Our Love

Our Love
Enam



Cerita ini hanya karang fiksi semata.


Awas ! Typo, kata-kata kasar.


Selamat membaca~~~


.


.


.


Seorang gadis berbalut piyama bermotif bunga-bunga tengah mondar-mandir bak setrikaan. Kegalauan yang menggelayuti hatinya membuat ia tidak nyaman untuk sekedar duduk barang sebentar saja. Hampir tiga jam yang dilakukan gadis manis ini hanya seperti ini. Tak jarang ia juga mengacak rambutnya frustasi. Gumaman-gumaman kecil keluar dari mulut mungil gadis ini.


"Haruskah aku pergi?"


Tania menggigiti ujung kuku cantik miliknya.


" Aish ??!!"


" Temui atau tidak ya ?" ujar gadis itu yang di tujukan pada dirinya sendiri.


" Temui saja, Tita" seru Inari yang memang dari tadi memperhatikan gelagat aneh Tania.


"Kau mengejutkanku." kata Tania mengelus dadanya. Inari hanya terkekeh.


" Aku takut Sakhira akan semakin membenciku jika aku menemuinya." Tutur Tania.


" Ck. Sayangku~ berhentilah memikirkan perasaan orang lain dengan mengorbankan perasaanmu sendiri. Aku bisa melihat kalau kau masih – sangat – mencintai Gray brengsek kan."


"Dan lagi si brengsek itu gencar sekali untuk mendekatimu lagi." Tambah Inari.


" Kau salah, Inari. Aku tidak lagi mencintainya." sanggah Tania.


"Kau tidak pandai berbohong." timpal Inari.


"Tidak. Aku sangat tahu perasaanku." Ujar Tania dengan nada lirih.


" Terserah padamu saja. Dan sepertinya Gray sudah menunggumu lebih dari dua jam dari waktu perjanjian." Ujar Inari dengan santai.


" Apa !!! Kenapa tidak mengatakannya dari tadi."


Tania melompat dari pelukan hangat selimutnya. Menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi dengan menutup pintu cukup keras.


"Dasar pelupa."


"Aku mendengarmu, Nona." Koar Tania  dari balik pintu kamar mandi.


"Aku tak peduli."


Inari menghela nafas sejenak. Gadis yang terkenal dengan julukan Barbie itu tersenyum simpul .


"Sebaiknya aku memilihkan baju untuknya atau Tania akan semakin terlambat."


Kurang lebih lima belas menit Tania bersiap. Dan kini ia sudah rapi. Surai kelamnya ia ikat pony tail.


"Inari. Aku pergi dulu." Pamit Tania.


"Hati-hati. Pakai mantelmu dengan benar, Bodoh." Sahut Inari. Tania terkikik lalu membenahi mantel berwarna krem yang melekat ditubuhnya.


"Kabari kami segera jika terjadi sesuatu." Koar Ema.


~~


Gray tidak mempedulikan dinginnya angin malam yang menusuk kulit mulusnya ditambah dengan turunnya salju malam itu . Tidak peduli jika ia akan sakit karena hal ini. Sungguh ia akan melakukan apapun untuk membuat Titanianya – dulu – mau berbicara dan memperbaiki hubungan mereka yang renggang ini. Ia merasa lelah berjauhan dengan Tania.


Tania tak mengatakan secara verbal. Tapi dinding kasat mata ia bangun.


" Kau harus bertahan, Gray." gumam Gray dengan tubuh mengigil kedinginan. Bibir Gray mulai membiru.


" Bodoh !!"


Teriakan seorang gadis dan Gray paham benar dengan suara yang begitu familiar ditelinganya. Suara dari gadis yang ditunggunya. Senyum terukir di wajah pucat pria tampan ini.


" Gray Bodoh !!!" cecar Tania.


Gray hanya menanggapinya dengan seulas senyum simpul di sudut bibirnya.


" Aku yakin kau akan datang makanya aku menunggumu." ujar Gray yang sepertinya sudah hampir membeku.


" Aish...."


Tania ingin sekali memeluk tubuh pria yang pernah menyandang sebutan sebagai mantan kekasihnya ini. Rasa iba dan bersalah menghinggapi hati gadis berpipi chubby ini karena ia lah Gray harus menunggunya berjam-jam. Namun ia tidak bisa kala bayangan Sakhira menghampiri pelupuk matanya.


" Kau mau berbicara apa ?"


Tania memilih untuk to the point.


" Tapi sebaiknya jangan disini." Imbuh Tania dengan gugup.


Gray mengangguk setuju. Toh, ia memang membutuhkan tempat yang bisa membuat tubuhnya yang hampir membeku ini merasa hangat.


" Aku harap mereka bisa kembali seperti dulu. Aku bisa melihat jika ke duanya masih saling mencintai hanya saja keegoisan lebih mereka utamakan." ucap Gio dengan senyum yang mengembang.


" Lalu bagaimana denganmu sendiri ?" Tanya Luffy.


" Aku baik-baik saja. Kurasa cukup melihat Tania bahagia itu sudah cukup. Tania sudah seperti adik bagiku. Aku menyayanginya. Aku tidak mengharapkan Sakhira bisa kembali kepelukanku lebih baik aku mencari gadis lain." Jawab Gio enteng.


Gio tak sepenuhnya jujur. Sedikitnya masih ada celah untuk Sakhira dihatinya.


