak perlu tahu, aku tahu dari mana semua ini. Kau mau membantku atau tidak ?"
"Bagaimana caranya ? Papa Jimmy sudah sangat mengenal siapa pewaris sesungguhnya."
"Oh dia nanti akan aku urus. Bagaimana ? Kau hanya tinggal melakukan apa yang aku suruh." Robert terdiam. Tiara berdiri, "Ya sudah kalau kau tidak mau."
Ia berjalan menuju pintu baru saja mau dibuka, pria itu bertanya akan sesuatu hal, "Kenapa kau mengaku-ngaku sebagai pewaris palsu di depan semua orang ?" Tiara berbalik sambil tersenyum.
******
Pak David berada di mobilnya menuju kantor pengacara keluarga Livia, "Iya. Kau tenang saja sebentar lagi aku berada disana. Aku tidak bisa membawa Livia karena Jimmy membawanya pergi. Tapi, aku punya bukti-bukti bahwa Tiara bukanlah pewaris asli." Ujar Papa Jimmy sambil menelepon papa Hanna yang sudah tiba di kantor pengacara itu.
Mereka berhenti di lampu merah, ada banyak anak kecil yang berjualan makanan dan minuman. Papa Jimmy membuka kaca jendela mobil memanggil seorang anak, "Dek. Saya beli minumannya ya. Berapa ?"
"Lima ribu saja pak." Papa Jimmy mengeluarkan uang dan membayarnya begitu anak kecil itu pergi tak lama, Beliau membuka dan meminum botol air yang baru saja dibelinya, disaat yang sama ada seorang pria berlarian di tengah keramaian sambil dikejar-kejar oleh polisi. Pria tersebut melemparkan sebuah plastik hitam besar kedalam mobil Papa Jimmy membuat polisi berhenti untuk mengejar orang itu dan menghampiri Papa Jimmy.
******
Semua orang sudah tiba di ruangan pengacara keluarga Wijaya , kecuali Papa Jimmy yang tidak ada disana. "Kita mau menunggu sampai kapan ?" Pengacara itu mulai tidak sabaran.
"Bukankah kita tidak bisa mulai jika seseorang tidak bisa hadir ?" Ujar Tiara.
"Diam kau. Pewaris palsu. Aku tidak tahu apa maksudmu melakukan semua ini. Sudah jelas jika pewaris terakhir keluarga Wijaya sudah meninggal." Jelas Papa Yeni. "Dan kau, bukankah kau orang terdekat dari Livia ? Kenapa kau bisa bersama dengan wanita ular ini ?" Dia menatap Robert.
"Dia datang untuk memeriksa keadaanku. Lihat aku kini tengah terduduk di kusri roda, aku takut jika ada yang berniat jahat padaku. Jadi, aku membayarnya untuk datang menemaniku sekaligus memastikan jika keadaanku baik-baik saja." Tiara memang sudah agak lama bisa berdiri karena usahanya untuk terus berlatih berjalan. Tapi, ia tak ingin semua orang tahu akan hal itu. "Lagpula namaku memang Tiara Wijaya ? Kau bisa bertanya padanya."
"Benarkah itu ?" Tanya papa Hanna.
"Benar. Pasien saya bernama Tiara Wijaya."
"Baiklah kalau begitu kita mulai sekarang dengan atau tanpa hadirnya Bapak David Kurniawan." Ujar Pengacara itu yang mulai membuka beberapa berkas.
Tak lama, sekertaris pengacara itu masuk kedalam ruangan dan mengatakan, "Maaf pak, saya baru mendapatkan kabar jika Bapak David Kurniawan (Papa Jimmy) ditangkap polisi akibat tersandung kasus narkoba." Semua orang kaget tidak mempercayai apa yang baru saja mereka dengar. Robert menatap ke arah Tiara yang tersenyum puas mendengarnya.
`To Be Continue~