Our Love

Our Love
Part 70



Livia melirik aneh dan berkata, "Kenapa kau tersenyum sendiri tak jelas begitu ?"


Pria aneh..


Sangat aneh...


Disaat papanya tengah mendapatkan musibah dia malah bisa tertawa begitu


Ajaib memang.


Apa karena saking stress dan depresinya sehingga merubahnya begitu ?


Bisa jadi.


Tapi...


Sungguh mengerikan.


Jimmy berbalik memandang halaman belakang dari jendela kamarnya, "Hanya berpikir apakah keluargaku kini mendapatkan karmanya atas perbuatan jahat kami pada orang lain di masa lalu."


"Mungkin." Gumam gadis itu pelan. Gadis itu sudah tak mau ambil pusing akan apa yang menimpa Jimmy dan keluarganya. Sudah cukup buatnya mengetahui hal yang selama ini mereka sembunyikan darinya. Via tak habis pikir bagaimana bisa mereka bersikap tenang-tenang saja selama ini dan begitu tega akan apa yang mereka lakukan 12 tahun yang lalu.  "Memangnya kalian pernah berbuat jahat pada seseorang di masa lalu ?"


Jimmy terdiam memandang gadis yang berada di depannya.


Kau lah yang kami hancurkan.


Orang tuaku-lah yang membunuh orang tuamu. 


Jika, kau mengetahuinya.. Apa kau akan membenci kami ?


Pria itu tersenyum sedih. Sudah pasti Livia akan sangat membencinya saat tahu akan semua kebenaran ini. "Tidak ada. Aku hanya berandai-andai saja."


Bohong.


Kau berbohong.


Livia sudah mengetahui kalau keluarga dari teman masa kecilnya ini dalang dibalik orang tuanya meninggal. Mereka hanya ingin mengincar hartanya saja.


Livia masih tak mempercayai akan apa yang ia ketahui.


Semua itu demi kekayaan.


Hingga tega membuat seorang gadis kecil kehilangan orang tuanya.


Gadis itu adalah dirinya..


Livia Wijaya.


"Aku tahu mungkin ini memang bukan waktu yang tepat namun, aku juga perlu kejelasan. Bagaimana dengan kita yang mau dinikahkan ?" Tanyanya pelan.


Biarkan saja jika dirinya dikira orang yang kurang sopan, disaat orang lain tengah berduka karena mengalami musibah. Kau malah bertanya hal lain. "Kau tahu papaku baru saja dipenjara dan sekarang kau bertanya megenai hal itu ?"


Aku juga harus mengambil alih perusahaan orang tuaku dari kalian. 


Jimmy mengacak rambutnya lalu memegang bahunya, "Astaga Livia, tidakkah kau merasa sedih atau kasihan akan apa yang menimpa papaku ?"


Livia terdiam berbalik memandang tajam ke arah Jimmy.


Memangnya kalian juga pernah merasa kasihan padaku karena sudah kehilangan orang tua sejak kecil lalu perusahaan keluargaku juga kalian rampas ?


Kenapa aku harus merasa kasihan pada kalian sementara kalian tidak pernah merasa kasihan atas apa yang aku alami selama ini ?


Pernahkah kalian mencariku saat aku kecil ?


Pernahkah kalian membantuku saat aku sedang mengalami masa kesusahan dan kesedihan ?


Kenapa harus aku yang merasa sedih dan iba pada keluarga kalian ?


Ini sungguh tidak adil.


Sekarang kalian mendapatkan karmanya.


Oh Tuhan, apakah aku berdosa karena aku bahagia diatas penderitaan mereka ?


Gadis itu melepaskan tangan Jimmy dari bahunya, "Ayolah aku mengalami hal yang jauh lebih buruk dari yang kau alami sekarang." ucapannya membuat Jimmy terdiam memandang ke arah jendela.


Benar...


Gadis yang disampingnya sekarang mengalami hal yang lebih buruk.


Dia sendiri...


Tidak sepertinya yang seperti orang gila hanya karena papanya di penjara atas apa yang tak pernah dia perbuat.


"Kau mau berdiam diri sekarang ? tidak mau cari jalan keluar untuk menyelamatkan papamu ?" Saran Livia padanya.


Jimmy tertidur di pahanya, "Biarkan sejenak saja. Aku lelah."


"Kasihan.." Livia membelai rambutnya. "Pada saat kecil kau sangat tangguh dan pemberani. Kenapa sekarang jadi begini ? Kau bukan seperti Jimmy yang aku kenal saat kecil."


"Jimmy yang kecil dan sekarang sudah berbeda. Jangan pernah kau samakan lagi."


"Oh ya ? Buatku mereka tetap orang yang sama."


Jimmy tersenyum, "Lalu, kau mau aku kembali jadi Jimmy kecil yang pemberani dan tangguh ?"


Livia mengganguk pelan, "Kalau bisa kenapa tidak ? Lagipula, kau tak pernah seperti ini juga. Setelah ini kau cari pengacara untuk membantu papamu keluar dari penjara dan kau juga harus mencari tahu siapa yang sudah menjebak papamu."


Jimmu tersenyum, "Terima kasih. Aku sangat senang kau berada disini menemaniku."


~To Be Continue~