
Livia mengganguk pelan, "Kalau bisa kenapa tidak ? Lagipula, kau tak pernah seperti ini juga. Setelah ini kau cari pengacara untuk membantu papamu keluar dari penjara dan kau juga harus mencari tahu siapa yang sudah menjebak papamu."
Jimmy tersenyum, "Terima kasih. Aku sangat senang kau berada disini menemaniku."
"Sama-sama." Livia berdiri, "Kalau begitu aku turun dulu ya untuk membuatkanmu makanan."
"Aku ikut."
"Memangnya kau bisa masak ?"
Jimmy mengganguk, "Tentu saja. Kau meragukanku ?"
Livia tertawa kecil, "Dulu kau paling anti jika disuruh memasak katamu itu adalah pekerjaan wanita bukan pria."
"Itu kan waktu aku masih kecil, Livia. Sekarang sudah berbeda."
"Ya sudah kau saja yang memasak. Aku akan menunggu."
Jimmy berpura-pura berpikir, "Gimana ya ? Bisa sih asalkan ada satu syarat yang harus kau penuhi ?"
Livia menatap bingung, "Apa itu ?"
"Jangan panggil aku Jimmy tapi, Alexander."
Livia terdiam.
Lagi-lagi permintaan ini.
"Kenapa harus begitu ?"
Jimmy mengambil celemek untuknya dan dirinya, "Aku lebih suka kau memanggilku begitu. Bisakah ? Satu kali ini saja."
"Asalkan kau juga mau memenuhi satu syarat juga dariku."
"Apa itu ?"
"Segera nikankah aku atau angkat aku jadi adik angkatmu."
Jimmy membulatkan matanya, "Kenapa kau begitu ingin sekali menjadi keluargaku ? Bukankah dulu kau menolaknya ?"
Aku ingin jadi keluargamu agar aku bisa mengambil kembali apa yang sejak awal sudah menjadi milikku.
"Memangnya tidak boleh ? Kalian sudah aku anggap sebagai keluargaku sejak papa dan mamaku meninggal."
Jimmy terdiam sejenak lalu memberikan celemek pada Via, "Papa masih di penjara nanti saja akan kita bahas begitu keadaan sudah mulai tenang."
"Ya sudah aku tidak akan memanggilmu Alexander kalau kau tidak memenuhi satu persyaratanku itu."
"Terserah. Sekarang bantu aku memotong sayuran."
"Kau sedang ngambek ?"
"Tidak. Kau ingat saat kita dulu masih kecil." Livia terdiam sejenak, ingatannya kembali ke masa lalu saat mereka masih kecil.
12 Tahun yang lalu...
Livia kecil berlari masuk ke rumah Jimmy, "Via, jangan lari nanti jatuh." Ujar Papa Livia saat memasuki rumah Jimmy.
Livia kecil berhenti, tersenyum menghampiri orang tuanya, ia memegang kaki papanya, "Via, senang dan ga sabar ketemu ama Alexander."
Mama Livia berjongkok, "Iya tapi, jangan lari-lari nanti jatuh."
Livia kecil mengganguk, "Baik ma."
"Pak David sudah tiba." Ujar Mama Jimmy yang menggendong tasya yang masih balita juga memegang Jimmy di tangan kirinya.
"Alexander." Livia berlari menghampiri teman kecilnya.
"Ayo main. Papa baru saja beli mainan robot yang baru." Ajak Jimmy kecil.
Livia kecil menggeleng, "Via tak suka man robot-robotan, Alexander."
"Lalu, mau main apa ?"
Via kecil tersenyum, "Masak-masakan."
Livia mulai menangis menatap mamanya, "Mama.. Alexander takmau main dengan Via."
Mama Livia menenangkannya, "Jangan nangis gitu donk. Via 'kan masih bisa main yang lain."
Jimmy menatap mamanya, "Kau temani saja dia main. Lagi pula kau kan punya adik perempuan. Jadi, kau harus terbiasa ya menemani Via bermain. Karena bagaimana pun nanti adikmu juga pasti akan meminta hal yang sama." Dia menghampiri Via kecil yang menangis, "Ayo main masak-masakan. Kita bisa pakai punya Tasya yang masih kecil."
