Our Love

Our Love
Part 92



Yeni tertawa miris, "Aku selama ini bersusah payah membantu mengurusi perusahaan sekarang ini balasannya? Buat papa, harta lebih penting dari anak-anaknya sendiri." Gadis itu kembali tertawa tak terasa air matanya turun, "Aku sungguh tak menyangka rasanya akan sesakit dan sehancur ini kak."


Raka menatap sendu ke adiknya, dia berjalan menghampiri lalu memeluknya, "Kakak yakin. Papa tidak bermaksud mengatakan hal-hal seperti itu. Dia hanya sedang emosi saja karena kakak."


******


Tiara memandang seseorang yang kini duduk berhadapan dengannya. Sesekali wanita itu tersenyum, "Aku tak menyangka kau mengajakku bertemu. Kau tak takut ketahuan oleh teman-temanmu?"


"Tidak. Jika mereka curiga pun aku tak masalah."


"Apa yang mau kau bicarakan padaku langsung to the point saja."


"Aku mau meminta bantuanmu..." Ucapan Livia belum selesai sudah dipotong oleh suara tawa mengelegar dari Tiara membuat semua orang yang kafe tersebut memandang mereka. Ya. Orang yang ingin gadis itu temui adalah Tiara.


"Kau? meminta bantuanku? tidak salah?"


"Tidak. Aku serius ingin meminta bantuanmu mencari seseorang."


"Apa keuntungan yang aku dapatkan?"


"Aku akan memberitahumu apa rencana yang dilakukan oleh Yeni dan Hanna kepadamu."


Tiara tertawa merendahkan, "Aku sudah memiliki mata-mata sendiri tak perlu kau jadi ikut-ikutan seperti itu. Memangnya kau mau meminta bantuan seperti apa?"


"Bantu aku cari seseorang yang sudah lama ingin aku ketahui. Kau seharusnya mengetahui orang itu karena kau dulu mantan pacarnya Jimmy."


"Siapa?"


"Pak Rahmad." Ucapan Livia membuat Tiara terkejut dan terdiam. "Dia salah satu orang kepercayaan papaku, pernah bertemu sekali atau dua kali saat aku masih awal-awal jadi karyawan baru disana. Namun, terakhir aku dengar beliau pensiun."


Tiara menimum kopi untuk menenangkan rasa terkejutnya, "Kenapa kau sangat ingin mencari beliau?"


"Ada hal yang ingin aku tanyakan padanya."


"Kenapa kau tidak meminta teman-temanmu saja untuk mencarinya?"


'Kenapa lama sekali kau mengangkatnya?'


"Baru selesai makan siang. Ada apa?" Tanya Livia yang kembali ke kantornya.


'Ini sudah mau jam 1 siang. Masih ada banyak pekerjaanmu disini.'


"Iya aku tahu." Jawab Livia ketus.


'Kau ada dimana sekarang? masih makan?' Tanya Jimmy penasaran.


"Ini sudah di kantor. Lagi nunggu lift." Jawab Livia. "Lagipula ini hari terakhirku berkerja."


'Ya aku tahu. Kau sungguh ingin jadi adik angkatku?'


"Tentu saja. Sudah ya Liftnya uda terbuka. Bye." Livia mematikan panggilan itu secara sepihak lalu masuk dalam lift.


Semoga saja, dengan meminta bantuan pada Tiara itu benar.


******


Tiara terdiam memandang gedung tinggi yang bersebrangan kafe dimana ia dan Livia bertemu. Mata wanita itu menatap pria paruh baya yang baru saja datang lalu duduk di bekas tempat duduk Livia tadi, "Papa sudah datang." Ujarnya sambil tersenyum.


"Kenapa kau meminta ayah datang ke tempat seperti ini? Bagaimana jika orang-orang di kantor itu tahu?" Tanya ayah Tiara yang baru saja tiba. "Bagaimana dengan temanmu yang tadi mengajakmu bertemu? ada dimana dia?"


"Itu Livia."


Mata Pak Rahmad membulat, "Livia? untuk apa dia mencarimu?"


Tiara menatap ke ayahnya, "Dia memintaku untuk mencari seseorang dan ayah tahu siapa orang yang dia cari?" Wanita itu terdiam sesaat, "Dia mencari ayah."


-To Be Continue-