
Hanna menggelengkan kepala, "Aku tidak bisa menemukan bukti kalau dia yang sengaja merekayasa agar Om David (papa Jimmy) masuk dalam penjara karena penggunaan obat-obatan terlarang."
Yeni berdecak kesal, "Mana papaku sekarang sering memaksa kak Raka untuk mendekati Livia. Papa berniat menjodohkan Kak Raka dengan Livia. Padahal yang disukai kakakku bukanlah Livia. Ash.. karena harta itu dan ulah Tiara yang mengaku-ngaku sebagai penerus terakhir dari keluarga Wijaya.
Ash..
Wanita gila..
Merusak segalanya...
Sejak awal memang seharusnya wanita itu dihilangkan saja dari muka bumi ini..
Di mobil yang lain, Robert dan Livia sibuk berbincang satu sama lain. "Kau mau ?" Tanya Livia menawarinya snack kentang yang baru saja mereka beli di sebuah minimarket untuk jaga-jaga jika mereka kelaparan di tengah jalan. Robert mengganguk, gadis itu menyuapinya karena dia sedang menyetir.
"Enak." Jawab Robert sambil tersenyum.
"Aku jadi ingat kejadian saat kau menemaniku untuk memeriksa kesehatan Telingaku di Rumah sakit." Ucap Livia tertawa kecil mengingat kejadian tadi di Rumah Sakit sebelum mereka pergi ke rumah Jimmy.
Flashback...
Saat mereka berada disana ada sepasang suami isteri dari Korea Selatan datang untuk memerisakan kesehatan Telnga, Hidung dan Tenggorokkan anak-anaknya.
“Ramai sekali.” Ae Rin turun dari gendongan Chang Min.
“Appa kita duduk disana.” Min Hyuk menarik tangan Chang Min Sementara, Hee Sun pergi untuk mengambil nomor antrian begitu selesai ia menghampiri suami dan ketiga anaknya.
“Kita ada di nomor 10 dan sekarang baru nomor 3.” Hee Sun duduk disamping Chang Min sembari memangku Min Hyuk.
“Wah lucu sekali anak-anaknya.” ujar seorang ibu berusia tua menatap Min Woo yang bermain ipad, Ae Rin yang sibuk mencubit pipi Min Hyuk berulang kali dan Min Hyuk yang sibuk akan cemilan buah-buahan yang dibawa Via dari rumah.
“Gomawo ajhumma.” Chang Min dan Hee Sun tersenyum.
“Annyeonghasaeyo, naneun Choi Min Woo imnida, usiaku 8 tahun. Ini adik perempuanku Choi Ae Rin, usianya 6 tahun dan Choi Min Hyuk usianya 3 tahun.”
Orang-orang yang duduk di ruang antrian tersenyum melihat Min Woo yang tiba-tiba saja memperkenalkan diri pada mereka. “Aigoo kyeopta.” ujar salah satu diantara mereka.
Min Woo menghampiri seorang anak perempuan berbaju pink yang lebih muda darinya, “Annyeong. namamu siapa ?”
“Min Young.” jawab anak perempuan itu.
“Berapa usiamu ?”
“Empat.”
“Apa kau datang untuk memeriksakan telinga, hidung dan tenggorokanmu ?”
Eomma Min Young menjawab, “Kedua telinga Min Young penuh kotoran dan harus dibersihkan. Min Young sering sekali membersihkan dengan cotton but.”
Ae Rin datang menghampiri, “Kata appa kita tidak boleh membersihkan dengan cotton but karena kotoran akan semakin masuk ke dalam.”
“Pintar sekali.” Ujar ajhumma yang lain. “Lalu, siapa yang sakit ?”
Ae Rin menggeleng, “tidak ada. Kami datang hanya untuk mengecek bagian Telinga, Hidung dan Tenggorokan. Ini pertama kalinya kami datang kemari.”
Hee Sun ikut menimpali, “Mereka bertiga paling tidak suka jika aku dan suamiku membersihkan telinga mereka. Kami takut jika kotoran di telinga mereka semakin banyak. Maka dari itu, kami datang untuk mengecek sekaligus membersihkan telinga mereka.”
“Kotoran telinga Min Woo oppa pasti paling banyak.” (Ae Rin)
“Tentu saja kotoran telingamu yang paling banyak.” (Min Woo)
“Oppa !”
“Ae Rin !”
“ihh.. eomma.. Min Woo oppa tak mau mengalah.” Ae Rin merajuk.
“Eomma dia yang mulai duluan.” Min Woo pun tak mau kalah.
“Min Woo, Ae Rin nanti saat bertemu dengan dokter kalian akan bisa mengetahui telinga siapa yang paling bersih.” Chang Min coba menenangkan kedua anaknya.
“Apa ?” (Min Woo)
“Telinga siapa yang paling bersih diantara kita bertiga.” (Ae Rin)
“Tentu saja aku yang paling bersih.” Min Woo menatap ke arah appanya yang sedang minum, “Atau... telinga appa yang malah paling kotor.”
Chang Min tersendak ketika mendengar ucapan anak sulungnya itu, “Telinga appa tuh paling bersih.”
“Aku hanya menebak.” Gumam Min Woo kecil.
Ae Rin menatap ke arah Min Woo, “Kalau aku menang maka aku yang akan tidur dengan appa, eomma dan Min Hyuk.”
“Oke.. kalau aku menang maka aku yang akan tidur dengan appa, eomma dan Min Hyuk.”
Chang Min memangku Ae Rin, “Tidak bisakah appa dan eomma tidur berduaan saja ?”
“Tidak.” Ucap Min Woo dan Ae Rin bersamaan.
“Bagaimana jika yang menang akan appa berikan mainan baru ?”
“Tidak.” Ucap mereka lagi.
“Makanan enak ?” (Chang Min)
“Tidak appa.” Jawab Ae Rin.
“Kami hanya ingin tidur dengan appa dengan eomma.” Timpal Min Woo.
“Kalian kan sudah besar masa iya harus tidur dengan orang tua.” (Chang Min)
Seorang wanita tua duduk di sebelah Hee Sun berbisik, “Kau tidak coba untuk melerai mereka ?”
Hee Sun tersenyum, “Mereka sudah sering seperti itu.”
“Kalian tak mau punya adik baru ?” Tawar Chang Min..
“Tidak.” Ucap mereka lagi.
“Sudahlah oppa mereka mungkin hanya tidur semalam saja.” Hee Sun pun berbicara.
Min Woo memegang tangan eommanya, “ Kami tidak mengatakan kami akan tidur dengan appa dan eomma selama semalam.” Ucap Ae Rin.
Min Woo dan Ae Rin tersenyum saling menatap, “Jika salah satu dari kami menang maka kami akan tidur dengan appa, eomma dan Min Hyuk selama setahun.” Mereka berdua pun ber-hi five ria.
Flashback End
Robert dan Livia tertawa, "Mereka lucu sekali ya ampun." Ucap Livia.
"Suatu saat nanti kita pasti akan memiiki anak seperti mereka." Ucapan Robert membuat pipi Livia memerah.
Ya.
Pasti akan sangat menyenangkan.
Kapan hal itu bisa terjadi padanya ?
"Nanti kita harus memberitahu kepada semua orang akan hubungan kita ini." Timpal Livia memandang Robert.
Pria itu memegang tangannya lalu menciumnya, "Pasti. Kita akan memberikan kabar bahagia untuk mereka sayang dan mereka pasti akan sangat senang mendengarnya."
~To Be Continue~