Our Love

Our Love
Part 81



Mana ada gadis yang mau menikah dengan pria yang merupakan anak dari pembunuh orang tuanya sendiri.


Tidak ada gadis itu di muka bumi ini.


Haruskah Jimmy merelakan Livia untuk selamanya ?


Meski terlambat, pria itu menyadari bahwa dia mulai..


Ah tidak..


Mencintai gadis itu..


Entah sejak kapan..


******


Pagi menjelang, semua orang baru bangun menuju meja makan yang sudah tersedia banyak sekali makanan. Hanna menguap mengucapkan, "Pagi semua." Lalu duduk dibangku yang kosong.


"Tumben siang banget." Ujar Nia padanya.


"Iya nih. Semalaman sibuk kerjain laporan OJT (On The Job Training) agar aku bisa cepat ikiut sidang hari selasa nanti bareng Livia." Jelas Hanna mengambil roti dan mengolesinya dengan selai.


"Oh iya, sebentar lagi kau juga tidak akan berkerja lagi di perusahaan Jimmy 'kan ?" Tanya Robert yang memberikan susu pada Livia.


"Terima kasih. Iya. Sekitar seminggu atau dua minggu lagi akan selesai masa magangku. Bagaimana dengan acara perusahaan jika.. Om David masih di penjara ?" Tanya Livia hati-hati.


Jimmy memakan nasi goreng miliknya lalu mengelap mulutnya dengan tissu, "Tak masalah. Acara itu sudah lama dipersiapkan dan memang harus berjalan dengan atau tanpa papa. Kau tenang saja. Aku sudah memberitahu papa mengenai hubunganmu dengan Robert. Jadi, sepertinya kau memang akan diangkat menjadi anak keluarga kami. Bagaimana menurutmu ?" Tanyanya pada Livia yang terdiam sejenak.


Memang gadis itu mengetahui kalau orang tua Jimmy lah yang merubah nama perusahaan papanya dengan alasan ingin menguasai hartanya.


Tapi...


Ada sesuatu  hal yang menganjal disini.


Kenapa mereka ingin sekali mengangkat Livia menjadi anak mereka bahkan sebelumnya berniat menjodohkan dirinya dengan Jimmy ?


Apa lagi yang keluarga itu rencanakan ?


Ingin sekali Livia bertanya hal itu pada Jimmy. Namun, rasanya tidak mungkin mengingat ada teman-teman Livia disini. Mereka tidak boleh mengetahui hal itu.


"Akan aku pikirkan." Jawab Livia.


"Kalau kau ?" Tanya Jimmy pada Yeni,


"Aku ? Tentu saja Kak Raka dan papa yang akan menghandle urusan perusahaan. Kami semua tidak akan berkerja dulu untuk sementara karena mau fokus akan sidang OJT (On The Job Training) dan laporan skirpsi kami." Jawab Yeni dengan judes.


"Setelah ini, aku mau ajak Livia pergi berduaan saja. Mungkin sore baru balik lagi." Ujar Robert pada mereka.


"Iya deh yang baru jadian mau berduaan mulu." Goda Narul membuat pipi Livia memerah.


"Lihat tuh pipi Livia jadi merah, kalian ini suka sekali menggodanya." Ujar Robert yang mencubit pipi Livia.


"Jangan cubit. Saki tahu." Ucap Livia memukul lengan Robert membuat teman-temannya merasa senang dan ikut bahagia. "Tiara mana ? bukankah kemarin dia berada disini ?" Tanya Livia pada semua orang yang berada disana.


"Entahlah, dia bagaikan makhluk halus. Datang dan pergi sesuka hatinya. Sudah jangan pikirkan wanita itu." Ujar Yeni.  "Habis ini shopping yuk. Pada mau ga  ?" Tanya Yeni.


"Mau.." Jawab Nia.


"Mau banget, kita kemana ?" Tanya Narul.


"Hei.. aku bagaimana ? masa iya aku sendirian disini ? Padahal aku yang ajak kalian liburan malah berakhir sendirian." Gerutu Jimmy.


"Ya sudah kau ikut saja kami berbelanja susah amat." Jawab Narul.


"Baiklah. Aku ikut temani kalian saja dari pada di villa ini." Ujar Jimmy yang pasrah.


~To Be Continue~