Our Love

Our Love
Part 28 : Pernyataan Cinta



"Eh, memang benar ya kalau Pak Rahmad sudah tidak berkerja lagi disini ?" Livia terkejut mendengar ucapan dari salah seorang karyawan kantor entah dari devisi mana.


"Iya. Aku dengar karena dia mau pensiun gitu." Jawab temannya yang lain.


*Kenapa bisa tiba-tiba seperti ini ?


Padahal sedikit lagi aku akan mendapatkan informasi yang aku cari selama ini.*


Tanpa Livia sadari, ia sudah berada di lantai paling atas. "Pagi Mba Livia."


"Oh, pagi juga Mas Joko." Gadis itu mencoba tersenyum.


"Mba Livia kenapa melamun saja dari tadi ?"


"Tidak apa-apa kok. Saya mau buat kopi susu dulu ya."


"Tidak usah mba. Biar saya buatkan nanti saya antarkan ke dalam."


"Tak apa Mas Joko, saya bisa buatkan sendiri dan makasih atas tawarannya."


"Ya sudah. Saya kembali berkerja dulu ya mba."


"Iya." Begitu Livia selesai membuatkan kopi susu ia ke ruangan kerjanya. "Pak Jimmy sudah datang?"


"Sudah berapa kali saya bilang panggil saya Bapak Alexander."


"Saya sudah terbiasa memanggil Pak Jimmy." Livia menaruh kopi dan roti yang dibelinya tadi sebelum ke kantor.


Jimmy mendekat dan duduk di depan Livia sambil memegang kopinya, "Beli apa ?"


"Brownies dan 2 cheese cake. Kan belum jam kerja jadi saya mau ngopi dulu. Tak apa-apa kan ?"


"Tidak apa, asalkan saya minta 1 cheese cakenya."


"Ambil saja. Roti kesukaanmu tidak berubah ya dari dulu sampai sekarang."


Ternyata dia masih mengingatnya.


"Memang kedua roti ini favorit saya, pak." Livia tersenyum.


"Aku jadi ingat kau dulu pernah berhari-hari ngambek padaku karena brownies terakhirmu aku makan."


"Bapak memang menyebalkan saat itu."


Jimmy tersenyum memakan cheese cakenya, "Jikalau kita tak berpisah 12 tahun yang lalu. Akan seperti apa kita sekarang?"


Livia menatap bingung, "Mungkin akan seperti sekarang tetap berteman baik."


"Aku malah membayangkan seandainya kita tak berpisah dulu mungkin sekarang kita sudah punya anak."


Anak ? Dari pria di depannya ini ? Yang benar saja. Tidak pernah sekalipun Livia memikirkan hal itu.


Gadis berkacamata itu terdiam sejenak, "Jangan berbicara yang aneh-aneh." Tak bisa dipungkiri wajahnya memerah.


"Kenyataan. Kau tak tahu ? dulu aku sangat menyukaimu."


Ya Aku tahu waktu kecil kau sering mengucapkannya.


Livia tertawa kecil, "Itu hanya cinta monyet pak."


"Bahkan sampai sekarang." Livia terdiam menatapnya. "Aku tak suka jika ada pria lain di dekatmu termasuk Robert. Aku juga tak suka kenyataan bahwa kau akan menjadi adik angkatku nantinya."


Aku malah lebih tak ingin terikat apapun dengan keluargamu.


"Bukankah waktu itu bapak menyetujuinya?"


"Memang namun saat kita tak sengaja berciuman aku rasa memang aku masih belum bisa melupakanmu dan rasa cinta itu masih ada."


"Tapi saya sama sekali tidak mencintai bapak."


"Kau masih mencintai Robert ?"


Ya. Sangat.


"Tidak juga. Saya sedang tak ingin memikirkan masalah percintaan dulu pak."


Jimmy tersenyum kecil, "Tak masalah aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."


Yang benar saja.


