
Di dalam ruangan, Jimmy mempersilahkan Tiara duduk. "Apa yang ingin kau bicarakan ?"
"Bantu aku singkirkan teman Livia dan Yeni yang bernama Nia itu."
"Kenapa aku harus menyingkirkan dia ?"
"Dia sebentar lagi akan menjadi kekasih Raka dan aku tak suka. Sebagai gantinya kau boleh meminta apapun dariku."
"Bagaimana jika aku ingin kau menghancurkan hubungan Livia dan Robert ?"
"Kau gila ? Aku tengah mendekati Raka bagaimana bisa kau menyuruhku untuk mendekati pria lain ?"
"Jika kau tak mau ya tak apa. Aku juga tidak bisa membantumu menyingkirkan gadis bernama Nia itu."
"Jimmy ayolah, tidak ada orang yang aku kenal lebih berkuasa dari pada kau."
"Mau terima bantu aku hancurkan hubungan Livia dan Robert atau tidak ?"
"Beri aku alasan kenapa aku harus menghancurkan hubungan mereka ? Kau cemburu ?"
"Kau tidak perlu tahu alasannya. Iya atau tidak ? Jangan membuang waktuku."
"Ya." Jawab Tiara pasrah.
Di lain tempat, Nia masuk ke ruangan Yeni untuk meminta tanda tangan dokumen. "Bisa aku minta penjelasan kenapa harus aku yang sekarang jadi sasaran amukkan Tiara ?"
"Aku tak suka dia mendekati kakakku, Nia."
"Kan kau bisa cari wanita lain untuk diaku-akui sebagai pacar kakakmu."
"Tidak. Lagi pula bukankah kau harusnya senang karena kau menyukainya juga kan ?" Seketika wajah Nia memerah membuat Yeni tertawa, "Ya sudah aku membantumu sekaligus memberikan restu pada kalian."
"Kakakmu tahu soal ini ?"
"Tentu saja dan dia setuju."
"Sampai kapan aku harus berakting terus seperti ini?"
"Sampai wanita itu bosan dan mencari mangsa baru."
Hanna dan Ai chan masuk ke ruangan Yeni, "Yen..ini barang yang kau minta. Oh, ada Nia juga."
"Tidak bisakah kalian mengetok pintu terlebih dahulu ?"
"Hehe.. maaf Yen. Kebiasaan." Hanna memberikan sebuah kalung berbentuk ukuran nama 'Niani' ke Yeni. "Ini kalung yang sudah aku dan Ai Chan pasangin pelacak dan rekaman suara di dalamnya."
Yeni tersenyum, "Sudah kalian uji coba kan ?"
"Sudah."
Yeni memberikan kalung itu ke Nia, "Pakai kalung ini."
"Untuk apa ?"
"Kau menjadi pacar pura-pura kakakku sekarang. Tentu jika 1 Indonesia mengetahuinya pasti ada yang berniat menjahatimu. Jangan dilepaskan. Kalau kau kenapa-kenapa kita bisa tahu dari kalung yang kau pakai itu."
"Astaga Yeni. Tak perlu sampai segitunya."
"Pakai saja. Ini perintah atau aku potong gajimu. Tidak ada yang tahu juga kau pakai kalung karena selalu tertutup dengan bajumu. Kalaupun ada yang tahu kau pakai kalung ya cuma ukuran nama doank tidak ada yang curiga."
Nia cemberut dan memakai kalung itu, "Kalau ada maunya saja selalu ngancam potong gaji."
Tok.. tok.. tok..
"Permisi Nona. Ini data yang anda minta mengenai orang yang suruh saya cari." Bodyguard Yeni masuk ke dalam.
"Kau cari data siapa ?" Tanya Ai chan.
"Tiara." Yeni membuka data itu dan membacanya, "Berumur 28 tahun. Anak tunggal dari perusahaan X yang berada di peringkat 20 dari 20 besar perusahaan terkaya di Indonesia. Lulusan dari salah satu Universitas ternama di Indonesia. Setiap hari hobinya ke club malam, dan menghambur-hamburkan uang." Yeni terdiam membaca data itu hingga selesai dan melemparkannya ke meja.
