
Satu-satunya yang terdiam diantara mereka adalah Robert. Pria itu tahu akan masa lalu kelam Livia dan hari ini dia mengetahui bahwa mereka teman dari kecil bahkan orang tua mereka saling mengenal.
Ajaib..
Selama Robert berteman dan mengenal mereka selama bertahun-tahun. Baru sekarang pria itu mengetahui semua ini.
Ya.
Sebuah fakta yang menyakitkan sekaligus membuatnya terkejut. Robert tahu jelas akan bagaimana masa lalu dari Livia dan Jimmy. Namun, tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya kalau kedua orang itu sudah saling mengenal sejak mereka kecil.
Semua puzzle akan masa lalu Livia dan Jimmy perlahan menjadi satu di pikirannya.
Fakta dimana Livia kecil menyaksikan sendiri kematian orang tuanya.
Lalu, saat paman dan bibinya tidak mengurus Livia dengan baik malah menjadikannya tulang punggung mereka sebagai pengemis.
Tidak lupa, akan bagaimana Livia yang berulang kali dituduh sebagai penyebab orang tuanya meninggal membuat psikisnya dari sudah parah karena anak sekecil itu harus melihat orang tuanya meninggal ditambah lagi selalu dituduh sebagai penyebab kematian orang tuanya.
Sungguh kasihan.
Tanpa disadari Livia dan Jimmy, mata Robert menatap tajam keduanya dan tangannya terkepal.
Dia tidak suka jika mereka bersama.
Dia merasa cemburu akan kedekatan mereka terlebih lagi akan fakta kalau Jimmy-lah yang terlebih dahulu mengenal Livia sebelum dirinya.
Jadi, keluarga Jimmy adalah pembunuh keluarga Livia ?
Suatu hal yang sangat tidak diduganya.
Mata hitamnya memandang ke arah Livia.
Ini tidak mungkin 'kan ?
Dia sangat berharap semoga apa yang menjadi dugaannya itu salah.
Semoga hal itu tidak menjadi kenyataan.
Semoga itu tidak benar.
Walaupun otaknya selalu menampik akan kebenaran itu namun, hatinya mengiyakan. Antara otak dan hatinya saling bertolak belakang.
Apa yang harus dia lakukan ?
Robert tidak akan bisa membayangkan bagaimana reaksi Livia nanti jika hal yang dia takutkan akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
Apakah Livia mampu untuk melewati semua ini ?
Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil.
Saat kecil pun dia harus melihat mama dan papanya meninggal tepat di depan matanya.
Hal yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh seorang anak kecil karena akan menggangu psikologisnya nanti saat dewasa.
Robert sungguh tidak tenang membayangkan hal itu ?
Tapi, juga tidak bisa menghilangkan segala prasangka buruk itu.
Bagaimana jika gadis itu tahu kalau Jimmy adalah dalang dibalik kematian orang tuanya ?
Kalau kau mengetahuinya, aku takut kondisimu akan semakin drop.
Kalau kau mengetahuinya, apa yang akan kau lakukan ?
Livia...
Sampai kapan aku harus menutupi hal ini darimu.
Aku ingin sekali mengatakannya sekarang
Namun, apakah kau bisa menerima kenyataan itu ?
"Ehm. Lebih baik kita pergi makan siang saja." Deheman Robert membuat kedua orang itu berhenti dan terdiam sepanjang perjalanan. "Jadi, kalian sungguh sudah kenal dari kecil ?" Rasa penasarannya pun tak tertahankan.
Livia mengganguk, "Ya. Orang tua kami juga saling mengenal."
Selama dia berteman dengan Jimmy pada masa kuliah dan berpacaran dengan Livia saaat SMA. Pria itu baru mengetahui hal ini.
Kenapa mereka berdua tidak mengatakan hal itu sebelumnya ?
Kenapa mereka merahasiakan hal itu darinya ?
Apa yang sebenarnya mereka pikirkan ?
Pria itu merasa seperti tidak dianggap.
Robert menatap Jimmy melalui kaca spion, "Kau tahu akan apa yang Livia alami sejak kematian orang tuanya ?"
