
“Mau.” Ujar Livia antusias. Robert pun memutar lagu tersebut. Selama perjalanan dalam keadaan yang masih hujan derasa. Mereka terdiam mdengarkan lagu itu.
“Bagaimana kau suka ?” Tanya Robert setelah lagu itu selesai diputar.
Livia mengganguk, “Aku suka. Nanti kau kirimkan lagunya ke ponselku ya.” Pintanya.
“Baiklah, nyonya Robert.” Ujar Robert sambil tersenyum.
Gadis itu membuka ponselnya, "Ada satu certa pendek aku mau baca dulu ya." Ujar Livia agar Robert tidak menggangunya nanti.
"Kau baca dimana sih ?" Tanya Robert, "Apakah itu lebih penting dariku ?"
"Tentu saja untuk sesaat hehe." Ujar Livia terkekeh kecil, "Aku baca di Mangatoon. Disana ada banyak novel yang
bagus-bagus juga komik."
"Ya sudah. Aku tunggu nanti kalau kau sudah selesai membacanya." Ujar Robert. "Tentang apa sih ?"
"Seorang pria yang menyukai seorang gadis." Jawab Livia. "Lebih ke romance bentar aku mau baca dulu."
Livia mulai membaca cerita itu.
"Memang apa bedanya Mangatoon dengan aplikasi-aplikasi yang lain ?" Tanya Robert penasaran.
"Nih, di aplikasi Mangatoon itu mereka bisa membantu kita untuk menerbitkan karya kita entah itu komik atau novel, yang memiliki lebih dari sepuluh juta pembaca dari seluruh dunia loh." Jelas Livia.
Robert membulatkan matanya, "Sungguh. Wah. luar biasa." Ucapnya.
"Bagus banget kan. Sebentar ya aku mau baca dulu." Ujar Livia. Stelah beberapa puluh menit berlalu.
"Sudah selesai ?" Tanya Robert.
"Sudah.. aduh.. romantis banget dah." Puji Livia.
Robert terkekeh kecil, "Bagaimana jika kita berakting ? Kau mau tidak ?"
"Akting ? aku tidak pandai dalam hal itu." Jawab Livia.
"Kau tinggal ikuti saja alurnya gimana. Dari pada kita bosan karena jalanan macet." Saran Robert.
"Baiklah tentang apa ?" Tanya Livia.
"Seorang pria yang mau mendapatkan gadisnya agar menerima pernyataan cinta juga lamarannya." Ujar Robert.
Livia tertawa kecil, "Aneh sekali sih."
"Kau mau atau tidak ?" Tanya Robert.
"Baiklah, kau mulai akting dulu nanti aku balas." Jawab Livia.
"Baiklah." Ujar Robert yang terdiam sesaat, “Besok adalah hari sidangmu kan ?” Lanjutnya yang mulai memasuki drama pura-pura mereka.
Livia mengganguk pelan mulai ikut berakting, "Tentu saja."
“Setelah lulus nanti. Kau berniat kerja dimana ?” Tanya Robert yang masih akting.
“Kenapa tanya seperti itu ?” Bukannya menjawab Livia malah bertanya balik.
“Jawab saja.” Ujar Robert.
“Aku akan pergi liburan selama 6 bulan.” Kata Livia.
“Oh begitu. Aku sendiri berniat untuk menikahi gadis yang aku sukai.” Kata Robert.
Livia terdiam sesaat, "Lamar saja dia."
“Apakah gadis itu akan menerima lamaranku ?" Tanya Robert padanya.
“Kau kaya, tampan, baik siapa pula yang menolaknya." Kata Livia.
“Bolehkah aku jujur ?” Tanya Robert.
“Apa itu ?” Livia bertanya balik.
“Sebenarnya aku tak memiliki pacar sama sekali. Yang kau lihat di kampus itu adalah adikku sendiri.” Ujar Robert.
“Kenapa kau harus mengatakan hal itu padaku ?” Tanya LIvia.
“Karena aku menyukaimu sejak lama.” Ujar Robert.
Livia menggangukan kepala, “Ohh begitu.. karena kau menyukaiku jadi kau menembak adikmu sendiri untuk membuatku cemburu gitu.”Livia terdiam sesaat, "Apa ? J..jadi.. kau menyukaiku ?"
Robert menggeleng pelan, “Astaga.. kenapa otakmu itu jadi lemot begini ?” Ujarnya sambil terkekeh.
“Ya !! kenapa kau jadi mengataiku ?” Ujar Livia tak terima.
