Our Love

Our Love
Episode 123



Jimmy hanya berdiri, menggeleng pelan manatap Livia, "Kau bukanlah Livia yang aku kenal dulu."


Disaat pria itu ingin keluar, langkah kakinya terhenti oleh ucapan Livia, "Gadis yang kau kenal sudah mati sejak ditinggal dan dikhianati oleh orang-orang kepercayaan keluarganya." setelah mendengarnya, Jimmy segera pergi.


Tepat setelah pria itu pergi, Livia segera mengalihkan pikirannya dengan membuka media sosial, siapa tahu pikirannya akan sedikit teralihkan oleh sesuatu.


Disaat sedang asyik membuka media sosialnya, mata gadis itu terhenti pada satu foto.


Foto dirinya dengan semua teman-temannya, ia dan mereka terlihat begitu bahagia. Dengan pelan Livia menghela nafas, jika saja orang tua Yeni dan Hanna tidak berbuat seperti itu.


Jika saja orang tuanya tidak meninggal, pasti ia menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Memang perbuatan orang tua mereka sangat jahat pada dirinya. Namun, hati kecil dan otak Livia sangat bertolak belakang.


Hati kecilnya mengatakan bahwa kedua temannya itu tidak sama dengan orang tua mereka, sedangkan otaknya mengatakan bahwa buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya.


Astaga, kenapa ia jadi berpkir negatif terus sih?


"Tidak mungkin, Yeni dan Hanna juga akan berbuat jahat padaku sama seperti kedua orang tuanya." gumamnya pelan. Berulang kali, Livia berusaha untuk menyakinkan dirinya bahwa ia harus berpikir positif, maka akan ada hal positif yang terjadi padanya.


Sepertinya cepat atau lambat gadis itu harus belajar untuk meditasi.


*****


Jimmy memukul setir mobilnya dengan keras, rasa kesal, sakit hati, kecewa semuanya bercampur menjadi satu. Pria tidak tahu perasaan mana yang paling mendominasi sekarang. Berulang kali ia berteriak tidak jelas sebagai bentuk pelampiasan emosinya.


Ponsel pria tersebut berbunyi, dengan malas ia mengangkatnya saat mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Tiara, "Ada apa?"


"Kau berada dimana?" tanya wanita itu.


"Katakan saja apa yang mau kau inginkan, Tiara. Aku sedang tidak ingin berbasa-basi." ujarnya dengan ketus.


"Moodmu sedang tidak baik ya?"


"Katakan saja apa maumu, jika tidak ada akan aku tutup."


Tiara hanya tertawa kecil, "Kau sedang ngambek dengan Tuhan ya? Karena Tuhan menaruh Livia dalam hidupmu." Baru saja wanita itu selesai bicara, Jimmy segera menutup teleponnya secara sepihak yang membuat Tiara kesal.


Dengan segera ia kembali menelepon Jimmy, "Ada apa lagi sih?" ujar Jimmy dengan emosi.


"Kenapa kau jadi mengatur-ngatur aku?"


"Orang nasehati dengan baik bukannya terima kasih malah balik marah-marah." ujar Tiara dengan kesal. Masih untung ada orang baik sepertinya yang mau mengingatkan hal itu pada Jimmy, malah dia membalas dengan mematikan panggilan telepon secara sepihak. Orang tuanya bertingkah seperti itu maka, anaknya pun kaan bersikap sama.


Untuk terakhir kalinya Jimmy mematikan teleponnya agar Tiara tidak dapat menghubunginya kembali. Sekarang apa yang harus ia lakukan?


Ada 2 hak yang diyakini oleh pria itu, antara lain:



Membongkar semua aib orang tuanya pada media massa agar mereka dipenjara, dengan resiko bisa saja ia akan dianggap anak durhaka, anak bodoh atau bahkan anak tak berguna. Namun, disisi lain ia bisa menebus kesalahan orang tuanya pada Livia.



Atau



Membiarkan semua ini seakan-akan tidak pernah terjadi, tetap patuh dan menjadi anak baik untuk orang tuanya.



Mungkin jika dibuat lebih singkat ia hanya perlu memilih antara orang tuanya atau cinta. Hanya itu. Pilihan yang mungkin buat sebagian orang sangat mudah akan tetapi, bagi Jimmy itu susah.


Setelah berdiam diri beberapa saat, pada akhirnya pria itu memilih untuk mengambil keputusan berdasarkan logikanya saja. Memang sudah kodratnya begitu 'kan?


Wanita biasanya mengambil keputusan berdasarkan hati, sedangkan pria berdasarkan logikanya. Hanya satu hal yang ia harapkan, semoga saja keputusannya itu tidak salah dan tidak berbalik menyakitinya.


Semoga.


Disaat sudah merasa agak tenang, Jimmy menyalakan mobilnya dan segera pergi.


-To Be Continue-