"Jangan bahas masalah itu lagi Robert." Ujar Livia.
Kenapa sih mereka harus membahas hal itu sekarang ?
"Aku hanya tahu sejak kematian kedua orang tuanya, Livia diurus oleh paman bibinya lalu keluargaku pindah ke luar kota. Setelah lulus SMA aku kuliah di luar negeri dan bertemu dengan kau. Aku sudah tak berkomunikasi dengan Livia sejak kejadian itu." Jawab Jimmy menatap Robert yang sedang menyetir.
"Jadi, kau tidak tahu kalau paman dan bibi Livia sudah meninggal ?" Tanya Robert menatapnya tajam.
Aku tahu.
Jimmy membulatkan matanya "Sungguh ?" Yang dijawab dengan anggukan "Aku turut berduka cita. Kenapa kau tidak menghubungiku atau orang tuaku saat itu ?"
Jimmy berpura-pura bertanya padahal dia tahu persis kenapa pria itu dan keluarganya menghilang sejak kematian orang tua Livia juga kakek dan nenek Jimmy.
"Aku tidak mempunyai nomor telepon kalian bahkan ketika aku ke rumah kalian juga sudah kosong." Pria itu kembali berbohong. Alasan sebenarnya kenapa dia dan keluarganya menghilang karena Jimmy kecil menggangap Livia adalah pembunuh kakeknya lalu neneknya pun ikut meninggal karena mengalami kesedihan mendalam saat ditinggal oleh suaminya.
Namun, semua itu bukanlah kesalahan Livia. Jimmy merasa sangat bersalah sekali. Apalah daya dia tidak bisa mengucapkan hal itu secara langsung pada Livia.
Melainkan, dari perbuatan kedua orang tuanya juga teman-teman mereka yang sangat gila akan harta yang dimiliki keluarga Wijaya.
Sama seperti dengan Hanna dan Yeni. Jimmy pun kesal dan marah sekali pada awalnya, namun dia sadar. Seburuk apapun yang mereka lakukan di masa lalu. Mereka tetap orang tuanya yang sudah melahirkan dan mengurusnya dari bayi sampai saat ini.
Livia berbalik menatap Jimmy, "Ada hal yang mau aku tanyakan dari dulu. Apakah pernah om mengatakan sesuatu akan perusahaan ayahku ?"
Jimmy terdiam. Ia tahu suatu saat nanti Livia akan bertanya akan hal itu. Tapi, ia tak mengira akan secepat ini.
Tidak..
Livia tidak boleh tahu akan hal itu.
Jimmy menggeleng pelan, "Tidak." Ujarnya bohong.
"Kau yakin ? Lalu dimana perusahaan papaku berada ?" Tanya Livia mencoba untuk memastikan kembali apa yang baru saja didengarnya.
"Kenapa kau tidak bertanya pada paman dan bibimu saja akan hal itu ?"
Livia memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu, "Aku minta maaf karena aku-lah yang sudah membuat kakekmu meninggal."
Jimmy terdiam.
Ternyata gadis itu tahu akan hal ini.
Ini bukan salahmu, Via...
Kau jangan merasa bersalah seperti itu.
Ku mohon...
Bukan kau yang menyebabkan kakekku meninggal, tapi semua ini perbuatan papa dan teman-temannya itu yang gila akan harta.
Andaikan saja gadis itu bisa mendengar ucapan dari kata hatinya sekarang.
"Yah, hujan." Ujar Robert mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"1 setengah jam lagi aku ada rapat dengan para direksi." Jimmy menatap jam tangannya.
"Siapa suruh kau ikut dengan kami." Kata Livia.
"Aku 'kan sudah bilang dari tadi bahwa aku khawatir dengan calon adikku yang berduaan dengan pria lain walau itu temanku sendiri."
"Kita sudah tiba di restaurant. Ayo turun." Ujar Robert lalu mereka keluar sambil berlari masuk ke sebuah restaurant.
Tempat tersebut sangatlah ramai.
Tentu saja sekarang sudah memasuki jam makan siang. Ada yang tengah ngumpul bersama teman-temannya, ada yang datang bersama isteri juga anaknya, dan ada juga yang datang bersama orang tua mereka.