“Memang benar.” Ucap Robert dengan jujur.
“Ash.. sana pergi. Aku lelah hari ini.” Kata Livia.
“Pergi tanpa tahu jawabanmu. No no no.” Ujar Robert yang masih kekeuh dengan pendiriannya.
“Tahu ah...” Ujar Livia yang sudah mulai malas membalasnya.
“Baiklah jika kau begitu maka aku anggap mulai sekarang kau adalah kekasihku ." Teriak Robert. Untunglah mereka di dalam mobil.
“Sejak kapan Robert The Most Wanted Guy di kampus yang terkenal ketampanan, cool dan penuh Kharisma menjadi laki-laki alay begitu ? Arggghh.,.. dan aku baru tahu jika sifat barunya itu adalah suka mengejek dan
mengajak berdebat. Ash jinjja.. Pernyataan cinta macam apa itu.. romantis kek, atau ga ditembak di depan semua orang gitu. Ini malah ngomong terus macam kereta api.” Gerutu Livia yang dapat di dengar oleh Robert.
Jujur.
Livia benar-benar tidak tahu harus berakting sepreti apa lagi.
Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Ohh jadi kau ingin aku menyatakan cinta di tempat romantis.” Ujar Robert.
“Macam hantu kau ini. Ahh.. hampir saja aku pingsan karena kaget.” Ujar Livia.
“Pingsan saja kalau begitu.” Kata Robert sambial terkekeh kecil.
“Mwo ??” Teriak Livia.
“Iya pingsan saja jadi aku bisa memberikanmu nafas buatan.” Jawab Robert.
“Berhenti mengajak berdebat dan berhenti membuatku takut karena muncul tiba-tiba seperti itu.” Ujar Livia.
“Aku tak mengajakmu berdebat ataupun mengagetkanmu. Aku hanya ingin memberitahumu jika aku sangat menyukaimu. Kalau kau ingin pernyataan cinta yang romantis baik.. Aku tarik kata-kataku tadi bahwa aku
menyukaimu jadi nanti akan aku katakan di tempat yang romantissss sekali.” Goda Robert padanya.
“Bagaimana bisa kau seenakjidatmu menarik kata-katamu ?” Tanya Livia.
“Bisalah. Aku yang mengucap maka aku bisa juga menariknya kembali dan mengucapkan kembali sesuka hatiku.” Ujar Robert.
“Tahu ah.. sana pergi aku lelah..” Balas Livia.
“Perlu aku gendong ?” Tawar Robert.
“Tidak usah.” Kata Livia.
“Kau tak perlu malu pada calon kekasihmu ini.. Ayolah..” Ujar Robert.
“Menyesal aku menyukaimu.” Kata Livia.
“Aku tak menyesal menyukaimu.” Ujarnya,
“Kau berbeda dari yang aku lihat selama ini.” Kata Livia.
“Kau juga berbeda dari yang aku lihat selama ini.” Ucap Robert.
“Berhenti mengikuti kalimatku.” Balas Livia yang tidak terima dari tadi pria itu terus menerus mengikuti kata-katanya.
Kenapa dia jadi kekanak-kanakan sekali ?
“Aku tak mengikuti kalimatmu.” Balas Robert yang tak mau kalah
“Aku mau pulang.” Jawab Livia.
“Aku tak mau pulang.” Balas Robert.
“Berhenti mengikutiku.” Ujar LIvia.
“Aku memang mengikutimu, kenapa ?” Tanya Robert.
“Pulang sana ke rumahmu.” Ucap Livia.
“Rumahku ada di hatimu.” Goda Robert padanya. Pria itu sangat suka sekali saat menggoda Livia.
“Aku serius ini sudah jam 10 malam.” Gerutu Livia yang muilai kesal.
“Aku juga serius rumahku itu ada di hatimu.” Jawab Robert sambil tersenyum padanya.
Semakin mereka berakting maka semakin ngaco alur ceritanya malah berujung berdebat begini.
“Dasar gila.” Ujar Livia.
“Aku memang gila karenamu sayang.” Ujar Robert menggodanya.
“Argghhh sana pergi...” Usir Livia padanya.
“Aku tak mau pergi.” Robert masih kekeh.
“Tidak..” Robert menjawab dengan singkat dan padat dan jelas.
“Aku membencimu.” Ujar Livia.
“Aku juga membencimu. benar-benar cinta maksudku.” Kata Robert.
"Robert !!" Teriak Livia.
“Ya.. sayang ?” Robert kembali menggodanya.
