Our Love

Our Love
Part 31



"Kalau bapak cinta sama saya tolong kabulkan 1 permintaan saya."


"Apa itu sayang ?"


"Batalkan kontrak kerja saya disini."


Senyuman Jimmy lenyap begitu mendengarnya. "Tidak bisa begitu donk."


"Katanya cinta gimana sih."


"Cinta sih cinta tapi tidak begitu juga."


"Terserah, saya malas berdebat dengan bapak." Kepala Livia mulai terasa sakit. Gadis itu memegang dahinya.


Panas.


Ia demam.


"Saya juga malas berdebat. Intinya kau harus menjadi istriku." Livia mengabaikannya, memilih untuk meletakkan kepalanya di meja. "Livia, bagaimana jika kau membantu saya untuk mengerjakan semua dokumen ini ?"


Gadis itu tertidur.


"Hei.. Livia ?" Karena penasaran Jimmy menghampiri mejanya mendapati gadis itu tertidur. "Jam kerja malah tidur. Bangun." Ia mengoyangkan badan gadis itu.


"Apa sih pak ?"


"Kenapa wajahmu begitu pucat ?"


"Sepertinya saya sakit. Bisakah saya ke ruangan Dokter Robert saja ?"


"Tidak. Kau disini saja. Sebentar akan saya ambilkan obat di kamar."


Gadis itu membuka WhatsAppnya.


Livia : Bisakah kau ke ruangan Pak Jimmy ? Sepertinya aku demam.


Setelah selesai ia kembali tertidur di meja. "Ash.. jangan tidur di posisi itu. Tidur saja di kamar dan ini obatmu." Jimmy membangunkan gadis itu.


"Saya mau ijin pulang saja ya pak."


"Dalam keadaanmu yang begini. Saya yakin untuk berdiri saja pasti tidak bisa."


"Bisa pak." Livia mencoba mengambil tasnya dan berdiri, "Saya ijin pulang pak. Permisi." Baru beberapa langkah menuju pintu dan membukanya, Livia terjatuh.


Untung saja begitu ia membuka pintu Robert sudah berada disana, "Ya ampun. Livia.. bangun...." Robert segera menggendongnya. "Saya permisi pak. Mau mengantarkannya ke ruangan saya." Tanpa menunggu respon dari CEO, ia langsung membawa gadis itu pergi.


Jimmy mengepalkan tangannya menatap pintu ruangan yang tertutup. Dengan segera ia mengambil ponselnya.


*******


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk."


Hanna masuk ke ruangan Yeni, "Biasa tanda tangan." ia menyerahkan dokumen.


"Ntar malam free tak ? Ke Bandung Yuk. Mumpung besok weekend." Yeni selesai tanda tangan memberikan dokumen itu ke Hanna.


"Aku sih oke aja.. Tapi, entah ama anak-anak yang lain ?"


"Tanyalah nanti ke mereka."


"Numpang istirahat ya bentar aja cape nih.."


"Hanya 10 menit. Bentar.." Ponsel Yeni berbunyi. "Hallo..."


'Ini saya Jimmy atasannya Livia.'


"Dapat dari mana nomor ku ?"


'Saat di form interview kan Livia memasukkan nomormu sebagai orang yang bisa dijadikan refrensi untuk ditanyai.'


"Ada apa ?"


'Sahabatmu sakit.'


"Livia yang sakit, kenapa kau menelepon saya ? Disana 'kan ada Robert sebagai dokter."


'Ya saya juga tahu. Maksud saya, saya ingin kamu mengirimkan orang untuk mengantar Livia ke Rumah Sakit. Dia itu kalau sakit sangat enggan ke sana.'


"Kenapa ia harus ke Rumah Sakit sementara ada dokter ahli disana?"


'Saya tak mau nanti Livia akan jadi bahan perbincangan di kantor saya karena berduaan di 1 ruangan.'


