
"Samping kau juga kosong. Kenapa harus dia duduk disampingku ?" Ujar Hanna tak terima.
"Biar dia bisa liat Tiara, Na." Ujar Livia.
Jimmy tersenyum, "Livia, kalau kau cemburu bilang saja jangan main sindir-sindiran seperti itu."
"Ck. Siapa juga cemburu. Kau itu mau kasih tugas apa sih ? Tidak bisa nunggu besok ya ?"
"Tidak."
"Maaf, kalau aku menggangu lebih baik aku pergi saja." Ujar Tiara.
"Tak apa kau duduk saja di samping Jimmy." Ujar Narul membuat Yeni menatapnya tajam.
"Narul !"
"Biarkan saja Yeni. Cuma makan doank kok." Narul berbicara dengan tenang membuat Yeni dan yang lainnya terdiam.
Tiara duduk disamping Jimmy, "Makasih ya. Oh iya, kenalkan namaku Tiara."
Narulita bersalaman dengannya, "Narulita."
"Tumben baik." Sindir Yeni.
"Kita akan bentar lagi akan jadi keluarga."
Ucapan Tiara membuat Yeni tersenyum sinis, "Aku tidak mau kau jadi keluargaku. Lebih baik Nia yang jadi keluargaku dari pada kau."
"Kenapa sih kau begitu membenciku ? Aku kan tidak buat salah apa-apa."
"Kau lupa ? Kau dulu datang memohon agar aku memberikan ganti rugi karena membuat kakimu patah lalu mencari masalah dengan karyawanku ?"
"Itu semua karena mereka yang memulainya."
"Aku tak percaya."
"Setelah kau melepaskan Jimmy sekarang kau mencari mangsa baru, yaitu kakakku. Begitukah ?"
"Aku tidak melepaskan Jimmy. Justru temanmu itu yang sudah merebutnya dariku. Tidakkah kau takut jika Livia menggoda kakakmu ?"
"Aku tidak pernah menggoda pria orang lain. Jaga ucapanmu itu." Livia pun bersuara.
"Tentu saja. Aku lebih percaya temanku dari pada kau."
Tiara tersenyum sinis, "Livia aku peringatkan. Berhati-hatilah pada mereka. Kau tak tahu di dunia ini banyak sekali temen yang depannya baik tapi belakangnya nusuk." Tiara memandang semua teman-teman Livia.
"Salah satunya adalah kau." Hanna memandang Tiara dengan sinis.
"Kau menyindir kami ?" Nia pun tak terima.
Tiara pura-pura terkejut "Oh. Kau merasa tersindir ? Aku tidak menyebutkan nama loh."
Narul mencoba mengalihkan pembicaraan sebelum suasana makin memburuk, "Skripsi dan laporan OJT kalian gimana perkembangannya ?"
"OJT ku tinggal sedikit lagi sedangkan Skripsi belum nemu judul yang pas nih." (Hanna)
"Sama, Na. Aku juga belum nemu judul untuk skripsi. Laporan OJT juga baru ke bab 3." (Livia)
Tiara meminum minumannya sambil berkata, "Ahh, aku penasaran akan kabar perusahaan Wijaya yang hilang sampai sekarang." Ucapannya membuat semua orang memandangnya. "Kenapa ? Apakah aku salah bicara?"
"Kenapa kau tiba-tiba penasaran akan perusahaan itu ?" Tanya Jimmy.
"Hanya penasaran saja. Tidak boleh ? Lagi pula kini media sudah tidak memberitakan mengenai hal itu. Aku heran apakah semua orang tidak bingung akan perusahaan besar yang dulu pernah berjaya sekarang hilang bak ditelan bumi." Tiara melirik ke arah Livia dan teman-temannya. "Penerus terakhir keluarga Wijaya itu sungguh meninggal ya ? Livia kau bukan penerus terakhir dari perusahaan itu kan ?"
Pertanyaan Tiara membuat Livia terdiam sejenak, "Mana mungkin. Setahuku penerus terakhirnya sudah meninggal." Ucapnya bohong.
"Habisnya kau memiliki marga yang sama."
"Marga Wijaya tidak cuma ada 1 se-Indonesia. Ada banyak tahu. Livia salah satunya." Ujar Ai Chan.
Tiara mengganguk pelan, "Benar juga. Mana mungkin gadis seperti dia adalah penerus keluarga Wijaya. Aku sudah selesai makan. Aku pergi dulu. Bye. Livia jangan lupa akan ucapanku tadi. Tidak semua temanmu itu baik." Tiara pun pergi.
"Merusak suasana saja." Gumam Yeni. "Kau pun harus pergi. Jangan ganggu kami." Ia melirik Jimmy.
"Kau marah pada Tiara kenapa aku yang kena ?" Jimmy mengelap mulutnya dengan Tissue. "Ya sudah aku pergi. Soal pekerjaan yang aku berikan pada Livia. Besok saja. Aku sudah agak lupa. Bye." Jimmy pergi.
"Ga jelas." Gumam Nia. Mereka pun selesai makan dan saat akan membayar...
"Jimmy dan Tiara belum membayar makanannya ?" Livia yang menerima bill terkejut melihat ada 2 menu lain yang tertera disana.
-To Be Continue-