
Tidak.. ini tidak mungkin. Kau jangan bercanda dengan Papa!!" teriak Om David tak perduli semua orang di ruangan itu memandangnya. "K..kau sudah menemukan siapa pelakunya?"
Tidak.
Uangnya yang berpuluh-puluh miliaran telah lenyap..
Perusahaan yang sudah susah payah ia bangun dan kini hilang begitu saja.
Jimmy menggelengkan kepala, "Polisi belum menemukan siapa pelakunya."
Pak David mengacak rambutnya dengan kasar, "Kita rugi besar Jimmy. Kau sudah meminta bantuan pada Keluarga Kusuma?"
"Sudah tapi, mereka tidak mau memberikan pinjaman uang dengan alasan semua saham yang mereka tanam di perusahaan kita mengalami kerugian besar akibat kejadian ini."
Pak David memukul meja, "Mereka itu benar-benar...Lalu, bagaimana dengan uang arsuransi-nya?"
"Setelah ini aku akan kesana, tapi itu juga tidak akan bisa menutupi semua kerugian kita. Tabunganku sudah habis untuk membayar semua gaji karyawan."
"Apa kau berpikir kalau yang mengebom itu adalah Tiara?"
"Aku memang menduganya tapi, kita tak punya bukti."
"Kau tak memeriksa CCTV?"
"Sudah dan aku tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan."
Om David memandang ke arah puteranya, "Bagaimana dengan Livia?"
"Maksud papa?"
******
Livia baru saja tiba di sebuah kafe tempatnya bertemu dengan pengacara keluarganya, tidak lupa Robert ikut menemaninya. Beruntunglah pengacara itu mau menemuinya sebelum Jimmy mendahului.
"Tidak terasa 12 tahun berlalu. Saya tak menyangka kalau kau masih hidup sampai sekarang." ujar pengacara paruh baya yang tengah duduk berhadapan dengannya.
"Aku juga tidak menyangka bisa bertemu dengan anda hari ini."
Pria paruh baya itu tertawa, "Kalau saja bukan karena pemberitaan heboh kemarin, saya akan mengira semua itu hanyalah rekayasa belaka. Walaupun saya sudah pensiun namun, jika harus mengurus segala keperluan perusahaan keluarga anda, tentulah tidak masalah. Jadi, kenapa ada keperluan apa anda datang kesini?"
"Pa, Bapak Jimmy datang berkunjung untuk menemuimu. Sekarang dia berada di lantai bawah." Puteranya masuk ke ruangan kerja, "Papa, kenapa terdiam?" Sang putera memandang dokumen-dokumen yang berserakan diatas meja, beberapa menit membacanya ia pun sama terkejutnya dengan sang papa, "I..ini.." Ucapannya terhenti saat Papanya berdiri dan berkata, "Kita bahas ini nanti. Jangan menceritakan akan apapun yang kau baca padanya. Mengerti?"
"Iya 'Pa." Ia keluar dari ruangan kerja papanya.
******
"Untuk apa kalian datang kemari?" Om David terdiam memandang kedua temannya yang datang mengunjunginya.
"Kami datang untuk meminta ganti rugi atas saham yang ada di perusahaanmu itu." jawab Papa Yeni.
"Daripada kalian meminta ganti rugi, apakah tidak ada rasa penasaran akan siapa pelakunya?" tanyanya balik.
Papa Hanna melipat kedua tangannya di dada sembari menyenderkan badan ke kursi, "Kami memang penasaran akan hal itu. Akan tetapi, kerugian yang didapatkan begitu besar akibat kejadian tersebut. Kau harus mengganti rugi atas semua ini."
"Tidak bisakah kalian mengerti sedikit? aku paling mengalami kerugian terbesar akibat kejadian ini."
Papa Yeni menatapnya tajam padanya, "Orangku sudah menemukan beberapa tamu yang waktu itu hadir terlihat cukup mencurigakan."
"B..bagaimana bisa kau menemukannya sementara CCTV dikedua gedung itu sudah mati?" tanya Papa Hanna padanya
"Kalian lupa jalan-jalan di dekat perkantoran situ ada banyak CCTV? Ada 1 mobil yang terpakir di depan gedung acara selama berjam-jam, saat bom meledak mobil tersebut langsung pergi dan itu mobil yang sama digunakan oleh Tiara."
"Kau yakin?" tanya Papa Hanna kembali memastikannya.
"Tentu saja, Tiara merupakan dalang dibalik semua kejadian itu." ujar Papa Yeni dengan tegas.
"Kau benar. Aku juga sudah merasa kalau wanita itulah pelakunya. Tapi, kita tidak ada bukti yang mendukung hal itu." jelas Om David pada kedua temannya.
"Tidakkah kalian merasa aneh pada Tiara? Kenapa dia begitu dendam pada kita dan juga wanita itu bisa terlihat akrab dengan Livia. Bukankah itu sangat aneh?"
"Tiara akrab dengan Livia?" Om David menatap bingung. "Apa maksudnya itu?"
"Puteramu tidak membicarakan kejadian semalam itu? Tiara tiba-tiba saja datang lalu menampilkan video yang berisi percakapan kita untuk membunuh Livia waktu itu."
-To Be Continue-