Yeni memijat keningnya. "Haduh.. dengar ya Tuan Jimmy Alexander Kurniawan yang terhomat. Mana ada orang aneh yang akan menyebarkan isu kalau ada orang yang sakit dituduh pacaran di 1 ruangan. Lagian kau kan CEO nya ya urus lah sendiri."


'Kau tak khawatir jika sahabatmu dituduh yang tidak-tidak ?'


"Kalau disana ada kau dan Robert yang melindunginya kenapa aku harus khawatir. Sudahlah jangan menelepon untuk hal tak penting." Yeni mematikan ponselnya. "Heran, Livia yang sakit kenapa teleponnya ke aku coba. Padahal disana ada Robert."


Hanna berdiri, "Mungkin dia sudah tak tahu caranya memisahkan Livia dari Robert makanya telepon kau. Mau balik kerja dulu. Bye. Oh iya, Yeni."


"Ada apa ?"


"Ada Security datang dan bilang kalau Tiara ada dibawah cari kau."


"Bodoh amat." Ia tidak menatap Hanna karena sibuk akan tumpukan dokumen-dokumen di mejanya. Sejak Kak Raka pergi semua tugasnya dilemparkan ke Yeni.


"Dia bawa wartawan."


Yeni melempar dokumen ke meja, "Ash.. wanita itu. Kau handle dulu sebagai ganti istirahat disini tadi. 5 atau 10 menit lagi aku turun."


Hanna memutar bola matanya, "Menyebalkan." Ia menutup pintu ruangan atasannya.


Yeni menelepon kakaknya, "Kapan pulang ?"


'Besok adikku sayang.'


"Tiara datang lagi dan bawa wartawan ke kantor."


'Untuk apa ?'


"Ya mana aku tahu sih. Kayaknya dia benar-benar mau menjadikan kakak sebagai target selanjutnya."


'Kau lah urus ya ya ya.. Nanti kakak belikan 10 tas limited edition deh. Kakak lagi sibuk Bye.' Kak Raka langsung mematikan ponselnya.


Yeni mengacak rambutnya dengan kesal, "Sudah sibuk karena dokumen ini dan sekarang harus mengurus wanita aneh itu. Tapi, gimana ya caranya ?"


Sementara itu di Lobby...


"Uda beritahu Yeni soal dia ?" Tanya Ai Chan yang berada di lantai 2 bersama Nia kepada Hanna sambil menatap kegaduhan yang terjadi di kantor mereka.


"Sudah. Yeni malah suruh aku urus 'kan kesel


"Ya uda, ngapain kau sekarang disini ?" Nia menatap Hanna.


"Kau ikut lah Nia. Statusmu kan sekarang pacar pura-pura kakak Yeni."


"Ihh ogah. Kau yang disuruh kenapa gue juga ikutan. Nih, Ice Americano pesananmu."


Hanna berdecak kesal, "Biarin aja kedepannya kalau kau yang akan berurusan ama wanita itu." Ia turun ke lantai bawah.


"Kita turun juga yuk Ni." Ajak Ai Chan.


"Ayo."


Para wartawan sibuk mengerumuni Tiara yang mengaku bahwa dirinya adalah kekasih Raka. "Saya datang kesini untuk memberikan klarifikasi bahwa saya sudah putus dengan Jimmy Alexander Kurniawan dan sekarang saya dengan Raka Kusuma sedang menuju ke tahap pacaran."


"Itu kan katamu." Hanna berdiri di depan Tiara. "Pacarnya Pak Raka adalah Nia. Bukan kau."


"Siapa kau ?" Tiara menatap tajam ke arahnya.


Tiara tertawa meremehkan, "Aku heran, kenapa Livia bisa memiliki banyak koneksi anak-anak orang kaya semua ? Apakah dia memakai pelet ke pada kau, Yeni dan Jimmy ?"


Hanna menunjuk Tiara, "Jaga ucapanmu. Livia tidak seperti itu."