" Untuk pertama kalinya Aku bangga memiliki sahabat sepertimu ." ujar Luffy menepuk pelan bahu pria Fernandes itu.


Gio salah bila ia menduga Luffy percaya dengan apa yang dikatakannya. Luffy  merupakan orang yang cukup sensitive, meskipun ia lebih sering bertingkah konyol. Sering memergoki Gio diam-diam menatap gadis yang sudah melukai hati bungsu Fernandes dengan tatapan nanar. Luffy hanya tidak ingin memaksa Gio sebelum ia sendiri yang jujur padanya.


" Lalu kapan kau akan membuatku bangga memiliki teman *** sepertimu." celetuk Gio.


" Apa maksudmu ? Aku selalu membanggakan Badboys dengan berbagai...."


Gio beranjak meninggal kan Luffy. Tak berminat mendengarkan pembelaan dari mulut sang August.


" Hei, Giovani ! Jangan kabur kau, brengsek." Teriak Luffy.


Beruntung dua orang yang menjadi target mereka sudah meninggalkan taman itu. Jika tidak, sudah dipastikan acara stalker mereka terbongkar.


"Bodoh !"


.


.


Disinilah sekarang, disebuah kedai sederhana yang menyimpan banyak kenangan antara mereka. Kedai sederhana yang sering menjadi tempat mereka bertemu untuk sekedar melepas rindu. Dan perlu digaris bawahi itu DULU. Gray dan Tania masih bungkam. Belum ada salah satu diantara keduanya yang mau memecah keheningan ini. Ke duanya masih sibuk terhanyut dalam memori-memori indah yang pernah mereka lalui ditempat itu. Tania sibuk memandang jalanan yang sepi tidak sadar pria yang duduk di depannya itu tengah memperhatikannya. Gray merindukan saat seperti ini.


" Tania." panggil Gray membuat Tania mengalihkan tatapan matanye ke arah Gray.


Ke dua pasang bola mata itu saling bertemu sesaat sebelum Tania akhirnya menghindari kontak mata itu. Ia tidak mau kembali jatuh ke dalam pesona pria ini.


"Ya ?" Tanyanya acuh.


" Maafkan aku," ujar Gray tulus.


" Untuk ?" Tanya Tania pura-pura tidak tahu.


" Untuk semua perbuatanku yang menyakitimu. Aku tahu dengan kata maaf tidak akan mengobati luka yang ku toreh tapi ~"


" Kau benar. Kata maaf tidak cukup untuk menebus kesalahanmu." sambar Tania.


" Jadi untuk apa kau mengatakannya, Gray ?" Tanya Tania dengan penekanan pada nama pria tampan itu.


"Aku tahu. Tapi, ijinkan aku untuk memperbaiki kesalahanku." Pinta Gray.


" Apa jika aku memberimu kesempatan kau bisa menjamin bisa mengobati rasa kecewa ini ? rasa sakit pengkhianatanmu ? dan rasa tersiksa harus bertikai dengan sahabat sendiri ?" Cecar Tania dengan air muka yang mulai berubah, menahan butiran bening jatuh dari pelupuk matanya.


" Aku tidak bisa menjamin. Yang bisa kulakukan hanya mencoba yang ku bisa. Tania, percayalah kesungguhanku ini, aku ingin kita mulai dari awal lagi. Kumohon." pinta Gray.


Seorang Gray Alphanius yang tak mengenal kata maaf dan memohon. Mengabaikan gengsinya yang begitu tinggi. Biarlah ia merendahkan diri demi gadis kesayangannya.


" Maaf. Untuk sekarang aku tidak bisa. Aku tidak mau terluka lagi. Kau juga masih memiliki harus menyelesaikan masalahmu dengan Sakhira. Hargai perasaannya, Gray. "


Jawaban dari Tania membuat Gray kecewa namun ia juga tidak bisa mengelak, toh, mana ada perempuan di dunia ini yang mau di sakiti untuk ke dua kalinya.


" Sepertinya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Aku harus pergi." pamit Tania beranjak pergi.


Gray tersenyum miris. Menatap kepergian Tania , ia sadar jika gadis polos itu bukan lagi sosok Tania yang hanya pasrah dan lemah . Tania yang dicintainya sudah berubah menjadi sosok perempuan yang tegar.


" Aku akan tetap meluluhkan hatimu lagi, Tania. Aku tahu kau masih memiliki perasaan itu." lirih Gray..


.


.


Hari ini keberangkatan Gray cs dan Tania cs menuju lokasi syuting iklan yang mereka bintangi bersama.


" Ah, aku mau makan makanan khas sana lagi." Celetuk Ray.


" Aku juga mau makan yang banyak." timpal Luffy sembari membayangkan tumpukan makanan ada di depan matanya.


" Aish, dipikiran kalian hanya makan saja. Cepat kita ke sana, sebentar lagi pesawat akan take off." seru Gio.


" Dimana Gray ?." tanya Ray mendapati salah satu anggotanya hipang.


" Dia tadi bersama Tania." jawab Gio.


Ray hanya bergumam lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kau tenang saja. Jika si brengsek itu kembali menyakiti gadis kesayangan kita, Aku dengan senang hati membantumu menghajarnya." Ujar Gio.


"Hn."


Bersambung.