
Awalnya memang begitu, namun karena ulah Tiara maka, pengacara orang tua Livia kini meminta papa, papa Jimmy, Papa Hanna dan Pak Rahmad (Ayah Tiara) yang entah berada dimana untuk berkumpul membahas warisan itu belum lagi Tiara akan datang. Papa belum memberitahumu ya mengenai salah satu isi dari surat warisan dari orang tua Livia yang dimana berisi 'Jika Livia masih hidup maka seluruh harta Wijaya jatuh padanya. Lalu, jika Livia meninggal maka hartanya akan dibagi pada kami berempat."
Apa ?
Kenapa ada surat wasiat seperti itu ?
Tiara baru mengetahui hal ini.
Ayahnya (Pak Rahmad) tidak pernah mengatakan hal itu.
Selama ini papa mereka tidak pernah menceritakan akan adanya surat wasiat itu.
"Berempat ? Lalu, siapa satu lagi ?" Tanya Jimmy.
"Pak Rahmad. Salah satu orang kepercayaan keluarga Wijaya." Jawab Pak David (papa Jimmy) pada mereka. "Lagi pula papa tidak tahu akan dimana beliau tinggal dan bagaimana kabarnya hingga saat ini." Lanjutnya.
"Haruskah kita membawa Livia dan wartawan kesana ? Untuk menghancurkan Tiara di depan publik ?" Ucap seorang pria paruh baya yang tiba-tiba saja Ayah dari Hanna dan Hanna yang berdiri di pintu ruangan Yeni. Entah sejak kapan mereka berada disana.
"Kenapa kau bisa berada disini ?" Tanya Papa Yeni pada Papa Hanna.
Pria paruh baya itu duduk di sofa dan mengatakan, "Aku dengar dari David (Papa Jimmy) kalau dia mau menjodohkan Jimmy dengan Livia. Makanya, aku langsung datang memberitahumu."
Yeni dan Hanna saling memandang, mereka terkejut mendengar hal itu.
Apa lagi yang akan orang tua mereka lakukan ?
Belum cukupkah semua kekacauan yang mereka sebabkan selama ini ?
Belum selesai masalah yang satu, dan sekarang mau menambah lagi masalah baru.
"Aku sudah duga. Dia ingin menguasai harta itu sendirian dan tak mau membagi rata dengan kita semua. Raka, kau harus lebih sering mendekati Livia agar dia jatuh cinta padamu." Ujar Papa Yeni padanya.
******
Jimmy menatap jam yang terpasang di ruangannya. Sudah jam 12 siang. Dengan segera pria itu menarik Livia, "Ayo pergi makan siang bersamaku. Ada yang mau aku bicarakan mengenai perjodohan kita." Tanpa menunggu respon gadis itu, ia menariknya keluar namun bertemu dengan Robert.
"Kau mau bawa kemana Livia ?" Tanyanya.
"Ada yang mau aku bicarakan dengannya. Berdua." Ucap Jimmy menekankan kata terakhir. Pria itu menarik Livia pergi meninggalkan Robert yang menatapnya bingung.
"Kau mau bawa aku kemana sih ? Tidak usah pakai acara tarik tanganku segala." Keluh Livia masuk dalam mobil.
"Makan siang sekaligus pergi ke suatu tempat." Jawab Jimmy.
"Pekerjaanku belum selesai." Timpal Livia yang melipat kedua tangannya di dada.
Dasar tukang pemaksa.
Dari kecil sampai sekarang tak pernah berubah.
"Kau bisa lembur, 'kan ? aku lihat kau tidak ada jadwal kuliah hari ini." Tanya Jimmy yang mulai menyalakan mesin mobil.
Livia terdiam. Terserahlah pria itu mau membawanya kemana. Gadis bermata cokelat itu masih belum bisa melupakan perkataan Tiara kemarin. Mereka tiba di sebuah restaurant begitu selesai makan, Jimmy mengajaknya pergi lagi.
"Kau mengajakku kemana sampai harus lewat jalan tol ?" Tanya Livia saat merasa jalan yang mereka tuju bukanlah jalan kembali ke kantor.
"Bandung." Jawab Jimmy santai.
"Apa ?? Kau gila kenapa mengajakku sampai sejauh itu ?" Teriak Livia.
Kenapa sih pria itu suka seenaknya sendiri ?
Tidak perdulikah dia bahwa ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakan Livia di kantor.