"Kenapa ? Coba semua orang disini bisa bayangkan seorang gadis dari keluarga sederhana bisa punya teman-teman orang kaya dari perusahaan yang punya nama. Apakah kalian yakin bahwa gadis sederhana tersebut tidak melakukan hal-hal gaib untuk berteman dengan mereka ?"


Semua wartawan dan karyawan disana mulai sedikit mempercayainya. "Livia bukanlah gadis seperti itu. Sekali lagi kau mengusiknya. Aku tidak akan tinggal diam."


"Begitu juga aku yang tidak akan tinggal diam kalau Raka diambil oleh wanita lain."


Hanna melipat kedua tangannya di dada, "Kau sudah tak laku lagi ya ? Setelah di depak oleh Jimmy dan sekarang mengincar Pak Raka. Kasihan."


"Kau anak dari perusahaan besar kenapa mau berkerja di kantor temanmu sendiri ? Sebagai bawahan pula. Ck." Tiara tertawa meremehkan.


"Orang tuaku kami tidak keberatan kok. Kenapa kau yang sibuk mengurusi ? Tidak ada kerjaan ya mba jadi harus urus hidup orang."


"Ya setidaknya aku bukan pegawai rendahan sepertimu."


Hanna sibuk bermain ponsel, "Ya setidaknya juga aku bukanlah wanita yang mencari pacar orang kaya hanya untuk menguras mereka."


"Kalau aku dan Raka serasi karena kami sama-sama kaya. Jika dibandingkan dengan temanmu seperti Nia dan Livia yang gadis kelas bawah mengejar pria kaya hanya demi kekayaan. Kyaaaa..."


Nia datang menyiram ice Caffe Latte ke kepala Tiara, "Ups.."


Ai Chan tertawa, "Dia pantas mendapatkannya."


"Kauu... " Tiara memandang tajam ke Nia.


"Kenapa ?"


"Lanjutkan Ni.." Teriak Yeni dari lantai 2.


"Sejak kapan kau berada disitu ?" Hanna menatapnya bingung.


"Sejak kau beraksi tadi." Yeni tersenyum.


"Turun sini. Dia datang mencarimu."


"Ogah Hanna. Kau ama Nia aja sih yang urus."


Tiara yang tak mau kalah menyiram Nia dengan botol minum yang berada di meja resepsionis. Entah punya siapa. "Rasakan itu."


"Kau.. ash.. Bajuku basah semua." Nia menatap tajam ke arahnya. "Wanita gila beraninya kau menyiramku."


"Kau yang memulai duluan."


"Kau.."


Ai Chan menahan Nia, "Sudahlah Nia."


"Bajuku basah semua Ai. Kalau dia tidak mulai duluan dengan menghina aku dan Livia maka tidak akan aku siram juga."


"Aku tidak menghina. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau dan Livia memang wanita kelas bawah yang mengincar pria kaya demi uang semata."


Plakkk...


Nia menampar Tiara, "Ini bayaran atas menghina Livia." Tanpa menunggu balasan dari Tiara, ia langsung menjambak rambut wanita itu, "Dan ini karena sudah menghinaku."


Tiara merintih kesakitan, "Wanita gila lepaskan.. awww.. sakit.."


"Nia sudah." Ai Chan mencoba menenangkannya.


"Nona bagaimana ini ?" Bodyguard Yeni menatap atasannya yang tengah terdiam.


Yeni memijat keningnya, "Ash.. menyusahkan saja. Bawa mereka semua ke ruanganku sekarang." Ia pergi naik lift.


"Nia sudah lepaskan." Hanna mencoba menenangkan Nia juga.


Nia melepaskan tangannya dari rambut Tiara, "Sekali lagi kau menghina aku dan Livia, awas kau."


"Maaf." Semua mata memandang bodyguard Yeni, "Ibu Tiara, Bu Nia, Bu Hanna,dan Bu Ai Chan diminta datang ke ruangan Bu Yeni sekarang."