Memang inilah indahnya Indonesia. Walaupun penuh dengan berbagai macam perbedaan namun, mereka bisa saling bergaul satu sama lainnya walau orang tersebut berbeda dari mereka.
"Apa coba yang perlu kau khawatirkan ? Aku sudah biasa pergi berduaan dengan Robert." Livia merasa risih. Gadis itu tak suka diatur-atur, terlebih orang tersebut bukanlah suaminya.
"Jangan mengajakku berdebat, Livia."
Siapa juga yang mengajaknya berdebat ?
"Aku tidak mengajak kau berdebat. Aku hanya bertanya."
"Kalian mau makan apa ?" Tanya Robert yang berusaha sebisa mungkin agar 2 manusia di depannya tidak bertengkar di tengah keramaian restaurant ini.
"Soto betawi dan teh manis." Jawab Livia pada pelayan restaurant.
"Saya mau nasi goreng spesial dan air putih saja." Ujar Jimmy memberikan menunya dan Livia pada pelayan.
"Dan saya mau kwetiaw siram dan teh manis juga." Ujar Robert sambil memberikan menu pada pelayan yang tengah mengucapkan kembali pesanan yang sudah ditulisnya lalu pergi.
Suasana restaurant tersebut awalnya ramai akan pengunjung yang tengah berbincang, bercanda bahkan ada beberapa anak kecil yang berlarian kesana kemari, tidak lupa ada TV yang menyala di berbagai sudut dengan channel yang sama, seketika suasana yang ramai tersebut kini menjadi hening saat ada sebuah pemberitaan yang mengejutkan mereka.
Reporter : Salah satu perusahaan yang dulu sempat berjaya yaitu Perusahaan Wijaya menghilang tanpa kabar selama berpuluh tahun. Kini menjadi bahan pembicaraan oleh masyarakat hal itu ditemukannya sebuah artikel yang entah dari mana asalnya mengatakan bahwa penerus satu-satunya perusahaan Wijaya ternyata masih hidup. Sebentar lagi dari pihak yang terkait akan pembuatan artikel tersebut akan segera mengadakan press-conference. Untuk membuktikan apakah artikel tersebut adalah Hoax atau tidak, setelah pesan-pesan berikut ini.
Robert dan Jimmy saling memandang lalu mata mereka menuju ke Livia yang sangat terkejut akan pemberitaan tersebut. Ponsel Livia berdering ada telepon masuk dari Yeni. Namun tidak diangkat olehnya. Livia terlalu shock akan pemberitaan yang baru saja ia dengar. "Dari mana mereka tahu akan hal itu." Gumam Livia pelan.
Siapa yang menceritakannya ?
Tidak semua orang tahu akan hal itu ?
Robert memegang tangan Livia, "Tenang saja. Mereka tidak tahu siapa penerus Perusahaan Wijaya sebenarnya. Mereka hanya mengatakan bahwa penerus perusahaan itu masih hidup." Orang-orang di kafe pun membicarakan 1 topik yang sama, yaitu penerus keluarga Wijaya yang sudah hidup.
Pesanan mereka telah tiba. "Bukankah aneh, pemberitaan dulu mengatakan tidak ada keluarga Wijaya yang selamat dari kecelakaan itu. Bagaimana bisa ada orang yang mengaku bahwa dia adalah penerus satu-satunya dari keluarga ? Bahkan selama ini nama dari penerus satu-satunya itu tidak ada seorang pun yang tahu karena Keluarga Wijaya merahasiakannya dari publik." Ujar seorang wanita pada teman-temannya yang duduk tepat disamping meja Livia, Robert dan Jimmy.
"Iya ya ? Kemana saja orang itu selama ini ? Kenapa baru sekarang ia muncul ?" Respon dari teman wanita tersebut.
"Livia. Kau sungguh tidak apa-apa ?" Robert khawatir.
Dia takut trauma Livia akan kembali muncul.
Sudah cukup dia melihatnya begitu sengsara selama ini.
Tapi, dia cukup kuat dalam menghadapi semua ini.
Pria itu sangat bangga padanya.
