Our Love

Our Love
Part 69



Setibanya Livia di kost-an, gadis itu langsung mengunci pintu dan membuka semua berkas-berkas yang baru saja dia temukan. Betapa mengejutkannya adalah saat mengetahui isi dari berkas tersebut adalah ada banyak dokumen-dokumen berisi pergantian nama dari Perusahaan papanya ke perusahaan Jimmy. "i...ini tidak mungkin." Livia terduduk lemas menatap dokumen yang tergeltak diatas lantai. "Ja..jadi selama ini, Sapphire Blue Corp adalah... perusahaan papa ? tapi, kenapa ? Kenapa mereka menyembunyikannya selama ini ?"


Tidak mungkin..


Ini sangat tidak mungkin..


Bagaimana bisa ?


Sungguh sulit untuk dipercaya.


Tapi, memang itulah kenyataannya.


Seketika Livia teringat akan perkataan Tiara yang menyuruhnya untuk tidak mempercayai akan perkataan orang-orang terdekatnya. "Aku harus menemuinya sekarang." Livia menelepon Tiara, "Kau ada dimana ? Ada yang ingin aku bicarakan." Tiara menyebutkan alamatnya. Dengan segera Livia mengambil berkas itu ke tempat fotocopy, begitu selesai ia mampir ke Bank untuk menyimpan semua dokumen-dokumen tersebut ke tempat yang aman. Pihak Bank tidak akan mungkin membiarkan seorangpun bisa mengambilnya kecuali Livia sendiri. Begitu selesai, ia langsung pergi ke apartement Tiara.


"Tumben sekali kau mencariku ? Ada apa ?" Tanya Tiara yang tampak terkejut melihat gadis it, namun tetap mempersilahkan Livia masuk ke Apartemennya.


Bagaimana pun dia adalah tamu.


"Aku mau tahu apa saja yang kau ketahui selama ini." Ujar Livia langsung to the point.


"Tumben sekali. Aku kira kau tidak akan mempercayai apa yang aku katakan." Ujar Tiara dengan tenang.


"Jelaskan apa-apa saja yang kau ketahui dan apa alasannya kau menjadi baik padaku sekarang ?" Tanya Livia yang menatap tajam ke arahnya.


"Kau tak perlu tahu akan apa yang aku lakukan. Ingatlah, kau tidak boleh terlalu mempercayai teman-temanmu terlebih lagi Jimmy." Jelas Tiara.


Livia tertawa kecil sambil mengatakan, "Kau memintaku untuk tidak mempercayai mereka tapi, kau juga tak memberikanku penjelasan atau bukti. Lalu, siapa yang harus aku percayai ? kau ?"


Belum sempat Tiara menjawab, ponsel Livia berdering, "Ya ?" Ujarnya.


'Kau ada dimana ?' Tanya Jimmy.


"Aku lagi ada urusan, kenapa ?" Tanyanya balik.


"Aku ada di rumah. Bisa datang kemari ?" Pinta Jimmy dengan lembut.


"Nanti aku akan mampir." Kata Livia.


"Aku mau kau datang sekarang. Aku mohon." Pinta Jimmy dengan nada memohon.


Tumben sekali...


Tidak biasanya pria itu memohon padanya.


Livia mendesah pelan dan berkata, "Ya." Gadis itu menutup teleponnya kemudian berkata, "Maaf, aku harus pergi ada urusan mendadak." Ujarnya. Gadis itu membungkuk dan berjalan ke arah pintu.


Livia terdiam sejenak lalu pergi. Tak butuh waktu lama, ia tiba di apartemen Jimmy. Sebenarnya Livia begitu enggan untuk ke rumah ini mengingat ia mengetahui bahwa merekalah yang mengambil-alih perusahaan papanya tanpa sepengetahuannya. 1 hal yang tidak ia ketahui kalau masih ada 1 dokumen lagi yang tersimpan di rumah itu mengenai pembagian hasil dari perusahaan Wijaya kepada semua orang kepercayaannya sampai sekarang, selain Pak Rahmad (Ayah Tiara)


"Non sudah tiba. Mari bibi antar ke kamarnya den Jimmy." Ujar seorang asisten rumah tangga yang sudah lama berkerja di sana. Begitu Livia tiba di depan kamar Jimmy, asisten rumah tangga itu pun pergi untuk menyiapkan minuman untuk Livia.


Livia mengetok pintu lalu masuk, terlihat ruangan itu begitu gelap satu-satunya cahaya masuk berasal dari jendela kamar tempat dimana Jimmy terduduk dilantai dikelilingi beberapa kaleng minuman beralkohol. "Kau sudah tiba ? kemarilah."


Livia berjalan lalu terduduk di lantai, "Kenapa kau jadi seperti ini ?"


"Papa (Pak David) masuk penjara. Saham di kantor pun mulai menurun. Aku hanya lelah jadi aku pulang terlebih dahulu sementara mama dan Tasya (adik Jimmy) sibuk mengurusi perusahaan."


Livia membereskan kaleng-kaleng kosong yang berserakan itu dan berkata, "Kau seharusnya membantu mereka bukannya minum-minuman seperti ini."


Tidak pernah Livia melihat Jimmy seperti ini sebelumnya.


"Aku hanya butuh refreshing sebentar." Pinta Jimmy.


Tak lama asisten rumah tangga datang membawakan minuman untuk Livia dan tuan mudanya. Livia memberikan kaleng-kaleng kosong beralkohol itu pada asisten rumah tangga Jimmy untuk dibuang. Setelah memastikan asisten rumah tangga itu pergi, mereka kembali melanjutkan pembicaraan. "Refreshing malah lari ke minuman beralkohol. Bukannya ikut membantu mama dan adikmu mengurusi perusahaan." Kata Livia.


'Perusahaan itu milikmu, kenapa harus aku mengurusinya ? Kenapa tidak kau saja ?' Ujar Jimmy dalam hati, seketika ia tersenyum perih, 'Aku lupa kalau keluargaku-lah yang sudah mengambil alih perusahaanmu.'


Livia melirik aneh dan berkata, "Kenapa kau tersenyum sendiri tak jelas begitu ?"


Pria aneh..


Sangat aneh...


Disaat papanya tengah mendapatkan musibah dia malah bisa tertawa begitu


Ajaib memang.


Apa karena saking stress dan depresinya sehingga merubahnya begitu ?


Bisa jadi.


Tapi...


Sungguh mengerikan.


Jimmy berbalik memandang halaman belakang dari jendela kamarnya kemudian mengatakan, "Hanya berpikir apakah keluargaku kini mendapatkan karmanya atas perbuatan jahat kami pada orang lain di masa lalu."


-To Be Continue-