Our Love

Our Love
Episode 122



Janson keluar dari kafe bersamaan dengan Jimmy yang baru saja datang. Dengan segera pria itu datang menghampiri Livia, "Siapa pria itu?"


"Temanku. Ada apa?"


"Aku baru melihatnya." ujarnya duduk di depan Livia.


"Apa yang mau kau bicarakan?"


"Kau masih membenciku?"


"Kenapa aku harus membencimu?"


Jimmy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Mengenai apa yang sudah orang tuaku lakukan pada keluargamu, termasuk dirimu."


"Langsung saja katakan apa tujuanmu kesini. Apa keluargamu masih belum puas mengambil semua kekayaan Wijaya? masih mau menambah lagi?"


Jimmy terdiam sejenak, tidak menyangka akan pertanyaan yang diberikan oleh gadis itu. Meskipun memang benar adanya, tapi tidak seharusnya ia menghina orang tuanya. Seburuk-buruknya perbuatan, mereka tetaplah orang tua yang sudah membesarkannya sampai saat ini.


"Aku datang kepadamu dengan baik-baik, kenapa kau jadi bersikap seperti itu padaku?"


Livia tertawa sinis, yang benar saja.


Setelah apa yang terjadi dalam hidupnya, pria itu masih berharap bahwa ia akan menghormati orang-orang yang merupakan pelaku dibalik kematian orang tuanya dan seluruh harta Wijaya.


Yang menjadi korban dan hidupnya paling sengsara adalah dirinya. Sungguh, niat awalnya hanya ingin bersantai dan mencoba merelakan semuanya. Saat pria ini datang langsung merusaknya.


Astaga..


Livia juga tidak ingin membuat drama pertengkaran secara langsung, yang bisa berakhir direkam oleh oknum tak bertanggung-jawab dan menyebarkannya ke dunia maya hingga berakhir menimbulkan masalah baru untuknya.


Gadis itu melipat kedua tangannya, "Kau ingin aku berbicara sopan pada mereka?"


"Bukankah memang kita sejak kecil diajarkan untuk bersikap dan berbicara sopan pada orang yang lebih tua?"


Livia mengganguk pelan, "Ya. Itu memang benar, lalu kenapa?"


"Untuk apa aku harus minta maaf? aku menanyakan hal yang sebenarnya?"


"Tapi, itu tidak sopan."


"Kau ingin aku bersikap seperti apa? apakah seperti, 'Oh ya ampun, Jimmy kau datang kemari karena membutuhkan uang? Uang keluargaku yang kalian curi masih kurang ya? Mana surat atau dokumen yang perlu aku tanda tangani?', kau ingin aku bersikap begitu?"


"Bukan itu maksudku, tapi aku..." ucapan Jimmy terpotong karena gadis itu sudah berbicara terlebih dahulu.


"Jelaskan padaku, apakah ada peraturan dimana kita harus bersikap dan berbicara hormat pada orang yang sudah membunuh kedua orang tua kita? Tidak ada 'kan? Oleh karena itu, jangan berharap aku akan bersikap dan berbicara sopan tentang mereka."


"Maka dari itu, aku datang untuk meminta maaf atas perbuatan mereka."


Livia tersenyum sinis, "Kenapa baru sekarang? Ah, sudahlah tidak itu tidak penting. Kalian minta maaf juga tidak akan menghidupkan kembali orang tuaku. Jika kau sudah selesai, silahkan pergi."


Jimmy mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, kemudian berbisik, "Kalau kau mengetahui semuanya, kenapa kau tidak melaporkan mereka ke polisi?"


"Kau tidak perlu tahu."


"Kau masih terus berkerja sama dengan Tiara?"


"Tentu saja. Memangnya kenapa?"


Jimmy menjauhkan wajahnya dari Livia, "Aku hanya peringatkan agar jangan terlalu dekat dengan wanita itu."


"Kau tidak ada hak mengatur pertemananku, bahkan Robert saja tidak pernah melarang dengan siapa aku berteman. Jika sudah tidak ada lagi hal yang kau bicarakan. Silahkan pergi."


Jimmy hanya berdiri, menggeleng pelan manatap Livia, "Kau bukanlah Livia yang aku kenal dulu."


Disaat pria itu ingin keluar, langkah kakinya terhenti oleh ucapan Livia, "Gadis yang kau kenal sudah mati sejak ditinggal dan dikhianati oleh orang-orang kepercayaan keluarganya." setelah mendengarnya, Jimmy segera pergi.


- To Be Continue-