Robert hanya berdoa di dalam hati.
Semoga semua masalah yang dialami oleh gadis yang paling dicintainya cepat selesai.
Dia juga berharap semoga dirinya dan Livia bisa menjalin hubungan seperti dulu lagi, kalau perlu sampai mereka menikah dan mempunyai banyak anak.
Itulah yang sangat diharapkan oleh semua pasangan kekasih, termasuk dirinya walau kini mereka belum mempunyai status hubungan berpacaran.
Ya.
Semoga saja suatu saat nanti akan terkabul keinginannya.
Membayangkan dia menikahi Livia, Robert berkerja di rumah sakit milik orang tuanya, kemudian mereka tinggal di rumah orang tuanya. Lalu, punya anak-anak yang sangat lucu hingga mereka berdua saling mencintai sampai tua...
Sampai ajal memisahkan mereka.
Ahh...
Sebuah einginan yang sempurna.
Robert yakin pasti Livia akan sangat bahagia jika bersamanya.
Kalaupun suatu hari nanti keluargannya harus jatuh dalam kemiskinan, dia yakin. Livia tidak akan pernah meninggalkannya.
Livia bukanlah gadis penggila harta.
Oleh karena hal itulah, yang membuat Robert sangat tertarik padanya saat mereka pertama kali bertemu di masa SMA.
Livia Wijaya berbeda dari gadis-gadis yang mendekatinya selama ini hanya demi kekayaan yang dimilikinya juga keluarganya.
Baru kali ini, dia bertemu dengan gadis seperti Livia.
Gadis yang membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
Livia Wijaya.
Gadis itu menggeleng pelan, "Tak apa. Ayo makan nanti makanannya keburu dingin."
Ponsel Robert berdering, "Ya. Ada apa ?" Tanyanya.
"Bagaimana keadaan Livia?" Ternyata Yeni lah yang menelepon Robert.
"Livia?" Robert menatap gadis itu, "Dia ada bersama kami."
"Kami ?" Robert melirik sekilas ke arah Jimmy dan Livia yang sudah sibuk dalam ponsel masing-masing.
"Ya. Aku dan Jimmy." Jawabnya.
"Pria itu bersamamu ? Bagaimana bisa ?" Tanya Yeni penasaran.
"Mana aku tahu kenapa Jimmy bisa berada dengan kami. Kau tanyakan sendiri padanya." Jawab Robert dengan ketus.
"Ogah. Bagaimana dengan Livia ? Dari tadi aku telepon tidak diangkat." Tanya Yeni sekali lagi.
"Livia sudah tahu akan hal itu. Ya. Dia sangat shock mendengarnya." Jawab Robert.
"Kau tahu siapa dibalik munculnya pemberitaan itu ?" Tanya Yeni.
"Mana kami tahu siapa yang melakukannya." Jawab Robert sambil melirik ke arah Livia dan Jimmy yang tengah menatapnya bingung.
"Ya sudah. Jaga Livia baik-baik. Nanti aku telepon lagi. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku atau yang lainnya." Ujar Yeni padanya.
"Ya. Baik." Robert menutup teleponnya, "Yeni dia telepon karena khawatir denganmu." Jelasnya pada Livia.
Acara pemberitaan tersebut dimulai, semua orang di restaurant fokus menonton termasuk teman-teman Livia dan orang tua mereka dari tempat yang berbeda-beda. Tampak ada beberapa orang duduk dan bersiap untuk press-con namun kursi tengahnya masih kosong. "Aku penasaran siapa orang yang duduk disana." Ujar Jimmy sambil memakan makanannya. Livia juga tampak ogah untuk menontonnya.
Hanya orang-orang terdekatnya saja yang tahu bahwa dia penerus satu-satunya keluarga Wijaya yang tak pernah diperkenalkan pada publik. Tidak mungkin mereka semua membocorkannya pada media. Ia hanya berharap semoga hal itu hanya Hoax belaka dan orang-orang cepat melupakannya.
Tak lama muncul-lah seorang yang mereka kenal dan membuat mereka terkejut...
Orang yang sangat tidak mereka duga sama sekali.
Dia adalah....
-To Be Continue-