Dan sekarang pria itu malah mengajaknya pergi ke Bandung.
Livia mendesah pelan.
Sungguh menyebalkan.
"Mana jauh sih. Cuma waktu tempuh 2 jam kok jika jalan tol lancar." Ucap Jimmy.
"Kapan kerjaanku bisa selesai jika kau membawaku pergi sejauh ini ? bagaimana dengan pekerjaanmu ?" Tanya Livia yang mengutarakan isi pikirannya
"Tidak usah kau pikirkan. Cukup diam dan lihat saja." Ucap Jimmy dengan santai.
Livia terdiam.
Dia sudah malas berdebat dengan pria itu.
Bagaimana pun Jimmy memang atasannya.
Atasan yang pemaksa dan suka seenaknya sendiri.
Livia sangat tidak suka itu.
Sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang berbicara, mereka terlalu sibuk akan pemikiran masing-masing hingga tak terasa mereka tiba di suatu tempat. "Turun." Perintah Jimmy. Begitu keluar dari mobil mereka, sepanjang mata memandang terbentang rumput juga berbagai macam bunga yang tengah mekar. "Tempat ini..." Ucap Livia yang masih tidak menyangka tempat yang dia lihat.
"Kau suka ?" Tanya Jimmy yang berdiri disampingnya. Mereka dapat mengingat dengan jelas akan memori yang masih tersimpan sampai saat ini. Waktu itu, orang tua Livia dan Jimmy sering berlibur bersama. Kedua anak kecil itu mengujungi tempat ini setiap kali mereka berlibur ke Bandung.
"Alexander lihat disini banyak sekali bunga." Ucap Livia kecil menarik tangan Jimmy dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya mengendong boneka teddy bear.
"Jangan tarik tanganku, sakit tahu." Ujar Jimmy atau dipanggil dengan Alexander melepaskan tangannya dari Livia.
"Lihat indah sekali, 'kan ? Livia suka berada disini." Ujar gadis kecil itu sambil tersenyum.
"Apanya yang indah sih ? biasa saja." Jawab Jimmy kecil dengan ketus.
Dia tak mengerti kenapa para gadis suka sekali dengan bunga ?
"Ihh, Alexander jahat. Ini indah tahu. Dasar payah." Gerutu Livia kecil menjulurkan lidahnya lalu berlari bersembunyi dibelakang kaki orang tuanya.
"Dasar cengeng." Gumam Jimmy kecil pelan.
"Mama lihat, Alexander jahat." Teriak Livia kecil mengaduh pada mamanya.
"Alexander jangan gitu." Tegur mama Jimmy.
"Alexander tak suka kalau Livi cengeng, Ma." Balas Jimmy kecil memandang mama Livia.
"Awas kalau suatu saat nanti, Livia tak'kan mau dengan Alexander." Ujar gadis kecil itu membuat orang tua mereka tertawa.
Jimmy dan Livia teringat akan masa kecil mereka disini, "Kenapa kau membawaku kemari ?" Tanya Livia berbalik menatapnya.
Kenapa dirinya harus datang ke tempat ini lagi ?
Tempat dimana orang tuanya meninggal dulu.
Apa alasan Jimmy yang mengajaknya kesini ?
"Aku hanya tak mau kau sedih dan sedikit refreshing dari perkotaan." Ucap Jimmy terduduk di dekat pohon. "Masa-masa dulu begitu indah." Matanya menatap ke arah langit biru.
Livia terduduk disampingnya lalu berkata, "Ya. Jauh sebelum orang tuaku meninggal karena kecelakaan."
"Aku minta maaf." Ucap Jimmy membuat Livia memandangnya. "Maaf, karena dulu aku berpikir kalau kau adalah penyebab kakek dan nenekku meninggal."
Apakah jika kau meminta maaf bisa mengembalikan papa dan mamaku hidup lagi ?
"Jangan diungkit lagi. Aku tak mau mengingatnya." Ujar Livia agar Jimmy berhenti berbicara padanya. Lebih tepatnya, gadis itu akan mudah menangis. Kau tahu, disaat kau mengalami semua beban yang kau tanggung sendiri selama ini dan tak ada orang yang bisa kau jadikan sandaran. Sekian lama tertumpuk begitu banyak hingga begitu mencapai puncaknya kau tak bisa menjelaskan dengan kata-kata lagi, dan kau hanya bisa menangis untuk meluapkan semuanya.
-To Be Continue-