
Alasan gadis itu menangis dari dalam mobil dan mengucapkan kata maaf adalah karena ia-lah yang menaruh bom itu secara diam-diam.
Bukankah awal mula semua penderitaan karena perusahaan juga kekayaan keluarganya?
Dengan mengakhiri semua kegilaan bapak-bapak yang gila harta itu sampai membunuh orang tuanya, lebih baik Livia hancurkan saja semuanya.
Ya.
Livia tampak seperti orang yang jahat karena telah membuat ratusan orang kehilangan pekerjaannya dalam sekejap dengan alasan yang mungkin orang lain akan beranggapan terlalu egois dan gegabah.
Ia tak perduli.
Apakah semua orang juga memikirkannya juga?
Bahkan dulu mereka terlalu sibuk untuk membicarakannya dari belakang.
Robert menatap kekasihnya yang kembali masuk dalam mobil, pria itu mengikutinya dari belakang. "Jika kau mau menangis maka menangislah. Aku tahu kau pasti merasa sangat sedih akan hancurnya perusahaan keluargamu itu."
"Mereka memang pantas mendapatkannya." Ucapan gadis itu mendapat tatapan bingung Robert.
"Maksudmu?"
Mata kekasihnya masih terfokus pada banyak karyawan yang menangis, juga Jimmy, Papa Yeni dan Papa Hanna juga ikut bersujud di lantai melihat 2 gedung yang sudah rata dengan tanah.
"Perusahaanku..." teriak Jimmy.
"Uangku.." teriak juga Papa Yeni sambil bersujud.
Robert terdiam, mencerna pengakuan kekasihnya yang tak pernah ia duga selama ini. "Bukankah perusahaan itu hasil dari jerih payah orang tuamu dari dulu? Kau tak memikirkan ratusan karyawan yang hidupnya tergantung pada perusahaan itu dan sekarang kau menghancurkan tempat mereka untuk mencari nafkah selama ini."
"Ya. Aku memang egois. Aku tahu itu. Pernahkah kau juga memikirkan perasaanku? Aku tahu aku salah. Aku tahu bahwa aku membuat ratusan karyawan kehilangan pekerjaannya. Tapi.. Pikirkan juga perasaanku. Kau kira aku juga tidak terbebani selama ini? 10 tahun lebih aku menderita sendiri, selalu diejek sebagai pembunuh orang tuanya sendiri. Kau tahu betapa depresinya aku sampai harus bergonta-ganti psikiater. Saat kuliah aku beruntung karena mempunyai teman-teman seperti mereka." Gadis itu menunjuk ke arah kerumunan orang-orang disana. "Mereka juga menusukku dari belakang. Dua orang diantara teman-temanku adalah anak dari pembunuh orang tuaku sendiri. Lalu, kedua orang tua mereka juga menginginkan aku meninggal karena harta sialan itu." Livia menangis menunjuk ke perusahaan orang tuanya yang sudah hangus terbakar, "Karena harta sialan itu pertemanan, keluargaku, semuanya hancur. Lebih baik aku hancurkan saja semuanya agar mereka puas dan berhenti menggangu hidupku!! Dan sekarang kau masih menggangapku egois atas apa yang aku perbuat?"
Pria itu terdiam tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Mungkin orang lain yang tak mengetahui latar belakang Livia akan menggangap gadis itu begitu egois. Disisi lain, ada rasa kasihan pada dirinya.
******
Livia terdiam di dalam kamar bergonta-ganti channel TV yang menyiarkan pemberitaan akan dirinya juga hancurnya perusahaan keluarganya. Gadis itu mematikan TV lalu meringkuk dibalik selimut.
Pelayan mengetok pintu kamarnya, "Nona, sarapan sudah siap."
"Ya." ujarnya dengan malas keluar dari kamar menuju ruangan makan yang dimana keluarga Jimmy memasang wajah sedih. "Pagi." Livia duduk disamping Tasya. Tidak ada sautan salam dari keluarga itu.
"Jadi, apa rencanamu sekarang Jimmy?" tanya Mama Jimmy padanya. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Yang kita punya hanyalah rumah ini."
"Aku akan minta bantuan pada Papa Yeni dan Papa Hanna. Kita asih ada arsuransi perusahaan." ujarnya membuat 3 orang disana melirik ke arah Livia.
Jika saja gadis itu tahu akan semua kebenaran ini, pasti ia-lah yang paling hancur saat melihat perusahaan yang sudah susah payah orang tuanya bangun kini rata dengan tanah.
Walaupun sudah 12 tahun berlalu, mereka masih tetap menyembunyikan rahasia besar itu darinya.
-To Be Continue-