
Mata Pak Rahmad membulat, "Livia? untuk apa dia mencarimu?"
Tiara menatap ke ayahnya, "Dia memintaku untuk mencari seseorang dan ayah tahu siapa orang yang dia cari?" Wanita itu terdiam sesaat, "Dia mencari ayah."
"Untuk apa? kau tidak memberitahu hal yang sesungguhnya 'kan?"
"Tidak. Sekarang ayah mau menemuinya atau tidak? aku yakin pasti gadis itu mau menanyakan soal perusahaan Wijaya."
"Kau mau ayah bertemu dengannya?"
"Tidak. Saat ini bukan waktu yang tepat. Tapi, ya..Aku kembali lagi keputusan ada di tangan ayah bukan aku."
"Ya sudah. Ayah akan menemuinya." Ucapan ayahnya membuat Tiara terdiam. Sungguh ia tak menyangka sang ayah akan begitu mudah untuk menyetujui hal itu. Sekarang wanita itu harus memikirkan hal lain yang harus dilakukannya. "Lalu, kau sudah menentukan hal apa yang mau dilakukan pada saat hari ulang tahun perusahaan Wijaya yang ke 50?" Tanya Pak Rahmad yang membuat Tiara terdiam sejenak untuk berpikir.
Seketika wajahnya tersenyum, "Aku tahu."
******
Jimmy menutup laptopnya, mengambil jas dan tas lalu berjalan menghampiri Livia yang masih berkerja, "Cepat matikan computermu. Kita harus pergi."
"Kemana?"
"Ke penjara untuk menemui papa."
"Kenapa aku harus ikut?"
"Untuk membahas mengenai kau yang mau diangkat jadi anak. Cepat aku tidak mau menunggu terlalu lama." Perintahnya lalu keluar dari ruangan meninggalkan Livia sendirian.
"Iya sabar." Ujar Livia mematikan komputer lalu keluar dari ruangan Jimmy.
"Ayo pergi." Ajak Jimmy pada Livia juga Bu Jasmine membuat kedua orang itu saling memandang dan mengikuti pria itu dari belakang.
Sepanjang perjalanan tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara, semuanya sibuk akan pikirannya masing-masing. Livia pusing memikirkan langkah apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Berbagai prasangka dalam dirinya pun muncul.
Bagaimana jika Tiara tidak mau mempertemukannya dengan Pak Rahmad?
Apa yang harus Livia lakukan?
Bagaimana jika keluarga Jimmy tak jadi untuk mengangkatnya sebagai bagian dari keluarga mereka?
Jika seandainya, Tiara mempertemukannya dengan Pak Rahmad. Apakah beliau bisa dipercaya?
Mungkinkah beliau berbeda dari orang kepercayaan papanya yang lain?
Oh Tuhan..
Kenapa semuanya jadi rumit seperti ini?
Livia mendesah pelan. Jadi begini, rasanya dikhianati dan ditusuk oleh orang-orang yang sangat kita percayai dari belakang.
Sakit..
Marah..
Kecewa..
Semuanya bercampur jadi satu.
Ya Tuhan, kenapa fakta mengejutkan ini begitu menyakitkan bagi Livia?
Gadis itu memandang ke langit, menyenderkan kepalanya di jendela mobil.
Papa..mama.. Apa yang harus Via lakukan?
Pikiran dan hatinya pun terbelah menjadi 2 pihak. Hatinya ingin mencoba untuk memaafkan atas semua kesalahan yang orang-orang itu lakukan.
Pikirannya berad di pihak agar Livia jangan mau saja diperlakukan seperti itu. Agar gadis itu harus membalaskan dendamnya pada mereka atas apa yang sudah mereka lakukan 12 tahun yang lalu padanya. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.
"Semua dokumennya sudah kau siapkan?" Pertanyaan Jimmy pada Bu Jasmine membuyarkan lamunan Livia.
"Sudah pak." Jawab Bu Jasmine membuat Livia memandangnya sejenak. Seketika gadis itu membulatkan matanya menatapnya.
Iya.
Livia baru ingat pada saat pertama kali dirinya berkerja di perusahaan Sapphire Blue Bu Jasmine mengatakan beliau sudah berkerja disana selama 20 tahun.
Itu artinya pada saat papa masih hidup, Bu Jasmine ada disana.
Merasa diperhatikan Bu Jasmine menatap Livia, "Kenapa Livia?" tanyanya.
Gadis itu tersenyum, "Tidak. Aku hanya merasa Ibu Jasmine hari ini sangat cantik." Ucapannya membuat sekertaris Jimmy itu tersenyum.
"Kau ini bisa saja." Ujarnya membuat Livia tersenyum.
Ya..
Pasti Bu Jasmine mengetahui sesuatu.
Dasar Livia bodoh.. kenapa kau baru menyadarinya sekarang?
-To Be Continue-