
Janson berteriak, "Seharusnya aku yang mengatakan kalimat itu padamu!"
Papa Janson turun dari lantai 2 menghampiri puteranya, "Kau berteriak pada siapa sih? sampai papa dengar dari lantai 2."
"Ada macan betina mengamuk tadi disini." ucap Janson meninggalkan sang papa yang bingung akan kalimat dari mulut puteranya.
****
Berkali-kali Livia memukul bantal sebagai bentuk pelampiasan amarah dan kekesalannya pada pria aneh yang baru saja ditemuinya. Ponsel gadis itu berbunyi, tertera nama dari orang yang meneleponnya, Jimmy. Dengan malas ia mengangkatnya, "Ada apa?"
"Apakah kau punya waktu besok untuk kita ketemuan?"
"Mau bahas apa lagi?"
"Mengenai kematian orang tuamu."
Livia terdiam beberapa saat. Untuk apa pria itu harus membahasnya? "Kenapa kau tiba-tiba ingin membahas mereka?"
"Makanya besok kita ketemuan untuk membahas hal ini."
"Baiklah, mau jam berapa?"
"Nanti akan aku kabari lagi." Pria itu mematikan panggilan telepon secara sepihak. Kenapa sih harinya sangat tidak beruntung? sudah bertemu dengan pria aneh yang tak jelas seperti Janson dan sekarang tingkah aneh dari Jimmy. Ah, sudahlah. Lebih baik ia pergi menemui kekasihnya. Entah kenapa pria itu juga akhir-akhir ini jarang menghubunginya. Berbagai pikiran-pikiran buruk mulai menghampirinya. Dengan segera Livia menggeleng kepalanya, berharap semua imajinasi buruk itu dapat lenyap.
Ia tidak boleh berburuk sangka pada kekasihnya sendiri. Mungkin saja Robert memang sangat sibuk belakangan ini jadi tidak ada waktu untuk menghubunginya. Dengan segera Livia mengambil tasnya lalu pergi.
****
Tasya menatap kakak laki-lakinya yang meminta agar seluruh anggota keluarga berkumpul, "Kakak tumben sekali ingin keluarga kita berkumpul seperti ini."
"Apa itu? Jangan bilang kakak sudah punya pacar?"
"Bukan itu."
"Lalu apa?"
Belum sempat Jimmy menjawab pertanyaan adiknya, seorang asisten rumah tangga berlari menghampiri mereka, "Maaf, Tuan dan Nyonya. Di..diluar ada polisi."
Semua anggota keluarga Jimmy terkejut mendengarnya, kecuali dirinya. "Aku yang memanggil mereka."
Papa Jimmy menatap tajam ke arah puteranya, "Apa yang kau lakukan!?"
"Memasukkan papa dalam penjara." jawabnya dengan tenang.
"Kakak sudah gila ya!? Dia itu papa kandung kita. Kenapa kakak memasukkannya dalam penjara?" tanya Tasya padanya.
"Kau tanyakan saja padanya, apa yang sudah ia perbuat bersama teman-temannya terhadap keluarga Wijaya di masa lalu?" Orang tua Jimmy terkejut dan tidak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari mulut puteranya sendiri. "Kenapa? papa dan mama terkejut mengetahui bahwa aku tahu kelakuan kalian di masa lalu?"
"Bagaimana bisa kau..."ucapan papa Jimmy terhenti karena para polisi tiba dan menahan mereka. Tidak hanya terjadi pada keluarga Jimmy, hal yang sama juga terjadi pada keluarga Yeni dan Hanna. Jimmy terdiam tidak memperdulikan cacian dan makian dari mulut orang tuanya.
Jika Livia tidak melakukan apapun, maka ia 'lah yang harus melakukannya. Pria itu sudah membuat keputusan setelah memakan waktu yang cukup lama dan kini Jimmy memilih untuk mengungkapkan kebenarannya, meskipun orang tuanya sendiri yang menjadi taruhan. Ia sudah tidak perduli lagi dengan ucapan dari orang-orang diluar sana nantinya bahwa dirinya merupakan anak durhaka karena sudah memenjarakan orang tua kandungnya sendiri.
Mungkin suatu hari nanti ia akan menyesalinya. Tapi, kebenaran sepahit apapun memang harus diterima 'kan? Setidaknya Livia bisa sedikit tenang dengan masalah ini. Jimmy juga sebenarnya cukup muak akan semua ini. Walau bukan dirinya yang melakukan kesalahan, tapi rasa bersalah itu selalu datang menghantuinya.
-To Be Continue-