"Astaga tidak ada satupun prestasi yang bisa dibanggakan dari wanita itu." Yeni menatap bodyguardnya "Yang satu lagi belum ada perkembangan info lagi ?
"Belum ada."
"Kau cari data siapa lagi, Yen ?" Tanya Nia.
"Jimmy Alexander Kurniawan. Awalnya aku penasaran akan seperti apa atasan Livia itu hingga aku menemukan ada hal yang aneh. Sapphire Blue bukanlah nama resmi dari perusahaan itu 12 tahun yang lalu mereka mengganti namanya dan nama sebelum yang ini aku tidak tahu apa."
"Kenapa kau mau repot mencari tahu akan nama sebelumnya dari perusahaan itu ?" Ai Chan duduk di sofa ruangan Yeni.
"Hanya merasa ada yang janggal, kalau memang mereka mengganti nama tidak ada satu pun pers yang mengetahuinya. Di website pun tertulis perusahaan ini berdiri 10 tahun yang lalu. Sementara, pada saat aku pertama kali cek di website tersebut jelas-jelas tertulis 12 tahun berdirinya perusahaan itu. Coba kau cari apakah ada karyawan yang sudah berkerja lama di perusahaan itu."
"Baik Nona. Saya permisi."
Kembali lagi ke Sapphire Blue Corp. Livia tak memperdulikan akan Tiara yang sangat lama di ruangan Jimmy. Yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya mendapatkan informasi yang ia cari. Di ruangan Jimmy sama sekali tidak ada. "Oh iya, Bu Jasmine. Apakah di kantor ini punya perpustakaan atau tempat penyimpanan dokumen gitu ? Soalnya untuk laporan OJT mengenai data perusahaan tempat kita berkerja."
"Untuk perpustakaan setahu saya tidak ada. Tempat penyimpanan dokumen ada di ruangan belakang meja resepsionis tapi itu dijaga ketat sekali. Tak semua orang bisa masuk harus dengan ijin Pak Jimmy, dan mengenai data perusahaan kau bisa ambil di website resmi kami."
"Makasih Bu Jasmine." Dengan segera Livia membuka alamat website tersebut dari ponselnya. Matanya terpaku pada kalimat yang menunjukkan perusahaan ini sudah berdiri 10 tahun yang lalu.
"Maaf Bu, bukankah ibu berkerja disini selama 12 tahun sedangkan Pak Rahmad direktur Humas berkerja disini selama 15 tahun. Tapi, kenapa di website tertulis perusahaan ini berdiri 10 tahun yang lalu ?"
Bu Jasmine tampak panik, "Mungkin ada kesalahan mengetik tahun berdirinya saja. Dari mana kau tahu kalau Bapak Rahmad berkerja disini selama 15 tahun ?"
"Dari seorang karyawan disini." Mereka terdiam. Livia semakin yakin memang ada sesuatu yang aneh di perusahaan ini tapi, ia tak bisa menemukan buktinya apakah terkait dengan informasi yang dia cari atau tidak.
Tak lama Jimmy dan Tiara keluar dari ruangan, "Bu Jasmine ayo kita pergi meeting dengan client. Dan kau Livia, kau disini saja kerjakan laporan OJT mu atau kau bisa pulang lebih awal hari ini. Sekarang kau ambil dulu tasmu di dalam. Saya tidak tahu kapan akan kembali ke kantor." Dengan segera Livia masuk ambil tasnya kemudian keluar. Jimmy mengunci ruangan itu dan pergi bersama Bu Jasmine dan Tiara.
Begitu menunggu cukup lama sekitar 10 menit, Livia langsung turun ke lift menuju ruangan Direktur Humas, Pak Rahmad. Namun, begitu tiba di lantai khusus semua direktur berada. Gadis itu sedikit menciut nyalinya.
Bagaimana mungkin aku tiba-tiba bertanya akan perusahaan ini padanya yang tentu saja ia akan sangat curiga.
"Oh Livia, kenapa kau berada disini ?"
