
Apakah jika kita menentang atau melawan atau bahkan tidak setuju dengan perbuatan orang tua kita yang jahat dapat juga disebut sebagai anak yang durhaka?
"Dan sekali lagi papa ingatkan untuk menjaga jarak dari Livia. Gadis itu sudah tidak ada gunanya lagi bagi kita."
"Terserah." Jimmy berhenti makan, "Aku sudah kenyang. Silahkan kalian melanjutkan makannya. Aku mau naik keatas dulu." ujarnya berjalan menaiki tangga.
Di dalam kamar, Jimmy segera mengunci pintu kemudian menuju ke kasurnya. Tidak ada satupun yang mengetahui ada kenangan dari dulu masih disimpan sampai sekarang, dikeluarkannya kotak kecil berwarna cokelat muda yang sudah berdebu.
Diusap pelan kotak kecil tersebut, begitu dibuka tersimpanlah foto-foto antara seorang anak laki-laki dan anak perempuan.
Ya.
Itu adalah foto antara dirinya dengan Livia saat masih kecil, diambilnya sebuah foto dimana saat gadis itu berulang tahun yang ke 8 dengan wajah yang penuh krim kue.
Jimmy tersenyum kecil saat mengingat kejadian tersebut. Astaga, ia sudah menyukai gadis itu sejak kecil dan tak menyangka rasa itu masih ada sampai sekarang bahkan setelah mereka terpisah selama beberapa tahun.
Entah sampai kapan ia akan bertahan dengan perasaan ini. Mungkin sebagian orang akan berpikir untuk mengungkapkannya saja dan terimalah semua resikonya apapun itu.
Bagi Jimmy, berbicara itu memang gampang namun untuk melakukannya sangat sulit. Saat ia menyadari bahwa gadis itu semakin jauh dari jangkauannya dan tidak bisa digapai.
Terserah orang mau berkata apa tentang dirinya, Jimmy menerima hal itu. Tapi, hanya satu yang sampai sekarang menjadi pertanyaan dalam benaknya.
Akan berakhir rasa sakit ini?
Rasa sakit saat melihat Livia berada dalam pelukan pria lain.
Kenapa sih Tuhan memberikannya rasa ini?
Dia tahu bahwa Livia tidak hanya satu-satunya wanita di dunia ini.
Tapi...
Untuk sebagian orang mungkin akan mengerti akan apa yang ia rasakan.
Harus Jimmy akui, bahwa ia tidak sanggup merelakan Livia dengan pria lain.
*****
Bunyi notifikasi membuat Livia terhenti saat gadis itu ingin memesan makanan di sebuah cafe, ternyata ada chat masuk dalam geng dirinya dan teman-teman.
"Selamat datang di Star Cafe, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga kasir kafe tersebut padanya.
"Mau pesan brownies dan ice cafe latte saja."
Petugas kasir tersebut mengulang kembali pesanan tamunya sambil menghitung biayanya, "Totalnya 48 ribu. Mau bayar cash atau debit?"
"Cash saja." Livia mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya ke kasir. Sembari menunggu kembalian tersebut, ia membuka grup chat.
Narul : Guys, kangen... kapan nih bisa ketemuan?
"Ini kembalian anda dan ini nomor antriannya. Nanti petugas kami yang akan mengantarkannya ke meja anda." jelas penjaga kasir.
Livia mengucapkan terima kasih dan memilih untuk duduk di dekat jendela kafe. Ia terdiam memandang chat dari Narul. Memang benar, sudah lama juga mereka tidak bertemu dan berkumpul lagi.
Terlebih lagi insiden dirinya dengan Nia, sejak kejadian itu mereka sudah tidak berkumpul bersama-sama.
Mata cokelatnya memandang seorang anak jalanan yang tengah memandang ke dalam kafe ini, dengan baju yang kotor, kemudian didatangi oleh seorang pelayan yang sepertinya berusaha untuk mengusirnya. "Ini pesanan anda, nona." ujar seorang pelayan mengantarkan makanannya.
Livia berbicara pelan dengan pelayan itu, "Minta tolong, sepertinya anak itu terlihat kelaparan." Gadis itu mengeluarkan sejumlah uang, "Tolong berikan makanan dan minuman untuknya. Tapi, tolong jangan katakan kalau itu dari saya."
Pelayan itu tersenyum, "Baik nona. Kalau begitu saya permisi." ujarnya menghampiri pelayan lain yang mengusir anak kecil berpakaian lusuh kemudian berbisik. Petugas yang dibisik melirik sekilas ke arahnya kemudian pergi. Pelayan suruhan Livia tadi berbicara sebentar kepada anak kecil tersebut. Tak butuh waktu lama, ia datang memberikan makanan dan minuman padanya.
Senyuman itu muncul dari wajah anak kecil tersebut, ia berterima kasih lalu pergi. Dengan perasan mood yang bagus, Livia membalas chat dari Narul tersebut.
^^^Livia : Ayo, kapan kita mau ketemu?^^^
-To Be Continue-