Our Love

Our Love
Part 42



"Baik bos." Mereka berdua keluar mengikuti Livia yang masuk ke dalam sebuah gedung. Salah seorang diantara mereka melihat keadaan sekeliling dan seorang lagi pergi entah kemana. Begitu keadaan terlihat sepi pria kurus berbaju hitam mengeluarkan rokok dan menghisapnya. Asap yang keluat dari rokok tersebut otomatis membuat alarm kebarakan berbunyi membuat semua orang berlarian keluar. Livia yang mencoba untuk keluar langsung dipukul dari belakang hingga pingsan oleh anak buah pria bertubuh besar dan membawanya ke dalam mobil yang tadi mereka naiki yang tengah parkir di pintu belakang


"Bagus. Sekarang kita harus kembali ke tempat persembunyian lalu menukar gadis ini dengan wanita bernama Tiara itu."


"Apakah boss besar tidak akan marah ??" (Anak buah 1)


"Kalau dia tidak tahu ya tidak akan apa-apa."


"Bukankah gadis ini yang tengah jadi perbincangan hangat ?" (Anak buah 2)


"Maksudnya ?"


"Dia.. Livia Wijaya." (Anak buah 2)


"Lalu?"


"Boss lupa, 12 tahun yang lalu pemilik perusahaan Wijaya yang terkenal itu mengalami kecelakaan mobil hingga meninggal dan gadis ini adalah ahli waris satu-satunya dari perusahaan tersebut yang selama ini dikira sudah meninggal bersama orang tuanya."


"Apa hubungannya kau memberitahu hal itu ?" (anak buah 1)


"Hanya merasa aneh saja 12 tahun tanpa kabar dan sekarang berita itu muncul secara tiba-tiba." (anak buah 2)


"Ash.. justru berita itu muncul karena wanita bernama Tiara itu yang menyuruh anak buahnya untuk mengangkat berita itu kembali." (anak buah 1)


"Kalau sampai perusahaan Wijaya juga masih ada berarti kemungkinan besar gadis ini akan jadi inceran para pengusaha kaya yang akan merasa tersaingi. Kasihan juga gadis ini." (Anak buah 2)


"Dasar bodoh, kenapa kau kasihan pada orang lain tidak ada untungnya buat kita juga." Tidak terasa mereka tiba di sebuah tempat persembunyian yang berada di pinggir kota.


"Kalian sudah mendapatkannya ?" Tanya Tiara kepada anak buahnya yang baru.


"Sudah." Jawab salah seorang diantara mereka.


"Cepat lepaskan aku dan tukar dengan gadis ini." Mereka menurutinya. Dengan segera mereka melepaskan ikatan di tangan dan kaki Tiara lalu menggantikannya dengan Livia yang masih pingsan kini terduduk dengan kedua tangan diikat ke belakang, kaki diikat, mulut ditempelin lakban hitam dan matanya ditutup kain hitam.


"Kau memiliki dendam khusus pada gadis ini ?"


Tiara mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya pada mereka, "Jangan banyak tanya. Ini uang kalian. Dan sekarang aku harus segera pergi dari sini."


********


Berulang kali Jimmy menelepon Livia namun tidak ada jawaban. "Ash.. kemana dia pergi ? ia mematikan panggilan teleponnya. "Coba kau lacak ada dimana Livia berada?" Perintahnya pada Bu Jasmine.


"Baik pak."


Jimmy menelepon seseorang, "Yeni, Kau tahu dimana Livia berada ?"


"Kau kangen padanya ?"


"Atas dasar apa aku harus memberitahumu ?"


"Sudah tiga jam ini dia pergi."


"Kau bisa tanya Robert."


"Dia juga belum ada di kantor, ponselnya tak bisa dihubungi."


"Haduh.. Nanti aku WA alamat tempat Livia pergi." Yeni mematikan panggilannya. Begitu mendapatkan alamat, Jimmy langsung pergi. Begitu tiba disana, ia tidak dapat menemukan tanda-tanda akan adanya Livia disana. Dengan segera ia menelepon Yeni, "Aku sudah datang keaana dan tidak ada Livia."


"Sudah pulang kali."


"Ponselnya tak bisa aku hubungi."


"Kau sudah memeriksa CCTV disana ? Ya, sekedar memastikan apakah orang disana berbohong atau tidak."


"Belum. Kau kira mudah mendapatkan ijin untuk melihat CCTV mereka."


Yeni mendesah pelan, "Haduh. Kau kan bisa menggunakan koneksimu. Gimana sih. Aku dengar tempat tersebut milik temanmu sendiri."


"Kau dengar atau kau menyuruh bawahanmu untuk mencari semua data tentangku ?"


"Aku sibuk. Bye." Yeni menutup teleponnya secara sepihak.


"Ash.. dasar wanita tua." Jimmy menelepon temannya dan menceritakan semuanya walau dengan sedikit kebohongan. Yang pada akhirnya, ia bisa mendapatkan ijin untuk melihat CCTV gedung tersebut.


"Kenapa semua orang pada keluar pak ?" Tanya Jimmy pada salah seorang staff yang berkerja untuk memantau CCTV.


"Oh itu, tadi ada bunyi alarm kebakaran mas. Jadi pada keluar. Tapi, anehnya begitu di cek tidak ada tanda-tanda kebakaran dan kami tidak tahu siapa yang membunyikan alarm tersebut."


Jimmy mematap 1 video yang berada di paling ujung CCTV, "Itu teman saya pak. Bisa di zoom ?"


****


"Apakah gadis itu masih meronta minta dibebaskan ?" Ujar papa Hanna kepada keempat anak buahnya.


"Tidak bos. Kami sudah berikan dia makanan yang di dalamnya terdapat obat tidur." Ujar salah satu dari mereka yang berbohong.


"Kita harus segera menyingkirkan gadis itu. Aku tidak mau dia bebas dan membuat masalah yang akan merugikanku kelak."


"Boss ingin kami membunuhnya ?" Tanya salah seorang diantara mereka.


-To be Continue-