“Pulang sana ke rumahmu.” Ujar Livia.
“Rumahku ada di hatimu sayang.” Ucap Robert.
“Maksudku rumah aslimu.” Kesal Livia padanya.
“Katakan kau mencintaiku baru aku pulang.” Ujar Robert
“Aku akan menjawabnya jika kau menyatakan cintamu di tempat yang romantis.” Kata Livia.
“Ya.. sudah aku akan tinggal disini bersamamu.” Ujar Robert.
“Kau gila ?” Tanya Livia.
“Aku gila karenamu.” Jawab Robert dengan jujur.
Robert dan Livia tertawa satu sama lain. Sungguh lucu. "Ah.. sudah lah.. aku lelah berakting begitu. Cape." Ujar Livia.
"Iya.. iya.. Kita sudah mau sampai ke Villa kok. Kita hentikan saja akting gila ini." Ujar Robert yang disetujui oleh Livia.
*****
Tiara terduduk di ruang keluarga sambil menikmati teh hangat serta memandang ke arah luar yang dimana sedang turun hujan deras, “Kau habis dari mana saja tadi ?” Tanya Pak Rahmad (Ayah Tiara) pada puteri semata wayuangnya sambil duduk berhadapan dengannya.
“Aku habis menemui Pak David (Papa Jimmy) di dalam penjara.” Ujarnya dengan santai.
“Kenapa kau menemui pria itu di penjara ?” Tanyanya penasaran.
“Awalnya aku hanya ingin membicarakan sesuatu akan tetapi, aku malah mendapatkan sebuah rekaman menarik antara Papa Yeni dengan Pak David (Papa Jimmy) dan aku sudah merekamnya. Jika suatu saat nanti, mereka berani macam-macam padaku akan aku sebarkan semua ini ke masyarakat biar mereka merasakan akibatnya.” Ujar Tiara dengan tersenyum puas.
Tiara Terduduk di ruang keluarga sambil menikmati teh hangat serta memandang ke arah luar yang dimana sedang turun hujan deras, “Kau habis dari mana saja tadi ?” Tanya Pak Rahmad (Ayah Tiara) pada puteri semata wayuangnya sambil duduk berhadapan dengannya.
“Aku habis menemui Pak David (Papa Jimmy) di dalam penjara.” Ujarnya dengan santai.
“Kenapa kau menemui pria itu di penjara ?” Tanyanya penasaran.
“Awalnya aku hanya ingin membicarakan sesuatu akan tetapi, aku malah mendapatkan sebuah rekaman menarik antara Papa Yeni dengan Pak David (Papa Jimmy) dan aku sudah merekamnya. Jika suatu saat nanti, mereka berani macam-macam padaku akan aku sebarkan semua ini ke masyarakat biar mereka merasakan akibatnya.” Ujar Tiara dengan tersenyum puas.
“Ayah harap kau tidak bertindak gegabah nantinya.” Ujar Ayah Tiara (Pak Rahmad)
“Iya ayah.” Kata Tiara.
“Lalu, kau akan melakukan apa lagi ?” Tanya ayahnya (Pak Rahmad).
“Aku ? Aku akan menginfokan sedikit demi sedikit bukti yang menunjukkan bahwa orang tua Yeni dan orang tua Hanna memang merencanakan kematian orang tuanya.” Jelas Tiara.
******
“Kalan dari mana saja ?” Tanya Nia saat melihat Livia dan Robert baru saja tiba di Villa.
“Jalanan macet tadi, Yeni. Kalian sudah lama pulangnya ?" Tanya Livia Balik.
“Iya. Rencana mau jalan-jalan lagi tapi hujan deras banget mana tidak reda-reda ya sudah males kemana-mana juga.” Jelas Narul.
“Aku sepertinya mau mengerjakan laporan OJT yang tinggal sedikit lagi deh.” Ujar Livia.
“Ikut..” Kata Narul. “Nanti aku ke kamar-mu dan Ai Chan ya.”
“Oke.” Kata Livia. Disaat Livia tengah bersiap untuk mengerjakan laporan OJT (On The Job Training) miliknya, ponselnya berdering ada chat masuk dari Tiara yang memperlihatkan sebuah foto antara papanya dengan keempat
orang keprcayaannya.
Tidak...
Ini tidak mungkin...
Ini...
Dua orang itu adalah....
Papa Yeni
Dan..
Papa Hanna..
Tidak..
Ini tidak mungkin..
Kenapa mereka berdua diam saja ?
