
"Tentu saja itu karena ketampananku. Kau seharusnya bersyukur bisa mendapati kekasih dengan pekerjaan mapan sepertiku. Mungkin sepertinya aku harus menjadi dokter cinta agar bisa menganalisa pelet apa yang kau berikan padaku." Pria itu berjalan menatap wajah Livia, "Bagaimana jika aku mengambil sample pertamaku terlebih dahulu?"
"Sample apa?"
"Ini." Untuk kedua kalinya pria itu menciumnya dan benar-benar pergi meninggalkan Livia yang mengamuk.
"Suka banget deh cari kesempatan dalam kesempitan." gerutunya.
*****
Jimmy hanya terdiam di balkon kamar sambil memandang matahari yang sebentar lagi akan kembali ke tempatnya, dalam beberapa waktu saja akan tergantikan oleh penguasa malam. Terdengar suara ketokan pintu kamar tak mengalihkan pandangannya, "Makan malam sudah siap, ayo turun." ujar sang mama menghampirinya.
Pria itu berbalik menatap wanita yang sudah melahirkan dan mengurusinya selama ini, "Mama tidak perlu sampai menghampiriku begini, nanti aku juga akan turun."
"Mama hanya ingin bertemu denganmu saja." Wanita paruh baya itu memegang wajah putera kesayangannya,"Tak terasa putera mama kini sudah tumbuh besar. Apakah kau tak berniat untuk mencari pendamping yang akan merawatmu sampai tua dan bisa memberikan mama cucu?"
Jimmy menjauhkan tangan mamanya,"Ma, aku sedang tidak ingin membahas hal itu. Ayo kita turun untuk makan."
"Selalu saja menghindar saat mama mengungkit hal ini." ucapnya pelan. Namun, hanya dibalas oleh tawa kecil dari puteranya.
Jujur, Jimmy juga memang memikirkan hal itu. Ia juga menginginkan adanya seorang pendamping yang selalu ada untuknya, mengurusinya juga kedua orang tuanya. Diantara banyaknya wanita yang ditemui, tak ada satupun dapat menarik perhatiannya. Hati dan pikirannya sudah terkunci untuk satu orang.
Seseorang yang sangat mustahil untuk ia dapatkan dan orang tersebut kini sudah memiliki kekasih.
Jika dipikir-pikir hidupnya sungguh menyedihkan, berada di keluarga yang gila harta. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan hanya karena mereka adalah orang tuanya sendiri.
Orang tua yang sudah membesarkan dan membiayai hidupnya sampai saat ini dan uang yang dikeluarkan mungkin saja bisa jadi merupakan bagian dari kekayaan gadis itu.
Bagaimana bisa ia berdampingan dengan gadis yang orang tuanya sakiti?
Mungkin untuk sebagian orang bahwa itu bukanlah masalah dikarenakan ia berbeda dari kedua orang tuanya dan sebagian orang lagi akan mengatakan jika ia tak pantas mendapatkannya.
"Kakak kenapa terdiam? Apakah kakak tidak menyukai masakan mama?" tanya Tasya yang menyadarkan Jimmy dari lamunnanya.
Dengan segera pria itu menggeleng pelan,"Bukan seperti itu. Kakak hanya memikirkan sesuatu."
Kedua orang tuanya saling menatap,"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Bukan apa-apa."
"Kau sedang memikirkan seorang gadis?" tanya mama Jimmy. "Benarkan? Ayolah perkataan mama itu benar. Kau harus segera mencari pasangan untuk menikah dan memberikan papa dan mama seorang cucu."
"Aku 'kan sudah bilang tadi, Ma. Aku sedang tidak ingin membahas masalah pernikahan dulu. Kenapa tidak langsung minta Tasya saja yang menikah dan suruh dia beri keturunan untuk mama." jelas Jimmy.
"Langkahi saja, kakak tidak perduli."
Disaat Tasya ingin membalas, ucapan sang mama menghentikan niatnya,"Sudah-sudah. Kalian ini kenapa sih berantem terus? ini lagi di meja makan jangan bertengkar."
"Kakak itu yang mulai duluan." jawab Tasya.
"Kakak 'kan hanya mengatakan yang sebenarnya." balas Jimmy.
Tasya menatap ke arah mamanya, "Tuh mama liat sendiri 'kan bagaimana kelakuan kakak."
"Jimmy, apakah kau sudah menemukan cara agar kita bisa mendapatkan uang arsuransi dari terbakarnya perusahaan keluarga Wijaya?" tanya om David, yang merupakan papa dari Jimmy.
Jimmy menggeleng, "Belum 'Pa."
"Pokoknya kau harus mendapatkan agar uang arsuransi itu bisa cepat cair, karena papa dan mama tidak mau kalau sampai uang tersebut jatuh ke tangan keluarga Kusuma."
"Tidak bisakah papa berhenti memikirkan soal uang?"
"Tentu saja tidak bisa Jimmy. Uang adalah segalanya, dan segalanya membutuhkan uang. Kita tidak bisa hidup tanpa uang. Pokoknya papa tidak mau tahu, kau harus memikirkan bagaimana agar uang arsuransi itu cair dan jatuh ke tangan kita." tegas om David.
"Tapi 'Pa, tidak semua hal dapat dibeli dengan uang." bantah Jimmy.
"Kau masih berani melawan papa. Kau mau papa cabut semua fasilitas yang sudah kamu dapatkan?"
Jimmy hanya terdiam. Kenapa sih jika orang-orang kaya selalu mengancam anaknya dengan seperti itu?
Terkadang ia berpikir, jika keluarganya dari dulu berada dalam perekonomian rendah. Apakah keadaannya juga bisa akan sama atau malah berbeda?
Ah, sudahlah.
Ia sedang tidak dalam mood untuk bertengkar dengan papanya daripada nanti ia akan dicap sebagai anak yang duharka, "Ya. Nanti akan coba aku pikirkan." jawabnya mengalah.
Durhaka?
Apakah jika kita menentang atau melawan atau bahkan tidak setuju dengan perbuatan orang tua kita yang jahat dapat juga disebut sebagai anak yang durhaka?
"Dan sekali lagi papa ingatkan untuk menjaga jarak dari Livia. Gadis itu sudah tidak ada gunanya lagi bagi kita."
-To Be Continue-