Livia terkejut berbalik seseorang yang baru saja keluar dari lift, "Selamat siang bapak Rahmad. Iya, saya sudah diijinkan pulang cepat hari ini. Karena saya tak pernah berkeliling perusahaan ini jadi, saya penasaran di setiap lantai ada devisi apa aja."
Pak Rahmad ber-oh ria, "Disini ruangan semua direktur dari berbagai devisi."
"Gitu ya.. hehe.. kalau begitu saya permisi kau ke lantai lain saja."
"Kau tak mau mampir dulu ke ruangan saya ?"
Mau sekali... tapi, pasti aneh seorang staff tiba-tiba berada di ruangan direktur 😑
"Maaf pak, tidak usah nanti saya takut akan ada muncul rumor aneh-aneh lagi."
"Baiklah kalau begitu."
Livia menekan tombol lift tak lama liftnya terbuka, "Kalau begitu saya permisi dulu Pak." Gadis itu sedikit membungkuk dan masuk dalam lift.
"Saya tak menyangka kau menjadi gadis sebesar ini. Orang tuamu pasti bangga." Ucap Pak Rahmad pada Livia seiring pintu lift menutup. Gadis itu terdiam memikirkan maksud dari kalimat Pak Rahmad.
Sial...
Pria tua itu memang mengetahui sesuatu.
Begitu tiba di Lobby, Livia segera menutup lift dan kembali ke lantai yang berada tepat dibawah lantai ruangan CEO.
"Ada yang bisa saya bantu ?" Seorang wanita berdiri menatap Livia yang baru saja tiba di depan pintu ruangan Pak Rahmad.
"Pak Rahmadnya ada ?"
"Baru saja beliau keluar untuk menemui seseorang."
"Oke. Makasih." Livia berlalu dan menekan lift ke lantai bawah. Pak Rahmad sepertinya merupakan kunci atas informasi dan pertanyaan yang Livia ingin ketahui. Namun, pria paruh baya itu sudah pergi entah kemana.
Semoga besok ia bisa menemui beliau.
Ponsel Livia berdering begitu ia tiba di Lobby, "Ya. Ada apa?"
"Kau sibuk ?"
"Tidak. Aku diijinkan pulang lebih awal."
"Oh ya ?"
"Iya Dokter Robert. Aku mau ke kost-an dulu ganti baju lalu ke perpus mau kerjain laporan OJT."
"Maaf, aku tak bisa mengantarmu karena sibuk."
"Iya tak apa."
"Hati-hati."
"hmmh." Livia mematikan ponselnya, ia memesan ojek online untuk mengantarkannya ke sebuah pemakaman umum, setelah dari pemakaman umum ia baru ke kost-an kemudian ke kampus.
Di lain tempat, Jimmy baru saja selesai meeting dengan client-nya di sebuah kafe yang terletak di sebrang kantornya. "Livia, tidak mengatakan sesuatu yang aneh saat saya dan Tiara berada di ruangan ?"
"Beliau hanya heran saja dengan apa yang tertulis di website dengan kenyataannya berbeda. Gadis itu tahu jika Pak Rahmad berkerja di perusahaan bapak selama 15 tahun, sedangkan saya baru 12 tahun. Akan tetapi, di website tertulis 10 tahun perusahaan ini berdiri."
"Kenapa dia mencari sampai segitunya ?"
"Untuk bahan laporan OJT nya dia pak. Ya, saya menjawab mungkin saja ada kesalahan pengetikan tahunnya. Gadis itu terlihat mempercayainya."
Esok paginya...
Livia datang lebih awal. Hari ini ia harus bertemu dengan Pak Rahmad untuk bertanya mengenai perkataannya kemarin saat pintu lift akan menutup.
"Eh, memang benar ya kalau Pak Rahmad sudah tidak berkerja lagi disini ?" Livia terkejut mendengar ucapan dari salah seorang karyawan kantor entah dari devisi mana.
"Iya. Aku dengar karena dia mau pensiun gitu." Jawab temannya yang lain.
*Kenapa bisa tiba-tiba seperti ini ?
Padahal sedikit lagi aku akan mendapatkan informasi yang aku cari selama ini.*
-To Be Continue-