Sungguh dia tidak menyangka akan semua hal yang baru saja dia ketahui.
Jadi, ini maksud dari perkataan Tiara.
Jika seandainya papa Jimmy (Pak David) bisa saja berniat membunuh orang tuanya dalam kecelakaan itu, maka bisa saja...
Papa Hanna dan Papa Yeni juga terlibat dalam hal itu.
Jadi selama ini..
Yeni, Hanna dan Jimmy sangat membenci Tiara karena hal ini ?
Ya Tuhan...
Livia sungguh tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Berita ini terlalu membuatnya syok.
Dengan segera Livia menelepon Tiara, "Apa maksudmu mengiriimkan hal itu ?" Tanyanya.
"Aku hanya ingin menceritakan semua hal yang memang sudah harusnya kau tahu. Sudah jangan menelpon dulu. Aku sibuk. Lebih baik kau pikirkan dulu masalah itu, kalau aku sempat akan aku hubungi lagi." Ujar Tiara lalu menutup teleponnya secara sepihak.
Ada apa dengan wanita ini ?
Kini Livia benar-benar tidak bisa fokus akan laporan OJT (on The Job Training). Pikirannya terfokus pada foto yang baru saja dikirim. Tak lama, Narul masuk ke dalam kamar Livia dan Ai Chan bersama dengan teman-temannya yang lain. "Mereka bilang mau disini saja karena bosan di luar masih hujan." Ujar Narul.
Livia hanya terdiam sesaat lalu tersenyum, "Tak apa. Agar kamar ini juga tak terlalu sunyi banget." Ujarnya.
"Tapi, kita hanya bermain game atau menointon drama saja ya. Tidak apa-apa kan ?" Tanya Ai Chan
Livia tersenyum mengganguk, "Iya tak apa-apa kok." Ujarnya. Tanpa mereka sadari, gadis itu mengambil ponsel sambil chat ke Robert.
Livia : Tadi Tiara mengirimkan foto ini padaku. Aku sudah telepon untuk tanya apa maksudnya. Tapi, dia malah mengatakan dia sedang sibuk.
Robert : itu bukankah papa Yeni dan papa Hanna, satu lagi siapa ?
Livia : itu Pak Rahmad orang yang aku cari selama ini.
Robert :Kau tenang dulu. Ada teman-temanmu kan disana. Kau jangan gegabah.
Livia: ya.
"Livia. Kau baik-baik saja ?" Tanya AI Chan padanya.
"Iya wajahmu kenapa pucat begini ?" Tanya Nia khawatir. "Kau sakit ? Sebaiknya kau istirahat dulu. Jangan dipaksakan untuk mengerjakan laporan OJT (On The Job Training) dulu." Sarannya.
"Aku akan memanggil Robert kemari." Ujar Narul keluar dari ruangan itu.
"Aku tidak apa-apa sungguh." Ujar Livia mencoba untuk tidak membuat teman-temannya khawatir. Tak lama, Robert dan Jimmy datang bersama dengan Narul.
Robert segera mengecek keadaan Livia dan mengatakan, "Kau sepertinya kelelahan. Ayo isitrahat dulu." Ujarnya menggendong Livia ke kasur.
Livia terdiam sesaat lalu mengatakan, "Ya. Mungkin aku yang terlalu lelah saja akan semua masalah ini."
"Kita tinggalkan kalian berduaan ya. Cepat sembuh ya Liv." Ujar Hanna bersama yang lainnya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bisa kau kunci pintunya ?" Pinta Livia pada Robert.
Pria itu menurutinya dan berbalik menghampiri Livia, "Sudah.." Ujarnya.
"Aku tidak menyangka ternyata papa Yeni dan Hanna adalah orang kepercayaan papa juga. Jadi, selama ini Yeni dan Hanna mengetahui hal itu ? Pantas saja dia, Yeni dan Jimmy sangat membenci Tiara dan ingin me mbunuhnya. Aku harus bagaimana ? Robert..."
"Bagaimana kau aku nyanyi kamu mau ?" Tanya Robert membuat Livia tersenyum.
"Terserah": Ujarnya.
Livia terdiam.
Sepertinya memang hari senin dia harus meminta ijin untuk tidak masuk kantor.
Ada beberapa hal yang ingin dia kerjakan.
Gadis itu kini tidak tahu..
Harus bersikap bagaimana jika dia nanti bertemu dengan Yeni dan Hanna.
Terlebih lagi setelah mengetahui hal mengejutkan ini.
~To Be Continue~