Via kecil menghapus air matanya, "Ayo. Tapi, Alexander juga harus masak ya."
Jimmy kecil mengganguk pelan, Via kecil langsung memeluknya, "Makasih. Ayo kita main."
Jimmy menyentil kening Livia, "Hei, apa yang kau pikirakan ?"
Livia mengerang kesakitan, ingatannya di masa lalu langsung hilang saat Jimmy menyentil keningnya. "Sakit tahu."
"Siapa suruh kau melamun ? Ayo cepat bantu aku masak. Lapar nih."
"Iya bawel."
*******
Pak Rahmad menatap puterinya yang menonton TV pemberitaan akan dirinya, "Mau sampai kapan kau terus mengakui hal itu ?"
"Sampai aku puas."
"Berhentilah melakukan hal itu, Tiara. Jangan menambah masalah dalam hidup Livia."
Tiara berdiri menatap ayahnya, "Livia.. Livia.. Livia.. Kenapa semua orang begitu perduli padanya ? Ayah ini adalah ayah kandungku bukan ayah kandungnya. Harusnya ayah perduli padaku."
"Mau berapa kali ayah katakan kalau keluarga mereka begitu baik dan berjasa bagi keluarga kita."
Tiara tersenyum sedih, "Dengan mereka sangat baik dan berjasa bagi kita. Bukan berarti ayah lebih mementingkan nasib Livia daripada aku. Aku ini anak kandung ayah."
"Justru kenapa ayah sangat perduli padamu makanya, ayah memintamu untuk berhenti karena mereka semua tidak akan melepaskanmu begitu saja. Mereka tentu sangat tahu siapa penerus yang asli. Terlebih lagi Pak David, papanya Jimmy adalah orang yang paling dipercaya sejak kecil Jimmy dan Livia sudah berteman. Kau kira, beliau akan diam saja ? Tidak. Mereka akan mencari bukti asli bahwa Livia sesungguhnya penerus asli bukan kau di depan semua orang."
Tiara terdiam.
Sial.
Ia sungguh tidak menyadari akan hal itu.
Apa yang harus dilakukannya ?
"Aku pergi." Tiara membawa tasnya lalu pergi tanpa menunggu respon dari ayahnya.
******
Papa dari Hanna dan Yeni datang mengunjungi teman mereka yang berada di penjara, "Kau sungguh mengonsumsi obat-obatan terlarang itu ?"
"Kalian sudah gila ? sejahat-jahatnya aku tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang itu."
"Lalu, kenapa bisa hasilmu positif menggunakan narkoba." Tanya Papa Hanna.
Papa Jimmy mendesah pelan lalu menjelaskan semuanya, "Jadi, itulah kenapa aku bisa berada disini."
"Mungkinkah Tiara yang melakukannya ?" Papa Yeni menebak lalu memandang kedua temannya, "Sepertinya kalau wanita itu semakin dibiarkan maka akan semakin membahayakan kita."
"Lalu, apa yang mau kau lakukan ?"
"Membunuhnya apalagi. Ayo kita pergi." Papa Hanna keluar dari penjara disusul oleh papa Yeni.
"Pergi kemana ?"
"Tentu saja menemui wanita gila itu."
"Hei.. kalian tidak ingin mengeluarkan aku dari penjara ?"
Papa Yeni berhenti memandang temannya yang kini menjadi tahanan, "Sepertinya lebih bagus karena aku bisa menghilangkan kau dari keinginanku untuk menguasai perusahaan Wijaya."
"Kau !!!!"
"Ah iya." Papa Yeni berjalan menghampirinya, "Kau pasti punya bukti kuat bahwa Livia adalah penerus asli kan ? Kalau kau ingin aku bebaskan dari sini maka, berikan informasi hal itu padaku. Hanya dengan itu kita akan menghancurkan wanita bernama Tiara itu. Bagaimana ? Kalau kau tidak mau ya tidak apa-apa, kau diam saja disini."
~To Be Continue~