Mereka pergi meninggalkan Lobby sementara bodyguard Yeni menyuruh security untuk membubarkan wartawan yang berada disana.


Yeni mengetuk pulpennya ke meja menatap teman-temannya dan Tiara, "Tiara, kau kenapa suka banget sih nambah kerjaanku."


"Terus saja kau bela teman-temanmu itu. Mereka yang mulai duluan kok."


"Itu karena kau menghinaku dan Livia. Tentulah aku tidak akan terima."


Tok.. Tok.. Tok..


"Permisi, ada teman ibu datang." Ujar sekertaris Yeni berbarengan dengan seorang gadis datang ke ruangan itu. Sekertaris Yeni langsung menutup pintu.


"Loh, kalian kenapa berada disini ?"


"Narul, tumben kemari ada apa ?"


Gadis bernama Narulita menghampiri meja Yeni dan berbisik, "Jimmy meneleponku suruh datang mengajak kau agar membujuk Livia ke Rumah Sakit."


"Kok gila sih ? Dan kau mau-mau aja gitu ?"


Narulita berdiri di samping Yeni, "Ya kagak. Aku datang untuk ketemu kalian sambil menyampaikan hal itu ke kau."


"Dia dapat nomormu dari mana ?"


"Entah pass aku tanya dia tak mau jawab."


Ponsel Yeni berdering seiring para OB masuk mengantarkan minuman. "Kau duduk saja disana. Pasti lelah berdiri seharian." Perintah ke Bodyguardnya.


"Aku tidak disuruh duduk gitu ?"


Yeni menatap Narul, "Kalian semua tanpa perlu aku suruh duduk juga akan duduk sendiri. Bentar angkat telepon dulu. Ada apa sih ?"


Jimmy tersenyum, 'Temanmu bernama Narul sudah sampaikan pesanku kan ?'


"Dari mana kau dapatkan nomor dia?"


'Di Buku catatan Livia ada nomor-nomor kalian semua.'


"Kenapa telepon ? Aku harus mengurusi mantan pacarmu yang selalu buat ulah di kantorku."


'Livia ada disana tidak ? Dia tidak ada di ruang kesehatan dengan Robert.'


"Livia tidak ada disini. Sudah ya. Berhenti menelepon kalau itu tidak penting." Yeni mematikan ponsel secara sepihak.


"Tiara, bisakah kau berhenti membuat kekacauan di kantorku ?"


"Tidak sebelum aku bertemu dengan Raka. Ash.. bajuku lengket semua gara-gara wanita gila itu. Aku harus pergi beli baju. Dahh.." Tiara keluar dari ruangan Yeni.


"Ai Chan, jika ada berita keluar besok tolong dihilangkan semuanya."


"Iya Yeni."


Ponsel Yeni kembali berdering, "Pria gila ini kenapa sih telepon mulu?"


"Jimmy lagi ?" Tanya Hanna.


"Siapa lagi coba dari tadi telepon aku hanya untuk tanya soal Livia." Yeni me-reject panggilan tersebut.


Ponsel Narulita berdering, "Hallo..Iya Jimmy." matanya menatap Yeni yang juga memandangnya.


Yeni berdiri mengambil ponsel Narulita, "HARUS BERAPA KALI SAYA BILANG KALAU LIVIA TIDAK ADA DISINI. KALAU MASIH PENASARAN SURUH SAJA ANAK BUAHMU CARI JANGAN MENGGANGUKU DAN TEMAN-TEMANKU.!!!" Yeni mematikan panggilan tersebut dan duduk di mejanya.


Jimmy mengkerut memandang ponselnya, "Dia sedang datang bulan ya ? Galak sekali."


Teman-teman Yeni berdiri, "Kita kembali kerja dulu ya." Ujar Ai Chan yang mengajak mereka pergi. Karena mood atasannya sungguh sangat buruk, dari pada mereka kena imbasnya seperti Jimmy tadi lebih baik pergi.


-To be Continue-