
Tuan Kusuma berbisik padanya, "Bukankah kau yang membakar perusahaan orang tuamu sendiri?" Pria paruh baya itu tersenyum meninggalkan Livia yang tertegun mendengar ucapannya. Mengabaikan para wartawan yang sebagian mengejar Tuan Kusuma, dan sebagiannya lagi meminta komentar dari Livia yang terdiam.
Ia masih tidak dapat mempercayai akan hal yang baru saja didengarnya. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya tidak lupa mengucapkan umpatan -umpatan kasar terucap dalam hati. Bagaimana bisa pria paruh baya itu mengetahuinya?
Ini semua sungguh diluar dugaannya.
Sial..
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
Bagaimana bisa pria tua itu mengetahui semuanya?
"Mau pergi kemana Tuan?" tanya supir Tuan Kusuma saat bosnya masuk dalam mobil.
"Kantor." Hanya satu jawaban itu membuat keheningan terjadi diantara mereka. Pria paruh baya tersebut tersenyum saat mengingat betapa wajah kagetnya Livia saat ia membeberkan hal yang diketahuinya.
Pada saat pertama kali beliau mengetahuinya juga sama terkejutnya seperti gadis itu sekarang. Seharusnya sejak dulu membunuh Livia merupakan pilihan terbaik dan sekarang rasa ingin melenyapkannya semakin menjadi-jadi.
Supir Tuan Kusuma bingung melihat majikannya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Maaf tuan. Apakah ada masalah?"
Tuan Kusuma tersenyum menatapnya melalui kaca spion, "Kau percaya tidak kalau ada seorang anak yang diwariskan harta serta perusahaan tapi bisa-bisanya ia membakar perusahaan milik orang tuanya sendiri?"
"Memang ada yang seperti itu pak?"
"Tentu saja ada."
"Kalau saya di posisinya dia, tidak akan mau membakar perusahaan orang tua sendiri pak. Tapi, kok ada ya orang begitu?" Supir tuan Kusuma menggelengkan kepala, "Saya jadi merasa kasihan pada orang tuanya yang memiliki anak begitu. Disaat semua orang ingin diwariskan banyak harta, ini malah menghancurkannya."
"Entahlah saya juga bingung mengenai jalan berpikir anak itu. Bisa-bisanya dia menghancurkan perusahaan orang tuanya sendiri." Tuan Kusuma terdiam sejenak, lalu tertawa kecil seakan mendapatkan sebuah ide bagus yang membuat supirnya merasa tidak nyaman akan perubahan sikap majikannya itu.
Dengan segera Tuan Kusuma menelepon seseorang, "Halo. Saya ada pekerjaan menarik untukmu."
Jimmy berlari keluar menghampiri Livia, "Kau kenapa?"
Gadis itu tersadar dari lamunannya, "Aku tidak kenapa-kenapa."
Ada satu hal yang tidak diketahui oleh Tiara juga Livia adalah ketika anak buah wanita jahat itu yang menjadi tawanan Tuan Kusuma berhasil kabur bersama dengan seorang temannya beristirahat.
"T..tolong lepaskan kami." ujar salah satu diantara dua orang pengkhianat itu.
Tak lama Tuan Kusuma datang menghampiri mereka, beliau melonggarkan dasinya dengan kasar. Ia memerintahkan para anak buahnya untuk mengikat dua orang pengkhianat tersebut. Seorang dari mereka diseret lalu disiksa secara perlahan dengan menggunakan pisau kecil.
Rintihan kesakitan saat ujung pisau kecil menyayat leher hingga mengeluarkan darah segar. Tuan Kusuma berjalan dan berjongkok menghampiri salah satu pengkhianatnya, "Masih tidak mau mengaku juga? Kau lihat betapa sakitnya temanmu itu. Kalau kau mau kalian terbebas sekarang ceritakan semua hal yang kalian ketahui. Jika tidak, kau akan bernasib sama seperti temanmu itu. Kau tahu waktuku tidak banyak. Aku beri 5 detik untuk menjawab. Satu, dua, ti..."
"Baiklah-baiklah. Aku akan menceritakan segala hal yang aku ketahui."
Tuan Kusuma tersenyum, "Bagus. Sekarang ceritakan semuanya padaku."
Ya.
Dari situlah beliau mengetahui bahwa Livia adalah dalang dibalik semua kebakaran itu.
"Tuan, kita sudah sampai di rumah." ujar sang supir membuat beliau tersadar ke alam dunia nyata. Dengan segera Tuan Kusuma berjalan masuk menemui keluarganya yang sedang kumpul bersama.
"Papa dari mana saja?" tanya sang isteri padanya.
"Ada hal yang harus papa urus."
Yeni berjalan memperlihatkan berita online padanya, "Apa maksud dari berita ini?"
"Kau sudah tahu. Untuk apa bertanya lagi pada papa?"
"Pa, jangan suka menyebarkan fitnah seperti ini."
"Kau menggangapku serendah itu? Astaga, aku tidak menyangka ternyata Livia memberikan pengaruh buruk padamu. Berhentilah berteman dengannya papa tidak suka."
"Kalau papa tidak suka lalu kenapa papa dulu memaksanya menikah dengan Kak Raka?"
"Kau tahu sendiri kalau anak itu pewaris tunggal perusahaan Wijaya. Sekarang perusahaan itu sudah hangus terbakar akibat ulahnya. Sungguh papa merasa kasihan pada kedua orang tuanya yang bisa mempunyai anak seperti itu. Anak macam apa yang menghancurkan perusahaan yang sudah dibangun orang tuanya dengan susah payah."
-To Be Continue-