"Aneh sekali kenapa tiba-tiba jadi kau menyatakan cinta seperti ini." Livia hanya bisa menggeleng.


Jimmy tersenyum, "Mungkinkah karena kau muncul lagi di hadapanku secara tak sengaja membuat aku percaya bahwa kita memang harus bersama ?"


Livia bangun dan membereskan mejanya. "Pak, sudah saatnya saya kembali berkerja."


"Berkerja saja. Saya ingin disini melihat bagaimana kau berkerja."


"Pak. Tolonglah pergi sana. Saya tidak bisa fokus kalau diliatin seperti itu."


"Panggil Alexander dulu. Baru saya pergi."


"Pak Jimmy."


"Pak Alexander."


Livia memilih mengabaikannya. Pagi-pagi pria itu mengajaknya berdebat. Ia membuka computer dan mulai mengedit mengabaikan Jimmy yang menatapnya.


Tok.. Tok..Tok..


Jimmy segera pindah ke mejanya, "Masuk."


"Pak. Setengah jam lagi, bapak akan meeting mengenai acara ulang tahun perusahaan nanti sekaligus untuk memutuskan siapa pengganti dari Pak Rahmad. Oh iya, Pak David dan istrinya juga akan datang."


"Kakak..." Tasya berlari masuk ke ruangan memeluk kakaknya. Papa dan mama mereka juga datang.


"Baiklah. Setengah jam lagi saya akan kesana." Ujar Jimmy.


"Saya permisi dan menyuruh OB untuk membawakan minuman." Bu Jasmine pergi.


"Papa, cepat sekali pulangnya katanya pergi selama seminggu ?" Tanya Jimmy.


"Urusannya lebih cepat selesai yang kami kira. Ya sudah kami memutuskan untuk kembali kesini."


"Papa, kenapa memecat Pak Rahmad tanpa sepengetahuanku ?"


Livia terkejut mendengarnya. OB pun datang mengantarkan minuman setelah selesai mereka pergi.


"Papa tidak memecatnya. Dia memang sudah lama mengajukan pensiun dari perusahaan ini. Jadi, baru kemarin papa kabulkan."


"Lalu, siapa penggantinya ?"


"Tasya. Adikmu." Pak David berjalan menghampiri Livia. "Bagaimana dengan perkembangan videonya ?"


"Baru jadi setengah Pak David."


"Panggil om atau papa saja. Sebentar lagi kan kau akan jadi anak angkat kami."


"I..iya Pa."


"Bisa papa melihatnya ?"


"Bisa." Livia memutarkan video yang sudah dia edit berdasarkan atas kemauan dari Jimmy.


"Pa.." Ucapan Jimmy membuat Livia berhenti memutarkan videonya.


"Ada apa ?"


"Jika aku tak ingin Livia menjadi adik angkatku, bagaimana ? Aku mau dia menjadi istriku."


*Pria ini sudah di tahap paling gila...


Menjadi istrinya ?


Aku tidak akan mau.*


"K..kenapa kau tiba-tiba meminta hal itu ?" Semua orang disana terdiam tak menyangka akan ucapan yang dilontarkan oleh puteranya.


"Bukankah dulu memang aku ingin dijodohkan dengan dia namun tak jadi karena kami berdua berpisah karena aku pergi ke luar negeri."


"Tidak. Mama tidak menyetujui jika kalian menikah. Livia masih sangat muda. Kalau kau ingin cepat menikah, papa dan mama bisa carikan isteri untukmu."


Syukurlah, calon ibu angkatnya juga menolaknya.


"Tapi, aku mencintainya."


"Aku tidak mencintaimu." Balas Livia.


"Bukankah papa dan mama akan sangat senang sekali jika mendapatkan menantu seperti Livia."


"Sekali tidak. Tetap tidak Jimmy. Jangan membantah. Papa akan menjodohkan Livia dengan Robert."


-To be Continue-